Kamis, 14 Dec 2017
baliexpress
icon featured
Bali

Sejak Awas 22 September, Skala Gunung Agung Paling Tinggi VEI2

Kamis, 07 Dec 2017 11:51 | editor : I Putu Suyatra

Sejak Awas 22 September, Skala Gunung Agung Paling Tinggi VEI2

GUNUNG AGUNG: Gunung Agung dari Pos Pantau Rendang. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, RENDANG - Berdasarkan pantauan PVMBG Kamis (7/12) dari pukul 06.00 hingga 12 masih terekam gempa low frekuensi sebanyak 15 kali dengan amplitudo 4 - 11 mm dengan durasi 30 – 116 detik. Disamping itu juga masih terekman gempa vulkanik dalam 1 kali dengan amplitude 22 mm durasi 42 detik, dan 7 kali hembusan amplitudo 7 - 22 mm durasi 70 - 90 detik.

Sedangkan Rabu (6/12) mulai pukul 14.46 hingga 15.06 wita terekam gempa tremor overscale dan tremor membesar dengan amplitudo 3 – 24 mm mulai pukul 14.40 hingga 17.00 wita.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunungapi Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil Syahbana mengatakan masih tingginya aktifitas kegempaan yang terekam mengindikasikan bahwa masih adanya tekanan berlebih di dalam tubuh Gunung Agung. Namun yang mengindikasikan hal tersebut bukan hanya adanya tremor menerus saja, namun yang paling utama adalah adanya kegempaan vulkanik. “Tetapi selain terjadinya gempa vulkanik kita juga masih merekam gempa low frekuensi,” imbuhnya.

Sementara itu, Devy menambahkan jika dari citra satelit pihaknya masih merekam adanya pertumbuhan lava yang menunjukkan masih adanya anomaly thermal yang terpantau terakhir pada pagi hari. Dan hingga Rabu pagi, pihaknya masih merekam energy thermal tersebut termasuk gempa low frekuensi yang cukup signifikan. “Kita merekam gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tektonik lokal yang mengindikasikan bahwa aktifitas magma belum selesai kalau  sudah tidak terjadi baru lah tekanan didalam gunung melemah, “ lanjutnya.

Semburan asap pada Rabu (6/12) juga kemungkinan mengandung partikel abu, namun hanya tipis dan jatuh di sekitar puncak Gununga Agung. "Dan tidak mengganggu aktifitas penerbangan," tegasnya.

Namun pihaknya belum bisa memastikan apakah Gunung Agung akan meletus secara eksplosif atau kembali ke fase normal, terlebih Gunung Agung merupakan satu dari 7 Gunung Api di dunia yang sempat meletus dengan skala VEI 5 secara berturut-turut. VEI (Volcanic Explosivity Index) yang merupakan skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan erupsi atau ledakan sebbuah gunung api. Bahkan, menurut Devy Gunung Agung memiliki ciri khas dengan letusan berskala VEI 5 dua kali berturut-turut. “Biasanya gunung lain akan mengalami fase erupsi yang kecil kemudian baru fase yang besar, sedangkan Gunung Agung pernah mengalami eksplosivitas yang sangat tinggi dua kali berturu-turut,” papar Devy.

Ia menambahkan, sejak status awas 22 September 2017 hingga Rabu (6/12) skala VEI Gunung Agung paling tinggi adalah VEI 2. Dimana VEI 2 ini seribu kali lipat lebih lemah dibandingkan VEI 5. “Dan dari ribuan gunung api di dunia, hanya 59 gunung api yang memiliki skala letusan VEI 5, termasuk Gunung Agung, “ sambungnya sembari mengatakan jika pihaknya belum bisa memastikan apakah lutusan di tahun 1963 akan terjadi juga kali ini.

Ia menegaskan pihaknya saat ini hanya akan terus memonitor data, dan jika ada indikasi erupsi yang lebih besar, maka pihaknya akan menyesuaikan dengan rekomendasi yang diberikan.

Sementara itu menurut Kabid Mitigasi PVMBG I Gede Suantika, adanya terjangan banjir lahar hujan disebabkan karena material vulkanik seperti abu dan kerikil yang keluar pada erupsi Gunung Agung banyak berada di atas gunung. Dan apabila intensitas hujan semakin tinggi maka masih akan ada lahar hujan sampai beberapa hari kedepan.

Atas kondisi tersebut pihaknya menyimpulkan bahwa aktifitas Gunung Agung masih sangat tinggi. Maka dari itu PVMBG merekomendasikan agar masyarakat disekitar gunung agung dan pendaki/pengunjung/wisatawan agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 8 km dari kawah Gunung Agung dan ditambah perluasan sektoral ke arah Utara-Timurlaut dan Tenggara-Selatan-Baratdaya sejauh 10 km dari kawah Gunung Agung. Hingga pukul 12.00 ketinggian asap yang keluar dari kawah terpantau dengan ketinggian 2200 meter diatas kawah condong ke arah barat daya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia