Rabu, 17 Jan 2018
baliexpress
icon featured
Features

Ayu Laksmi dari Sekala Niskala hingga Pengabdi Setan (6-Habis)

Tipsnya, Bakat Itu Cuma 10 Persen

Sabtu, 13 Jan 2018 08:00 | editor : I Putu Suyatra

Ayu Laksmi dari Sekala Niskala hingga Pengabdi Setan (6-Habis)

IBU SEREM: Meski tampilannya serem, sosok Ayu Laksmi yang menjad ibu dapat banyak cinta dari pecinta film. Keluarganya pun minta berakting di halaman rumahnya di Singaraja. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Ada faktor paling sulit dilakoni Ayu Laksmi saat memerankan tokoh Ibu di Pengabdi Setan. Di samping itu, ada misteri yang dialami saat syuting.

Ayu Laksmi tidak bicara, tidak berdaya, tidak ada senyuman. Itulah hal yang paling sulit dilakukan. Dikatakannya, akan lebih mudah berekspresi jika dengan bersuara, juga lebih mudah jika dengan menggerakkan tubuh.

"Hal sulit lainnya nelik. Tiyang ten taen nelik (melotot), takut  amon nyingakin nak nelik,"ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, pekan kemarin.

Soal kejadian mistis, Ayu Laksmi.mengaku apakah benar pendengarannya atau tidak.
"Saat syuting , saat adegan awal komat kamit membaca mantra sambil nangis, langsung terdengar suara anjing satu kampung mengaum.  Apa yang terdengar itu suara anjing beneran ya,  seperti ikut bernyanyi," tanyanya.

Kejadian aneh lainnya? Seminggu  sebelum syuting , tiap malam ketindihan, tapi hal itu diambil  positifnya, mungkin karena agak lelah.

Sehari sebelum berangkat ke lokasi syuting, ketika melintas di tangga beberapa saat lukisan besar jatuh . "Tapi saya melintas dan sudah masuk kamar, gak berpikir lukisan yang jatuh, saya tidur saja," ujarnya.

Diakuinya, banyak teman mengaku mengalami kejadian aneh, tapi tak mau membicarakannya.
Diakuinya, semua ada suka dukanya dalam versi yang berbeda. Hanya jika film dibutuhkan kesabaran lebih ekstra waktu untuk menunggu.

"Saya akui Joko Anwar adalah sutradara yang genius, boleh dikatakan sangat membebaskan semua pemain berekspresi dengan caranya masing-masing," pujinya.

Joko Anwar juga punya cara pendekatan yang sangat baik, mendasari karakter asli dari masing-masing pemain, bahkan juga untuk seluruh crew film yg berada di belakang layar.  "Hingga sejak awal semua orang yang terlibat jadi merasa ikut memiliki film ini.

Tinimbang film, lanjutnya, nyanyi sebenarnya lebih berat, karena ada karya, identitas, image yang berkaitan dengan diri yang sebenarnya, yang harus dipertahankan dan dipertanggungjawabkan.

"Bahkan seringkali dalam pertunjukkan, saya pula berfungsi serta memikirkan banyak hal, mulai urutan lagu, aransemen live, tata suara , tata lampu, story board, visual, kostum, desain panggung, dan.lainnya," urainya. Walau nantinya akan dikerjakan oleh orang lain, lanjutnya, tapi basic konsepnya harus  dirancang.

Namun dalam film, lanjutnya, justru seseorang  harus rela untuk berperan sebagai orang lain.
Namun, apapun yang  dilakukan sebelum mengiyakan sebuah project, entah musik, film , teater , Ayu Laksmi harus memastikan dirinya untuk commit terlebih dahulu agar dapat melakukannya secara total, tanpa beban, dengan seluruh kesadaran yang utuh dan pikiran yang bening, hingga ketika berproses diri benar-benar telah tersedia siap. Dengan demikian, lanjutnya, hati tetap bahagia sekalipun dalam dunia yang baru dan bertemu dengan orang-orang baru.

"Saya berusaha untuk  tak terlalu terobsesi dengan apapun. Saya menjalani kehidupan apa adanya, menerima dengan seluruh kesadaran, baik itu kritik juga pujian, apresiasi," paparnya. Namun, sedapat mungkin , lanjutnya, tetap berupaya merawat semangat yang datang dari diri sendiri , berdasarkan talenta yang dikaruniakan oleh-Nya. Bekerja sesuai dengan guna dan karma, menempatkan diri pada lingkungan yang tumbuh.

Dikatakannya, saat ini sudah ada enam film yang disodorkan, tapi dua tawaran sudah tidak diambil karena tak berjodoh dengan waktunya.

"Untuk empat film lainnya statusnya baru masih dipanggil untuk casting, tapi belum bisa saya penuhi juga karena jadwal kesibukan saya sebagai penyanyi. Nah inilah yang saya maksud segala tawaran harus berjodoh dengan waktu," ulasnya.

Ayu Laksmi yang didapuk menjadi Duta Perdamaian oleh Komunitas Gema Perdamaian 2015 ini,bersyukur aktingnya begitu diapresiasi, walau secara visual munculnya hanya 10 persen. "Saya juga merasa tiba-tiba saja menerima begitu banyak cinta. Bagi orang yang sudah tahu saya sebagai penyanyi, mereka menyatakan turut berbangga. Bagi yang baru mengetahui  dalam film, lanjutnya, menyatakan tercengang ketika menjelajah histori perjalanan karir ternyata sosok si ibu adalah seorang penyanyi.

"Jadi, kini tawaran pentas musik juga makin lebih ada peluang karena tiba-tiba juga saya jadi diuber banyak media TV  untuk dapat meliput seluruh aktivitas saya, di mana dulu media jika diundang datang ke show saya di Jakarta, susahnya minta ampun," akunya.


Ketika disinggung bahwa orang Bali Hindu sepertinya kurang tertantang menerjuni bidang akting? "Ahhh bukan begitu.Sebenarnya situasinya, bahkan yang saya ketahui justru terbalik, banyak yang ingin jadi aktris," katanya.


Ditambahkannya, orang Bali  sebenarnya sangat potensial dalam dunia akting, bahkan boleh dikatakan sebagai pemain natural. "Hanya saja peluang untuk dapat diketahui para insan perfilman Indonesia dan juga mungkin keinginan dari orang Bali sendiri untuk mencari informasi adanya sebuah project tak sampai informasinya," ungkapnya.


Di samping itu, lanjutnya, sangat diperlukan untuk dapat berupaya melebarkan networking di barengi upaya kreatif yang harus terus menerus dilakukan tanpa henti dibangun. "Zaman sekarang adalah era digital, siapapun bisa menunjukkan diri, skill dan talentanya. Bahkan dari ponselnya masing-masing," sarannya.

Jadi, apa tips dan strategi untuk menekuni akting dan nyanyi? “10 persen bakat , 90 persen daya upaya plus doa, termasuk ketahanan untuk menerima kritik," pungkas Bali’s Environment Ambassador  2005 ini. (habis)

(bx/rin/ima/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia