JawaPos Radar | Iklan Jitu

Happy Wednesday 132

Beda 30 dengan 40

19 Juli 2017, 05:25:03 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Beda 30 dengan 40
Azrul Ananda (Jawa Pos Photo)
Share this

Makin hari, saya makin terbiasa dengan usia baru di kepala empat. Walau kadang masih sering lupa kalau sudah kepala empat. Saya nulis ini sambil terus geleng kepala dan tepok jidat…

***

Bagi yang rutin mengikuti tulisan Happy Wednesday sejak edisi-edisi awal, mungkin ingat saya pernah menulis ketika dulu meninggalkan usia 20-an, menginjak kepala tiga.

Jujur, saya sempat menangis waktu ulang tahun itu. Memilih menyendiri tidak mau bertemu banyak orang. Karena merasa sudah tidak muda lagi. Dengan teman-teman yang sebaya pun saling sharing cerita, dan rata-rata punya perasaan yang sama sedihnya ketika merayakan ulang tahun 30 tersebut.

“Lebih dekat ke separo akhir daripada separo awal”, begitu kata seorang sahabat.

Sepuluh tahun kemudian, rasanya beda.

Sebelum saya menulis perasaan saya sebelum melintasi angka ajaib itu, saya ingin membandingkannya dulu dengan beberapa teman yang tahun ini menghadapi pengalaman sama.

Seorang teman –seseorang yang menurut saya sangat intelektual-- menjawab singkat: “Denial bro”.

Saya tanya lagi, dia masih merasa umur berapa? “Masih 28 bro, wkwkwk…”

Menanggapi itu, saya berargumen, bahwa sebaiknya mengaku 29 saja. Dia kemudian setuju. “Rasanya 29 lebih oke sih ya. Terkesan sudah matang tapi tetap youthful, he he he…” timpalnya.

Seorang sahabat lama --sahabat serumah, sekampus, dan kini sekompleks rumah-- punya jawaban yang lebih kompleks.

“Kamu sudah kenal aku berapa lama? Dua puluh tahun lebih kan? Bukan tidak mungkin sisa hidup kita akan tidak akan selama usia pertemanan kita”, ucapnya.

Bukan, dia bukan tipe pesimistis. Bisnis dia banyak berhubungan dengan hitung-hitungan, jadi dia hanya realistis. Wkwkwkwk…

“Kita ini orang Indonesia bro. Life expectancy (masa hidup, Red) rata-rata orang Indonesia berapa? Rasanya tidak sampai 60 atau 65”, celetuknya.

Lebih dari itu, buat orang Indonesia, bisa dianggap beruntung.

Kami pun tertawa…

Nah, perasaan saya bagaimana? Kebetulan, saya “berhasil” menuntaskan impian merayakan angka 40 itu di puncak Passo dello Stelvio, Italia, di ketinggian 2.758 meter. Dan untuk mencapainya hari itu saya harus bersepeda 106 km, menanjak berat hampir 50 km. Jadi perasaan hari itu ya sengsara-nikmat.

Sayanya sengsara nikmat. Saudara dan sahabat-sahabat yang ikut saya hari itu mungkin hanya merasakan sengsaranya. Wkwkwk…

“Ini ulang tahun temanku yang paling tidak akan pernah aku lupakan. Kok sengsara sekali…” omel lucu seorang teman.

Itu perasaan karena aktivitas. Perasaan yang sesungguhnya? Waktu itu masih belum muncul.

Mungkin karena saya berusaha tidak memikirkannya.

Tapi istri saya sempat mengeluarkan komentar yang membuat semua tertawa. “Wah, sudah 40, sekarang aku menikah sama om-om”, celetuknya (dia enam tahun lebih muda).

Saya juga sempat menimang-nimang positif-negatifnya 40.

Positif dari segi hobi, karena kalau balapan sepeda sekarang saya masuk kelas Master B, di atas 40. Berarti lawan-lawan saya banyak yang lebih tua daripada lebih muda. Lebih memberi peluang untuk menang. He he he…

Positif lainnya: Seharusnya saya lebih matang lagi dalam berbagai aspek kehidupan. Semoga. Kan katanya “Life begins at 40”. Atau jangan-jangan itu kalimat dibuat oleh orang-orang yang denial?

Negatifnya, terus terang saya tidak kunjung menemukan.

Mungkin itu karena saya tidak mau memikirkan. Wkwkwk…

Saya bukan tipe religius, tapi saya memaksakan diri saya untuk bersyukur. Semoga saya sudah bisa memberi impact untuk banyak orang.

Tanda-tandanya sih rasanya begitu.

Saya pernah antre boarding naik pesawat. Lalu ada seorang perempuan menyapa, bertanya apakah saya ingat dia. Dulu dia peserta kompetisi jurnalis SMA yang saya selenggarakan.

Ketika saya tanya sekarang kuliah di mana, dengan cepat dia menjawab: “Saya sudah jadi dokter Mas…”

Lalu saya pernah berada di sebuah hotel, sedang proses check in, saat hendak nonton/liputan Formula 1 di Melbourne, Australia. Eh, ada rombongan maskapai penerbangan, dan seorang pilotnya menyapa. Saya tanya kok dia kenal saya, dia bilang dia dulu peserta kompetisi basket yang pernah –dan sampai hari ini masih-- saya selenggarakan.

Baru-baru ini saya juga mengurus paspor baru. Eh, lagi-lagi bertemu orang yang dulu ikut kompetisi saya.

Senang rasanya bertemu orang yang merasakan impact dari sesuatu yang kita lakukan.

Lebih terenyuh lagi ketika ada seorang mantan peserta kompetisi juga, sembilan tahun lalu, menuliskan sebuah cerita untuk ulang tahun saya. Dia lantas menitipkan cerita itu lewat akun media sosial ipar saya.

Dia bilang, dulu waktu ikut kompetisi jurnalis SMA saya, dia beli mie instan. Waktu itu dia saya omeli, karena tidak sehat. Lalu dia saya belikan roti dan susu, supaya dia bisa ikut lomba lebih baik.

Ternyata dia ingat betul momen itu. Dan dia menyampaikan, bahwa waktu itu dia sedang tidak punya uang untuk beli makanan lain.

Dia menegaskan, dia menjadi dirinya yang sekarang salah satunya karena terinspirasi oleh momen kecil tersebut.

Ketika ipar saya menyampaikan postingan tersebut, reaksi pertama saya, jujur, adalah saya merasa semakin tua. Wkwkwk…

Tapi ada kehangatan yang muncul. Bahwa kita tidak harus melakukan sesuatu yang besar untuk memberi impact pada seseorang. Bahwa melakukan hal kecil pun bisa menginspirasi orang lain, yang akan dia ingat seumur hidupnya.

Apa yang dia tulis itu, mungkin, adalah yang paling membuat saya bahagia di momen 40 itu.

Bukan lagi kenyataan bahwa saya memenuhi keinginan saya menanjak Passo dello Stelvio.

Pertanyaannya sekarang: What’s next?

Kalau beruntung, maka saya baru sepuluh tahun lagi merayakan angka lebih keramat, angka 50. Tapi itu masih terlalu jauh.

Apa yang ingin saya capai?

Entahlah.

Dipikirin nanti-nanti aja.

Diresapi dulu tahun usia 40 ini.

Siapa tahu feeling-feeling aneh lain akan menyusul muncul. Dan siapa tahu lucu-lucu, sehingga bisa dijadikan bahan tulisan selanjutnya.

Sambil membiarkan air mengalir, saya akan terus menerapkan apa yang selalu diajarkan orang tua saya: “Tidak usah terlalu dipikir. Kerjakan saja yang bener. Nanti hasilnya akan datang sendiri…” (*)

CATATAN TAMBAHAN: Bagi yang hendak mencapai angka 40, bersiap-siaplah. Bagi yang sudah lewat, semoga tidak tersinggung. Wkwkwkwk…

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up