Jumat, 15 Dec 2017
baliexpress
icon featured
Features
Cerita Letusan Gunung Agung 1963 (3-Habis)

Ajaib, Batang Tertimbun Lahar, Jepun di Pura tetap Berbunga

Kamis, 07 Dec 2017 08:00 | editor : I Putu Suyatra

Ajaib, Batang Tertimbun Lahar, Jepun di Pura tetap Berbunga

CATATAN: Salah satu potongan catatan dalam buku harian I Wayan Gede Riyasa mengenai meletusnya Gunung Agung tahun 1963. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SIDEMEN - Dahsyatnya letusan Gunung Agung 1963 membuat I Wayan Gede Riyasa, perbekel Sebudi kala itu harus mengungsi bersama keluarga dan warga lainnya. Riyasa pun kemudian mengungsi ke Talibeng. Namun meskipun dalam keadaan genting para Perbekel kala itu tetap berkantor dan mengurus segala keperluan warganya.

Meskipun sudah bertahun-tahun lamanya, tulisan I Wayan Gede Riyasa, 81, mantar Perbekel Sebudi ini masih begitu jelas dan mudah dibaca karena tulisan bersambungnya yang begitu indah. Dengan tinta berwarna biru, meskipun kertasnya mulai usang, namun catatan pada Buku Harian yang mengisahkan tentang peristiwa maha dahsyat di tahun 1963, itu akan selalu terkenang sampai kapan pun.

Riyasa melanjutkan kisahnya, meskipun ia bersama keluarganya selamat namun kesedihan ia rasakan karena ada ratusan warganya yang meninggal dunia akibat letusan Gunung Agung. Maklum ketika itu, masyarakat sedang sibuk mempersiapkan sarana dan prasarana upakara menjelang Hari Raya Galungan.

“Bahkan masyarakat di Banjar Sogra (salah satu Banjar di Desa Sebudi,Red) meninggal dunia dalam posisi duduk karena sedang megambel dan menari. Mereka terkena awan panas, maaf mayatnya lebeng (matang, Red),” paparnya.

Dan untuk mendata warganya yang menjadi korban jiwa, ayah 10 anak ini kemudian menyusuri Desa Sebudi bersama Ir. Suryo yang merupakan Kepala Vulkanologi kala itu. Total ada 545 orang warga Desa Sebudi yang meninggal dunia, 217 orang warga Banjar Sebudi, 80 orang warga Banjar Sogra, 109 orang warga Banjar Badeg Dukuh, 12 orang warga Banjar Badeg Tengah, 1 orang warga Banjar Telung Buana, 78 orang warga Banjar Lebih, 4 orang warga Banjar Lebih, 44 orang warga Banjar Yeh He, ditambah sekitar 200 ekor sapi dan babi. Sedangkan warga Banjar Ancut dan Banjar Badeg Belodan tidak ada yang menjadi korban.

Saat menyusuri desa itulah, ia bersama Ir. Suryo menemukan sesuatu hal yang tidak lazim, bahkan tidak bisa dijelaskan secara logika oleh Ir. Suryo yang mengamati Gunung Agung kala itu. “Saat itu kami melintasi satu komplek pura yang tertimbun lahar, namun ada satu pohon kamboja (jepun) yang hanya kelihatan pucuknya saja, dan terus berbunga. Padahal menurut Ir. Suryo apa pun yang terendam lahar akan mati apalagi sampai terendam selama 14 hari,” tuturnya.

Hal itu langsung membuat Ir. Suryo menepok jidat seakan tak percaya apa yang terjadi di Bumi Lahar tersebut.

Kemudian 200 meter di utara Pura Dalem Plemadon di Banjar Prasana memasuki Kecamatan Selat, ia kembali menjumpai suatu hal yang mengherankan. Dimana palinggih Prajapati yang tertimbun lahar tidak terbakar, padahal atap pelinggih terbuat dari ijuk. “Saat itu saya bilang kepada Ir. Suryo bahwa kami yakini ini adalah kehendak Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang kami yakini karena Gunung Agung adalah tempat Ida Sang Hyang Widhi, sama seperti umat lain meyakini Tuhan mereka masing-masing,” imbuh Riyasa.

Saat ditanya apakah fase meletusnya Gunung Agung saat ini sama dengan tahun 1963? Riyasa mengaku tidak berani memastikan meskipun ia merasakan hampir sama. Hanya saja saat tahun 1963 alat belum secanggih saat ini yang sudah bisa mendeteksi Gunung Agung yang aktif. Namun ia meyakini Gunung Agung meletus saat hari baik.

“Karena ketika tahun 1963 Gunung Agung meletus saat hari baik, pertama saat ada karya Eka Dasa Ludra, dan menjelang Hari Raya Galungan. Yang jelas saya tidak yakin kalau Gunung Agung tidak meletus, Ida pasti medal namun semoga saja tidak,” harapnya.

Selama di pengungsian, Riyasa menuturkan bahwa pemerintah kala itu mengeluarkan Kartu Operasi Gunung Agung yang disingkat KOGA. KOGA ini sama halnya dengan kartu identitas pengungsi yang diisi lengkap dangan nama kepala keluarga dan anggota keluarga. KOGA ini harus selalu dibawa untuk mendapatkan bantuan logistik dari pemerintah. Namun meskipun mengungsi di rumah kerabat atau saudara, pengungsi kala itu tetap mendapatkan logistik dari pemerintah, bahkan pemerintah datang ke rumah-rumah warga langsung untuk mendata pengungsi. Tak lupa pemerintah menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemilik rumah yang telah menampung pengungsi.

“Jadi meskipun kami mengungsi di rumah saudara, kami tetap berhak atas logistik seperti beras, susu, jagung, gandum, makanan kaleng. Dan pemerintah juga menyampaikan ucapan terima kasihnya karena sudah menampung para pengungsi,” lanjutnya.

Ia menambahkan, setelah dua bulan berlalu letusan mulai reda, namun pada tanggal 16 dan 17 Mei 1963 Gunung Agung kembali meletus dan mengeluarkan lahar api yang sangat besar hingga melalap Desa Amerta Buana yang dulu masih bernama Banjar Abian Tiing. Dan kala itu lahar mengalir di timur kampung halaman Riyasa. Dan akhirnya pada bulan Januari 1964 setelah hampir satu tahun mengungsi, ia bersama warga diperbolehkan kembali ke kampung halamannya.

“Jadi saat ini Gunung Agung memang terlihat diam, tetapi tidak benar-benar diam dan belum dijamin aman. Karena pada tahun 1963 itu memang demikian, terlihat diam dan tenang, namun ternyata meletus dengan dahsyat. Jadi kita harus waspada,” tandasnya.

Meskipun kini umur sudah kepala delapan, Riyasa mengaku tahun ini akan kembali menuliskan pengalamannya terkait Gunung Agung. Namun ia mengakui saat ini pikirannya memang terganggu atas kondisi Gunung Agung yang Awas sehingga tidak enak makan dan tidur. “Tetapi nanti kalau pikiran sudah agak tenang, saya akan menulis lagi pengalaman saya di buku harian,” pungkas Riyasa. (habis)

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia