Sabtu, 24 Feb 2018
baliexpress
icon featured
Balinese
Pura Luhur Sekartaji

Ini Dia Kawasan Sakral Jejak Megalitikum Bertahtakan Batu

Rabu, 10 Jan 2018 12:52 | editor : I Putu Suyatra

Ini Dia Kawasan Sakral Jejak Megalitikum Bertahtakan Batu

LANGKA: Keberadaan palinggih di Pura Luhur Sekartaji ini telah berusia tua dan ornamen ukirannya terbilang langka. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN - Selain dikenal dengan wisata alam yang menakjubkan, Tabanan juga dikenal dengan wisata religi yang tak pernah ada habisnya. Kali ini, Bali Express (Jawa Pos Group) berkesempatan tangkil ke Pura Luhur Sekartaji. Apa istimewanya tempat suci ini?

Pura Luhur Sekartaji  di Desa Pakraman Sekartaji, Desa Sesandan, Kecamatan Tabanan,  berdiri sekitar dua ratus meter di selatan pemukiman penduduk Desa Pakraman Sekartaji. Tak sulit mencari  pura yang dikelilingi hutan bambu dan tegalan ini.

Ini Dia Kawasan Sakral Jejak Megalitikum Bertahtakan Batu

MEGALITIK : Pura Luhur Sekartaji usianya sangat tua, dibuktikan dengan adanya peninggalan prasasti megalitik berupa tahta batu yang ada di bagian depan setiap palinggih. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Dari Pusat Kota Tabanan kita hanya perlu menuju ke arah barat dengan melintasi jalur Tabanan – Buruan. Kemudian sekitar dua ratus meter arah utara dari Taman Kupu-kupu Desa Wanasari, masuk ke timur hingga sampai di pertigaan Desa Pakraman Sekartaji. Dari pertigaan ini masuk ke selatan sekitar dua ratus meter. Seratus meter sebelum memasuki pura, perjalanan pamedek akan disambut oleh sejuknya suasana hutan.


Terkait sejarah keberadaan pura,  saat ini sedang disusun purana Pura Luhur Sekartaji oleh tim penyusun yang diketuai Drs. I Gusti Ngurah Tara Wiguna, M.Hum, seorang dosen pada Program Studi Arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Menurutnya, Pura Luhur Sekartaji ini telah berdiri antara abad I hingga abad VIII masehi.

Hal itu dibuktikan dengan adanya peninggalan prasasti megalitik berupa tahta batu yang ada di bagian depan setiap palinggihnya.


Ditambahkannya, beberapa abad setelah berdirinya pura tersebut atau pada sekitaran abad XVI masehi, Raja Tabanan Cokorda Lepas Dimade mengambil seorang istri di Desa Sekartaji yang kemudian dikenal dengan nama Mekel Sekar, dan dari perkawinannya itu kemudian melahirkan seorang putra bernama Cokorda Sekar. Setelah dewasa, Cokorda Sekar ini menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Raja Tabanan.


Setelah Raja Tabanan  Cokorda Lepas Dimade ini wafat, putra dari hasil perkawinannya dengan Mekel Sekar, yakni Cokorda Sekar yang menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai Raja Tabanan, kemudian mendharmakan Bethara ayahandanya ini di Pura Luhur Sekartaji. Yakni didharmakan di Palinggih Gedong sekaligus pula palinggih utama di Pura Luhur Sekartaji.


Dan, pada zaman pemerintahan Cokorda Sekar inilah dilakukan penataan Pura Luhur Sekartaji ini. Termasuk pula menambah palinggih-palinggih yang terwarisi hingga saat ini, selain juga mewariskan laba pura seluas sekitar  lima belas hektare. “Sementara untuk pengelolaan Pura Luhur Sekartaji ini diserahkan kepada Mekel Sekartaji bersama masyarakat Sekartaji,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.

Ini Dia Kawasan Sakral Jejak Megalitikum Bertahtakan Batu

RAJA : Pura Luhur Sekartaji diperkirakan berdiri antara abad I hingga abad VIII, terkait dengan era Raja Tabanan Cokorda Lepas Dimade. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Pura Luhur Sekartaji, jika dilihat dari fungisnya hampir sama dengan Pura Penataran, sehingga pura ini layak dikunjungi oleh seluruh lapisan umat, termasuk pula oleh para penekun spiritual. Terlebih lagi, keberadaan palinggih yang berusia tua dan ornamen ukirannya yang unik dan kuno, menjadikan nuansa pura ini selain menyejukkan secara bathin, juga terkesan pingit.


Jero Mangku Gede Pura Luhur Sekartaji, I Wayan Sukadana menyebutkan,  Pura Luhur Sekartaji berdiri pada lahan seluas sekitar 20 are yang terbagi atas tiga palebahan atau tiga zona, berupa jeroan atau utamaning mandala, jaba tengah atau madya mandala dan nistaning mandala.


Menurutnya, keberadaan palinggih di pura ini telah berusia tua dan ornamen ukirannya terbilang langka. Bahkan diyakini berusia ratusan tahun. Termasuk pula keunikan dan nuansa kuna patung-patung yang disucikan di palinggih,  terutama pada Palinggih Ageng. 


Adapun keberadaan palinggih-palinggih di utamaning mandala di Pura Luhur Sekartaji, yakni pada bagian utara menghadap selatan berdiri Palinggih Pasimpangan Petali yang posisinya paling barat. Kemudian di sebelah timurnya berturut-turut berdiri Palinggih Pasimpangan Batukaru dan Palinggih Pasimpangan Gunung Agung. “Selanjutnya tepat di depan antara Palinggih Pasimpangan Petali dan Palinggih Pasimpangan Batukaru, terdapat palinggih bebaturan sebagai stana Ratu Wayan dan Ratu Nyoman,” paparnya.


Kemudian di sebelah selatan Palinggih Pasimpangan Gunung Agung terdapat Palinggih Manik Galih Rambut Sedana, Palinggih Ageng berupa gegedongan, Palinggih Puseh Angrurah dan Pasimpangan Pakendungan. Di depan Palinggih Ageng terdapat bangunan Bale Pangiasan sekaligus tempat jro mangku saat nganteb upakara. Konon, pada zaman dulu ketika Raja Tabanan berkunjung ke pura ini, duduk di bale tersebut. “Satu palinggih lagi ada di jaba selatan, tepat di bawah pohon beringin yang dinamakan Palinggih Beten Bingin,” lanjutnya.


Uniknya, Pura Luhur Sekartaji memiliki tiga buah beji, yaitu Beji Baleran yang posisinya sekitar 50 meter kearah barat daya dari pura. Kemudian Beji Taman Telaga yang posisinya juga sekitar 50 meter kearah barat laut pura. “Terakhir Beji Kangin posisinya sekitar seratus meter kearah timur pura dan berada di tepi Tukad (sungai) Yeh Empas,” imbuh Jero Mangku Sukadana.


Dikatakannya, pura yang pujawalinya jatuh setiap rahina Anggara Kasih wuku Medangsia ini, memiliki dua pantangan, dan  pantangan ini khusus untuk dipersembahkan pada Palinggih Ageng. Pantangan tersebut adalah sama sekali tidak boleh menghaturkan kue, jajanan ataupun persembahan lainnya yang menggunakan gula merah.

“Pantang mempersembahkan biu gedang saba atau pisang kepok,” sambungnya.

Soal pantangan ini, tetap dipatuhi warga, karena seperti itu tradisi yang berlangsung sejak dulu, meski tak diketahui pasti latar belakangnya.


Terkait dengan sedang disusunnya purana Pura Luhur Sekartaji, Ketua Prajuru Pura Luhur Sekartaji, I Gede Susila menjelaskan, setelah purana tersusun maka dilanjutkan dengan penyusunan purana pada media lempengan tembaga untuk kemudian menjadi prasasti. “Kami juga melakukan pamelaspasan Palinggih Pasimpangan Batukaru dan juga menggelar prosesi ngalungsur bagi semua krama Desa Pakraman Sekartaji,” ujar pria yang juga Kepala Dinas Pendidikan Tabanan.


Ia menambahkan, tata organisasi di pura masih melestarikan tradisi yang telah berjalan dari dulu, yakni Puri Kaleran sebagai Panganceng dan Ki Jero Mekel Sekartaji selaku Pangemong. Selain itu, juga ada Krama Pangempon yang kini berjumlah 120 KK dan Jan Bangul atau Pemangku. “Adapun pemangku-pemangku tersebut terdiri dari Mangku Gede, Pemangku Beji Kaler atau Beji Madhya, dan Pemangku Beji Telag serta Panyarikan,” pungkasnya.

(bx/ras/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia