Selasa, 17 Oct 2017
baliexpress
icon featured
Features

Pohon Ganggangan; Dahan Patah Pertanda Bahaya, Juga Tempat Mohon Obat

Sabtu, 12 Aug 2017 09:07 | editor : I Putu Suyatra

Pohon Ganggangan; Dahan Patah Pertanda Bahaya, Juga Tempat Mohon Obat

SAKRAL: Pohon Sakral di Desa Adat Bungaya, Karangasem. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Bicara pohon keramat atau disakralkan, tentu tidak sulit mencarinya di Pulau Bali. Salah satunya berada di Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem. Salah satu pohon  besar yang dinilai sakral oleh krama desa setempat berada di areal Pura Dalem Desa Adat Bungaya. Benarkah?

Pohon besar yang disakralkan tersebut tumbuh di areal suci areal Pura Dalem, disebut pohon ganggangan. Diameter pohon itu sekitar 2,5 meter dengan tinggi pohon lebih dari 40 meter. Cabangnya banyak, daunnya lebat. Sehingga membuat kawasan itu menjadi sejuk.

Tak bisa dipastikan sejak kapan pohon tersebut tumbuh di sana. Sejumlah krama (warga) Bungaya menyebutkan pohon itu diketahui sudah segitu besar. Pohon tersebut tumbuh di sebelah barat daya.

Daunnya berbentuk seperti jantung. Pohon itu juga berbunga. Sepintas, daunnya mirip pohon bodhi. Pohon bodhi dalam Agama Buddha diyakini sebagai tempat bersemedi dan memperoleh pencerahan. Konon, pohon di Pura Dalem tersebut, dulunya juga tempat bersemedi.

De Mangku Ruma Maspahit Istri
De Mangku Ruma Maspahit Istri

De Mangku Ruma Maspahit Istri (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Salah seorang panglingsir (tetua) Desa Adat Bungaya, De Mangku Ruma Maspahit Istri, mengakui keberadaan pohon itu termasuk disakralkan. Tak ada berani memotong cabang atau sekadar merompes rantingnya. Beberapa bagian pohon itu juga digunakan sebagai sarana upacara.  Misal daunnya. Saban Usaba Dalem di Desa Bungaya, samsam  untuk upacara itu terbuat dari daun pohon tersebut. Namun tak sembarang bisa memetik daunnya.

Panglingsir desa yang usianya lebih dari 75 tahun, ini memastikan, hingga kini tak satupun krama berani memanjat pohon besar tersebut untuk sekadar memetik daun maupun bunganya. Agar bisa memetik daun pohon untuk kepentingan upacara, cukup dengan memanjat pohon yang ada di sekelilingnya. Daun pohon itu paling sering dipetik dari pohon kelapa di sebelahnya¸yang berada di luar kawasan pura. Dari sana berusaha memetik daun pohon berbentuk jantung itu. Selain daunnya untuk samsam, bunga pohon itu juga biasa dipakai pasepan untuk keperluan upacara di sana.

De Mangku Ruma Maspahit Lanang
De Mangku Ruma Maspahit Lanang

De Mangku Ruma Maspahit Lanang (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

De Mangku Ruma Maspahit Lanang menambahkan, meski tak ada berani memotoh cabang atau ranting pohon tersebut, hingga saat ini sangat jarang cabang pohon itu patah. Ketika itu terjadi, maka kemungkinan akan terjadi sesuatu bencana. Cabang pohon itu patah sebagai praciri terjadinya musibah.

“Waktu tsunami Aceh cabang pohon itu patah. Gempa di Seririt, Buleleng juga patah. Apakah itu suatu kebetulan atau bagaimana, itu yang belum dipastikan,” imbuh Saba Kerta Desa Adat Bungaya, I Gede Krisna Adi Widana.

Walaupun ada cabangnya yang patah, lanjut De Mangku Ruma Maspahit Lanang, tidak pernah sampai merusak bangunan pura di bawahnya. Sebesar apa pun patahnya. Pihaknya memastikan patahnya akan secara perlahan, sehingga tidak sampai merusak bangunan suci. Berbeda dengan pohon besar pada umumnya, yang ketika cabangnya patah cenderung menimpa bangunan di bawahnya.

Lanjut panglingsir yang tinggal tak jauh dari Pura Dalem tempat tumbuhnya pohon tersebut, konon pada zaman dulu pohon itu memang sebagai tempat semedi. Berbagai godaan muncul di sana. Sehingga mereka yang bersemedi benar-benar harus siap mental. Saat ini, lanjut panglingsir Desa Ada Bungaya ini, juga banyak orang nglungsur kerahayuan (mohon keselamatan, Red) di sana.

Sering juga ada krama makemit (begadang) di sana. Beberapa krama Bungaya juga menyebutkan ada warga memohon keturunan di sana. Nah, terkait dikabulkan atau tidaknya permohonan, itu tergantung kepercayaan masing-masing.

Informasi yang didapat koran ini, sejumlah mantan kepala daerah sempat nglungsur kerahayuan (memohon) di sana sebelum mereka menjabat. Misalnya, ada mantan Gubernur Bali, Dewa Made Beratha. Mantan Bupati Bangli, I Nengah Arnawa. Mantan Bupati Karangasem, I Wayan Geredeg. Termasuk Bupati Karangasem, I Gusti Ayu Mas Sumatri saat mencalonkan diri juga pernah nglungsur di sana.

Terkait Mas Sumatri nangkil ke sana dibenarkan De Mangku Ruma Maspahit Istri. Biasanya, mereka yang nunas panugrahan (mohon anugrah) itu, datang saat Kajeng Kliwon didampingi De Sedahan Dalem. Sebelum sembahyang di bawah pohon itu, terlebih dulu diarahkan sembahyang di Cungkub Pura Dalem. Panglingsir desa tak berani melarang krama nunas di sana, karena itu berkaitan dengan kepercayaan. Termasuk saat Bali Express (Jawa Pos) mengabadikan foto pohon itu juga diizinkan nglungsur kerahayuan di sana.

Membuat Banten Kaos-Kaos
Proses pembuatan banten kaos-kaos.

Proses pembuatan banten kaos-kaos. (ISTIMEWA)

Apakah ada upacara rutin terhadap pohon tersebut? Krisna Adi Widana menegaskan itu tidak ada. Hanya bertepatan dengan Usaba Dalem ngaturang banten kaos-kaos (sesajen yang berisi daging godel/anak sapi, dijadikan satu wadah dengan nasi dan urab-uraban). Krisna menambahkan, daun pohon itu juga kerap dipakai obat berbagai penyakit.

“Kembali lagi kepada kepercayaan,” tegas Sekretaris Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Kabupaten Karangasem, itu. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia