Selasa, 16 Jan 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Lupa Matur Piuning, Data Peneliti Setra Kau Hilang Misterius

Selasa, 12 Dec 2017 11:03 | editor : I Putu Suyatra

Lupa Matur Piuning, Data Peneliti Setra Kau Hilang Misterius

Jero Aryani (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, BANGLI - Setra Ari-ari yang hanya digantungkan saja pada pohon bukak, terkadang menjadi pertanyaan pengunjung yang datang ke Setra Kau di Desa Bayunggede, Bangli. Sebab, Ari-ari pada umunya disukai oleh makhluk halus, terlebih orang yang mendalami ilmu aji ugig (ilmu hitam).

Mantan Jero Kabayan, Jero Aryani mengatakan, sampai saat ini tidak ada yang berani mengganggu Ari-ari tersebut, terutama yang menjalankan aji ugig. Sebab, sudah terdapat tapak dara berbahan dari pamor yang bias menjadi benteng penangkal gangguan niskala. “Tidak ada gangguang apapun, selama sudah ditandai dengan tapak dara, tidak ada yang berani mengganggu. Terlebih itu dari makhluk halus, sebab areal setra djuga  disengker (dibatasi) dengan tembok pembatas. Agar orang yang diizinkan saja masuk ke sana. Terlebih yang memberikan izin adalah saya  sendiri,” urainya.

Masyarakat setempat, lanjutnya,  juga tidak ada yang berani masuk, apalagi hanya mencari kayu bakar, kecuali sudah ada izin.“Jika tidak, boleh melihat dari luar panyengker saja.  Kalau diam diam masuk  bisa saja mendapat mara bahaya di sana, seperti ketimpa pohon yang tumbang dan munculnya binatang buas,” papar pria yang sudah sembilan tahun menjadi Jero Kabayan tersebut.

Dikatakannya pernah ada kejadian aneh, saat seorang mahasiswa yang melakukan sebuah penelitian. Hanya melalui data desa saja, tanpa melapor ke Jero Kabayan, juga tidak mohon izin atau matur piuning melakukan penelitian . Menjelang ujian data yang ada di laptopnya hilang semua. “Setelah saya tanya, apakah sudah menghaturkan canang atau mohon doa di Khayangan Tiga, yang bersangkutan mengatakan belum pernah.

Maka, saya sarankan segera agar mohon doa dari rumahnya untuk mohon izin bahwa penelitian yang akan ia presentasikan berada di wilayah Desa Bayunggede. Terlebih pada penelitian menyangkut juga dengan Setra Ari-ari  yang berisi proses, pelaksanaan, dan tempatnya. Setelah mohon izin, ia hidupkan laptopnya kembali, data dan file yang raib itu muncul kembali,” paparnya.

Jero Kabayan Aryani mengungkapkan, bahwa membawa Ari-ari ke setra harus pagi hari sebelum matahari terbit. Yang melaksanakan ke setra juga dari keluarga  pria.dikarenakan setra tersebut berada di sebuah hutan yang luasnya sekitar enam hektare. “Pelaksanaan yang harus pagi hari itu, agar si bayi seperti matahari yang akan terbit, yakni bersinar terang, sehat, dan selamat,” urai Jero Kabayan Aryani

yang ditemui di rumahnya di Desa Bayunggede, Kecamatan Kintamani, Bangli, pekan kemarin.

Di tempat berbeda, Bendesa Adat Bayunggede, I Gede Seriman menjelaskan,  peletakan tempurung Ari-ari harus berkumpul dengan tempurung  yang lainnya.

Sebab jauh dan dekatnya, lanjutnya, bisa memengaruhi rasa kebersamaan terhadap si bayi nantinya. Sebab, ketika dipisahkan dengan yang lainnya, maka bayi yangAri-arinya berjauhan akan menjadi pendiam. Bahkan, tidak suka dengan keramian di sekitarnya, cenderung menyendiri.  “Buktinya keponakan saya sendiri, setiap ada temannya yang lain bermain, ia pasti menjauh, memilih bermain dengan sendirinya. Ketika saya tanya orang tuanya,  Ari-ari yang ada di setra ternyata ditaruh berjauha dengan Ari-ari lainnya. Sehingga sesudah besar, keponakan saya ini suka menyendiri,” ungkapnya.

Ditekankannya, dalam pertumbuhannya dapat dilatih, supaya bisa menjalin kebersamaan. Baik itu dengan temannya atau orang lain. “Dikarenakan sudah terbukti seperti itu, maka warga setempat juga diarahkan untuk menggantungkan Ari-ari yang baru lahir berkumpul. Supaya bisa bersosialisasi dan besarnya nanti dapat hidup bermasyarakat,” pungkasnya.

Untuk mencapai Setra Kau, lokasinya tidak jauh dengan objek wisata Penelokan Kintamani. Jika dari Pusat Kota Denpasar, hanya memerlukan waktu sekitar satu setengah jam saja. Menuju arah Pasar Payangan Gianyar, lurus ke utara sekitar tujuh kilometer, dan setelah sampai di perempatan Desa Katung, Kintamani, Bangli, tempuh jalur jalan ke kanan, sekitar dua kilometer akan sampai di Desa Bayunggede. Masuk ke dalam sekitar empat ratus meter akan sampai di pos informasi. Di sana ada petugas yang akan memandu ke setra, jika memang diperlukan. Tetapi boleh juga menuju setra Ari-ari tanpa pemandu, sambil jalan-jalan mengelilingi Desa Bayunggede.  

(bx/ade/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia