Selasa, 21 Nov 2017
baliexpress
icon featured
Bali

Biaya Pemulangan Jenazah Rp 160 Juta, TKW asal Ubud Dikubur di Nigeria

Rabu, 13 Sep 2017 09:15 | editor : I Putu Suyatra

BERDUKA: Anak (kanan) dan suami (dua dari kanan) Sriani bersama keluarga menceritakan kejadian yang dialami Sriani yang meninggal di Nigeria saat ditemui awak media kemarin. Foto kenangan korban bersama anaknya sebelum bekerja di luar negeri.

BERDUKA: Anak (kanan) dan suami (dua dari kanan) Sriani bersama keluarga menceritakan kejadian yang dialami Sriani yang meninggal di Nigeria saat ditemui awak media kemarin. Foto kenangan korban bersama anaknya sebelum bekerja di luar negeri. (WIDIADNYANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, UBUD - Nasib Ni Wayan Sriani, 35, seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Banjar Bentuyung, Kelurahan Ubud, sungguh tragis. Sebab bekerja jauh-jauh hingga ke negeri orang, tepatnya Nigeria, kini setelah meninggal jenazahnya pun tidak bisa dipulangkan karena ketiadaan biaya.

Kondisi tersebut harus memaksa pihak keluarga pasrah untuk menguburkan jenazah ibu satu anak ini di Nigeria. Gusti Nyoman Putra, 52, suami Sriani saat ditemui di rumahnya kemarin (12/9) mengungkapkan, perjalanan istri ketiganya itu sebagai spa terapis di Nigeria bermula sekitar empat tahun lalu. Ketika itu istrinya tergoda ajakan teman-temannya untuk bekerja di luar negeri.

Hingga akhirnya empat tahun lalu sang istri pun nekat untuk bekerja di luar negeri melalui sebuah agen yang berkantor di Renon, Denpasar, sebagai spa terapis. “Pas berangkat pertama empat tahun lalu, dia ditempatkan di Negeria. Sedangkan temannya yang lain ada yang di Turki. Waktu berangkat pertama, kontraknya selama setahun, dan setelah setahun dia sempat pulang,” ceritanya.

Namun kepulangan tersebut menjadi yang terakhir bagi perempuan ini. Berada sekitar tiga minggu di rumah dan melepas kangen dengan anak semata wayangnya yang bernama Gusti Ayu Vera Noviantari, 9, perempuan ini kembali berangkat ke Nigeria untuk bekerja sebagai TKW. “Waktu berangkat pertama semua masih lancar. Dia juga sering mengirim uang, hingga biaya berangkat pertama bisa dilunasi,” sambungnya.

Tapi cerita itu tak berlanjut saat berangkat untuk kali kedua. Sebab setelah setahun berada di Nigeria, sang istri tak lagi bisa pulang. Diceritakan, saat itu istrinya mengaku jika tempat kerjanya kerap berpindah-pindah, dan pembayaran gaji pun selalu telat. Kondisi ini yang membuat keberangkatan keduanya itu sudah memasuki tiga tahun satu bulan lebih. “Sebenarnya dia ingin pulang, tapi dari cerita saat menghubungi keluarga di rumah, dia terbentur biaya untuk pulang. Sebab gajinya sering telat dibayar, bahkan pernah sampai lima bulan tak kunjung dibayar,” cerita kerabatnya yang lain.

Diduga karena tak pulang melewati kontrak kerja keduanya itu. Sriani tak bisa memperpanjang visa kerjanya, hingga akhirnya dinyatakan sebagai tenaga kerja ilegal di Nigeria. “Waktu berangkat pertama statusnya resmi, termasuk waktu berangkat kedua juga. Cuma katanya karena waktu berangkat kedua kontraknya sudah habis dan visanya tak diperpanjang, akhirnya dia menjadi tenaga kerja ilegal disana,” sambungnya.

Disinggung mengenai kronologi kejadian hingga sang istri dinyatakan meninggal di Nigeria, melalui salah seorang anaknya dari istri yang lain, informasi itu pertama kali dilihat melalui facebook salah seorang teman korban yang juga bekerja di Nigeria. Hingga akhirnya salah seorang teman korban yang asal Solo, memberikan kabar tersebut kepada pihak keluarga. “Katanya jatuh di kamar mandi pada 1 September lalu. Kemudian sempat stroke di rumah sakit hingga meninggal pada 6 September. Kami di sini tidak tahu, apa benar kronologi kejadiannya seperti itu,” paparnya.

“Padahal terakhir kali sekitar tiga bulan lalu, dia (korban) sempat menghubungi anaknya (Vera Noviantari), dan sempat cerita-cerita, juga menanyakan kabar keluarga di rumah,” sambungnya.

Ditanya mengenai kabar yang menyebutkan jika korban akhirnya akan dikuburkan di Nigeria, dan bukan dipulangkan ke Indonesia, Gusti Nyoman Putra membenarkan kabar tersebut. Diungkapkan, setelah sempat berkoordinasi dengan KBRI di Negeria serta teman-teman korban, dikatakan biaya untuk memulangkan jenazah korban mencapai Rp 160 juta.

Besarnya biaya dan kondisi keluarga yang pas-pasan, membuat pihak keluarga pasrah untuk menguburkan jenazah korban di Nigeria. Apalagi setelah nunas baos (memohon petunjuk) ke orang pintar, korban sendiri mengaku tidak masalah jika dikubur di Nigeria, dan cukup diupacarai di kampung halamannya. “Maunya kami bisa dipulangkan. Cuma biayanya besar dan kami tak sanggup. Akhirnya kami nunasang ke orang pintar, melalui orang pintar itu, dia (korban) berucap, tidak usah dipulangkan. Dikubur saja disana, yang penting diupacarai di kampung,” paparnya.

Saat ini sesuai informasi yang diberikan teman-teman korban dan KBRI yang mengurus jenazah korban. Jasad Sriani masih dalam perjalanan dari Enugu (wilayah tempat kerja korban) ke Abuja yang menjadi lokasi penguburan.

“Sebenarnya memang bisa dikremasi, dan abunya dibawa pulang. Tapi kata petugas disana, biaya kremasi juga besar bisa mencapai Rp 60 juta, dan kami pun tak mampu,” jawabnya, saat ditanya kenapa tidak dikremasi, sehingga abu korban bisa dikirim pulang.

Sementara itu, dalam beberapa hari terakhir petugas dari Dinas Tenaga Kerja Gianyar dan juga Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) sudah menemui pihak keluarga. Ini dilakukan untuk mengurus surat-surat sekaligus proses pengurusan jenazah korban di Nigeria, hingga terkait surat-surat dari pihak rumah sakit di Nigeria, untuk mengetahui penyebab kematian korban.

“Kalau agennya, kata Disnaker agen tersebut sudah ditutup. Kami tak tahu, ada apa,” imbuhnya, sekaligus menyebut jika korban semasa hidup dikenal ramah dan juga rajin ngayah di banjar maupun nyopin ke rumah kerabat dan tetangga.

Dengan kejadian itu, pihak keluarga sendiri saat ini tengah mengurus proses upacara terkait kematian korban. Karena berdasarkan keinginan korban dan juga hasil petunjuk di gria, pihak keluarga akan menggelar upacara Ngeplugin di pempatan agung, kemudian natab darpana di bale dangin, setelah itu mepegat. “Karena untuk upacara ngaben, dilakukan secara massal. Jadi saat ini hanya upacara ngeplugin, natab darpana dan mepegat saja dulu,” bebernya.

“Firasat, kalau saya sendiri tidak ada. Cuma ibunya (ibu kandung korban) di Lungsiakan sempat digarang buyung (kerumuni lalat), dan anaknya juga sempat mimpi kalau korban pulang, tapi dipenusangan,” pungkasnya. 

(bx/wid/aim/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia