Sabtu, 21 Apr 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Tiga Maestro Bawakan Topeng Koleksi Museum Bali

Kamis, 12 Oct 2017 08:05 | editor : I Putu Suyatra

Tiga Maestro Bawakan Topeng Koleksi Museum Bali

MAESTRO: Prof. Dr. I Made Bandem saat membawakan salah satu topeng koleksi Museum Bali, Rabu kemarin (11/10). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Gelaran Bali Mandara Nawanatya II tidak hanya menyajikan pementasan cak, tari-tarian dan musik saja. Dalam gelaran seni akhir pekan ini, turut dilaksanakan Workshop Demonstrasi Topeng Koleksi Museum Bali yang dilaksanakan di Museum Bali, Rabu (11/10) kemarin.

Dalam kesempatan ini, Tiga maestro seni Pulau Dewata menarikan sejumlah topeng kuno koleksi Museum Bali, sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan dan berbagi ilmu mengenai seluk-beluk pertopengan kepada masyarakat. Ketiganya adalah Prof. Dr. I Made Bandem, Prof. Dr. I Wayan Dibia, dan Dr. I Ketut Kodi.

"Dengan acara demonstrasi topeng ini, kami ingin menampilkan keragaman yang dimiliki Museum Bali sebagai ikon dari museum itu sendiri karena fungsi museum tidak saja sebagai sarana pendidikan, sekaligus untuk berkomunikasi," kata maestro seni tari Prof Dr I Made Bandem di sela-sela acara "Workshop Demonstrasi Topeng"

Dalam kesempatan tersebut, Bandem membawakan Topeng Dalem Arsa Wijaya sedangkan I Ketut Kodi menari Topeng Tua dan topeng Bebondresan, sedangkan Wayan Dibia membawakan Topeng Jauk Manis, Jauk Keras dan Barong Ket.

"Lewat kegiatan ini, kami pun ingin menyosialisasikan bahwa topeng termasuk seni pertunjukan yang sangat hebat dan menjadi pengungkap sejarah. Mudah-mudahan topeng bisa juga nanti diusulkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda," ucapnya.

Menurut Bandem, dari 386 koleksi topeng di Museum Bali, selama ini hanya sebagian kecil yang bisa dipamerkan karena terkendala keterbasan gedung. Topeng yang dikoleksi juga ada yang berasal dari abad ke-18. "Kalau bisa ke depan Museum Bali agar mempunyai program untuk memamerkan koleksi yang lainnya seperti lukisan, tekstil, hingga benda-benda arkeologi, di samping juga mengundang para tokoh-tokohnya untuk menjadi narasumber," ucapnya.
Sementara itu, budayawan Prof Dr I Wayan Dibia mengharapkan agar topeng yang dipamerkan di Museum Bali dapat dikelompokkan sesuai jenisnya, misalnya ada kelompok topeng bebarongan, wayang wong dan sebagainya. "Lewat acara ini, selain kami ingin menyosialisasikan bahwa koleksi topeng di Museum Bali itu sangat banyak, sekaligus ingin berbagi mengenai seluk-beluk pertopengan yang sebenarnya," ucapnya. Hal ini kata Dibia,  dengan format acara yang dikemas pada tempat yang tidak begitu luas itu penonton dapat lebih mudah mengamati dan menikmati detail topeng.

Sementara, I Ketut Kodi menekankan pentingnya sebuah pelestarian topeng. Hal ini dikarenakan beberapa topeng di Bali memeiliki sejarah yang panjang. Salah satunya yang berada di Klungkung. Pihaknya berharap agar Dinas Kebudayaan kabupaten Klungkung lebih serius dalam mendata warisan topeng di Klungkung. “Karena di Klungkung ada topeng yang menggunakan stayle Gajah Mada, dan itu penting untuk dijaga, kalau sampai hilang atau rusak, saya pribadi sangat sedih,” ucapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha ketika dikonfirmasi terpisah tidak memungkiri karena keterbatasan ruang museum, maka yang bisa dipajang hanya sekitar 10 persen dari total koleksi yang ada. Museum Bali sendiri mempunyai total 14.612 jenis koleksi seperti topeng, etaografika, biologika, lukisan, kain tenun endek dan songket.

"Lewat kegiatan demonstrasi topeng, kami ingin memperkenalkan kepada masyarakat bahwa koleksi topeng yang ada memiliki nilai seni tinggi. Selanjutnya kami ingin menumbuhkan rasa bangga dan menguatkan karakter anak-anak maupun generasi muda agar tertarik berkunjung ke Museum Bali," ucapnya.

(bx/gus /bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia