Selasa, 16 Jan 2018
baliexpress
icon featured
Bisnis

Bom Bali Ajarkan Usaha Kerajinan Terhindar dari Imbas Gunung Agung

Kamis, 14 Dec 2017 08:10 | editor : I Putu Suyatra

Bom Bali Ajarkan Usaha Kerajinan Terhindar dari Imbas Gunung Agung

TETAP KERJA: Salah seorang perajin tengah menuntaskan pekerjaannya memenuhi pesanan pelanggannya. (WIDIADNYANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, GIANYAR – Lesunya usaha akomodasi pariwisata lantaran minimnya tingkat hunian dampak erupsi Gunung Agung sejauh ini belum merembet ke beberapa pengusaha kerajinan. Pasalnya meski kunjungan wisatawan masih minim karena imbas erupsi Gunung Agung, pengusaha kerajinan masih tetap bertahan dengan mengandalkan pemasaran melalui online (e-commerce).

Beberapa pemilik usaha kerajinan mengatakan, bahwa pengalaman sepinya kunjungan wisatawan menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Mulai dari dampak Bom Bali I, Bom Bali II, hingga krisis Eropa beberapa tahun lalu, membuat cara pemasaran mereka beralih via online. Tak heran di saat kunjungan wisatawan saat ini sedang sepi, mereka masih mampu tetap bertahan.

Kondisi ini tampak seperti deretan art shop yang ada di sepanjang Jalan Raya Andong hingga Jalan Raya Tegallalang yang membentang belasan kilometer. Meski lalu lalang wisatawan tidak banyak, bahkan cenderung sepi, para pemilik usaha ini tampak tidak terlalu mempersoalkan. Mereka pun tetap sibuk dengan aktivitasnya membuat maupun memenuhi hasil kerajinan yang sudah dipesan para pelanggan mereka.

I Gusti Nyoman Sri salah seorang pemilik usaha kerajinan kecil di Jalan Raya Andong mengatakan, bahwa minimnya jumlah kunjungan wisatawan khusus untuk pengusaha kerajinan kecil pastinya ada dampaknya. Tapi itu lebih pada perajin yang baru membuka usaha, lantaran pelanggannya tidak terlalu banyak, dan sebagian mengandalkan dari kunjungan wisatawan secara langsung.

“Kalau yang pemula dan mengandalkan kunjungan langsung pasti berpengaruh dengan kondisi saat ini. Karena jika normal satu dua wisatawan yang datang pasti ada yang belanja untuk sekadar oleh-oleh,” ucapnya.

“Tapi kalau yang besar-besar dan sudah memiliki pelanggan tetap dan pemasarannya juga melalui online, dampaknya sih tidak terlalu. Karena mereka tak banyak mengandalkan penjualan dari kunjungan langsung wisatawan,” imbuhnya.

Hal ini diamini Ni Komang Sri Marheni, manajer salah satu perusahaan ekspor kerajinan di Peliatan. Dia mengatakan, bahwa pengalaman dari tahun ke tahun membuat cara pemasaran kerajinan saat ini banyak berubah. Karena itu kerajinan pun banyak yang diekspor setelah melalui transaksi secara online. “Jadi tak banyak pengaruhnya. Karena hampir semuanya ekspor itu transaksinya lewat online, hanya sebagian kecil saja yang transaksinya langsung,” paparnya.

Cuma seperti katanya yang kini menjadi antisipasi pihaknya yakni ketepatan waktu pengiriman. Sebab dikhawatirkan kondisi erupsi Gunung Agung akan mempengeruhi proses penjadwalan. Tak hanya ketepatan waktu pengiriman, masalah suplai hasil kerajinan dari para perajin kecil juga menjadi perhatian pihaknya, khususnya para perajin yang terdampak langsung akibat erupsi gunung agung. “Karena banyak juga perajin kami yang asalnya dari radius Awas itu (Gunung Agung, Red). Jika mereka mengungsi, secara tak langsung pasti berdampak pada produktivitas mereka, yang ada merembet ke produksi secara umum,” imbuhnya. 

(bx/wid/wan/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia