Kamis, 18 Jan 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Spiritualitas Melorot, Beragama Mestinya Indah

Sabtu, 09 Dec 2017 10:34 | editor : I Putu Suyatra

Spiritualitas Melorot, Beragama Mestinya Indah

HANGAT: Acharya Praburasa Darmayasa keliling memberikan pencerahan spiritual dan agama, selalu disambut hangat . (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Belakangan ini, kesadaran spiritual manusia soal agama mulai merosot. Sangat jauh bila dibandingkan dengan masa lalu. Kenapa bisa terjadi?

Harus diakui bahwa soal agama masih menjadi masalah oleh sekelompok orang di negeri ini. 
Kenyataan ini memang membuat  gundah, kalau tidak  bijak menyikapi sejumlah provokasi. Seperti diakui tokoh spiritual yang juga Presiden World Divine Society, Acharya Praburasa Darmayasa. Dikatakannya, di zaman sekarang ini, kesadaran spiritual manusia sudah mulai merosot, khususnya jika kita membicarakan mengenai agama. Kalau saja kita mau mengamati dengan jujur, maka kita akan dipaksa untuk mengakui bahwa penerimaan atau penempatan kita terhadap agama telah banyak mengalami kemerosotan, dan sayangnya bahwa memang demikianlah keadaan yang sebenarnya.


Kalau di zaman dahulu ketika seseorang mendengar kata agama dan dibandingkan dengan zaman sekarang ini,  lanjutnya, maka kita akan menemukan perbedaan kesadaran penerimaan agama itu.
Jika dahulu ketika orang-orang mendengar kata agama, maka yang ada di kepala ( kesadaran) mereka adalah sebuah jalan spiritual indah untuk menuju kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun jalan untuk menuju kepada Tuhan itu memang ada banyak pilihan dan beraneka ragam tekniknya. Tetapi, orang-orang pada zaman dahulu tidak memberikan perhatiannya pada perbedaan-perbedaan jalan atau cara yang ditempuh itu, melainkan mereka lebih mengertikan sebagai suatu jalan spiritual yang indah dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan .


Sedangkan di zaman sekarang ( terutama akhir-akhir ini), kalau kita atau orang-orang mendengar kata agama, maka secara otomatis yang akan ada muncul di kepala mereka adalah sebuah agama sebagai organisasi atau kelompok, di mana mereka lebih memperhatikan pada perbedaan-perbedaan yang ada antara agama satu dengan lainnya. Dan, bukan lagi melihatnya sebagai sebuah jalan indah dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan demi penyempurnaan diri sejati.


Orang-orang di zaman sekarang ini akan mengertikan agama sebagai kelompok organisasi-organisasi keagamaan yang satu dengan yang lainnya saling berbeda, dan secara otomatis memberikan penekanan pada adanya sekat-sekat pemisah, yang seringkali semakin berkembang menjadi jurang pemisah sangat dalam antara kelompok agamanya dengan kelompok agama lain, yang tidak mungkin disambungkan lagi dengan segala upaya apapun, termasuk tidak mungkin lagi menyambungkannya dengan jembatan super panjang, karena tidak akan pernah cukup biaya untuk membuat 'jembatan panjang' itu.


Dengan demikian, maka tersembunyi kalimat yang meskipun tidak terbaca di kepala setiap orang, namun dapat dimengerti bahwa mereka menempatkan agamanya jauh lebih baik atau yang terbaik. Sedangkan agama orang lain kurang baik, bahkan orang lain dipandang sebagai sedang tersesat dari jalan Tuhan.
Inilah kenyataan yang sangat pahit, dan  kenyataannya memang benar-benar terjadi pada zaman sekarang ini. Dari sudut pandang ini, kita dapat memahami dengan jelas bagaimana telah sedemikian jauh merosotnya dunia menerima dan menyikapi agama.


Nah, sepanjang seseorang tidak dengan tekun dalam usaha memantapkan diri ke dalam, selama orang tidak menempa diri dengan tekun serta tanpa kenal lelah terus-menerus untuk mempermantap Sang Diri Sejatinya, maka ia tidak akan pernah berhasil mengertikan agama sesuai dengan yang seharusnya, serta sebagaimana mestinya.


Sepanjang seseorang belum berhasil memantapkan Sang Diri Sejatinya, maka selama itulah dia akan mengalami kesulitan untuk menerima agama sebagai apa adanya. Kapan seseorang bersedia membukakan pintu dan kapan seseorang berhasil memantapkan Sang Diri Sejatinya, maka mereka akan dapat mengertikan agama sesuai dengan agama itu sendiri.


Dan, itulah yang dijelaskan di dalam Kitab Mahabharata “Dharanad Dharmam Ity Ahur…” Artinya, bahwa agama yang sejati itu adalah agama yang menyangga hukum-hukum perputaran alami alam semesta, dan hanya agama seperti itulah yang akan berhasil serta mampu mengantarkan orang orang kepada tujuan sejati agama, untuk menuju kepada kebenaran sejati, yaitu kebenaran yang bukan untuk dan milik sekelompok orang atau masyarakat atau bangsa tertentu saja.


Melainkan ia adalah kebenaran agama yang mengangkat kehidupan lahir batin umat manusia dan alam lingkungannya. Hanya agama seperti itulah yang dapat membentuk karakter sempurna umat manusia.

(bx/rin/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia