Jumat, 22 Sep 2017
baliexpress
Balinese
Sejarah Pura Pucak Sari, Jembrana

Jika Tolak Jadi Pemangku, Hanya Diberi Batas Hidup Tiga Hari

Minggu, 16 Jul 2017 20:01 | editor : I Putu Suyatra

NGAYAH: Mangku Aryana hingga kini ngayah (mengabdi) untuk umat di Pura Pucak Sari.

NGAYAH: Mangku Aryana hingga kini ngayah (mengabdi) untuk umat di Pura Pucak Sari. (KOMANG DOKTRINAYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, NEGARA - Adanya pamangku di Pura Pucak Sari Desa, Pangkung Jangu, Desa, Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Jembrana hingga kini, berawal dari janji kelian adat yang sempat ditangkap kompeni. Bagaimana prosesnya, hingga Mangku Aryana ditunjuk?

Kala masa penjajahan Belanda, Kelian Adat Pangkung Jangu ditangkap karena ulah warga banjar yang menjadi mata-mata. Kelian adat yang tak lain adalah kakek dari Mangku Aryana ini ditahan dan diikat di tengah hutan di puncak bukit selama tiga bulan. Merasa tak ada peluang hidup,  dia pun memasrahkan dirinya. Saat  dalam kepasrahan dan berserah sepenuhnya pada Ida Sang Hyang Widi Wasa, tiba-tiba ada bisikan gaib.

Dikatakan, kalau dia berkenan menjadi pamangku di Pura Pucak Sari, maka dia akan selamat. Kakek ini pun akhirnya menerima tawaran tersebut.Anehnya, tiba-tiba ikatan di tangannya lepas begitu saja, tak tahu siapa yang melepasnya, dan dia pun selamat.Sejak saat itu, dia menjadi pamangku di pura tersebut.

Setelah sekian lama ngayah dan menjadi Jan Bangul  Ida Bhatara Sasuhunan yang berstana di Pura Pucak Sari, kakek Mangku Aryana meninggal. Selanjutnya, ada pamangku yang menggantikannya. Namun di lain pihak, ayah Mangku Aryana menerima pawisik (bisikan gaib) agar mau menjadi pamangku. Namun,  pawisik itu ditolaknya, karena memang sudah ada pamangku. Sayang, penolakan itu berakibat fatal. Ayah Mangku Aryana meninggal karena sakit yang tak jelas.

Periode selanjutnya, kembali ada penunjukkan pamangku, dan kebetulan Mangku Aryana yang ditunjuk warga. "Saya menolak, di samping belum siap, juga tak ingin mendengar pro kontra atas penunjukan tersebut," papar Mangku Aryana.

Guna menghindari sikap pro kontra warga, selanjutnya dilakukan nyanjan (proses pemilihan pamangku lewat ritual khusus) di pura tersebut. "Saat itu saya berbincang dengan rekan lainnya  di pelataran pura, namun tiba-tiba ada orang yang datang membopong, membawa masuk  ke pura," urainya.

Saat upacara Nyanjan yang dilangsungkan tenang, namun tegang itu, tiba-tiba ada petunjuk yang mengatakan bahwa Aryana harus menjadi pamangku.

"Kalau tidak mau hanya boleh hidup tiga hari," ucap Mangku Aryana, mengingat petunjuk gaib yang diterimanya kala itu.

Memikir dampaknya yang begitu besar, apalagi ayahnya meninggal, Aryana akhirnya menyanggupi dan bersedia jadi pamangku, meski tak tahu dan mengerti dunia kepamangkuan.

"Saya bersedia karena penunjukannya juga lewat proses nyanjan," terangnya.  

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia