alexametrics
Asian Games 2018

Asian Games yang akan Tetap di Dalam Jiwa

3 September 2018, 14:10:03 WIB

JawaPos.com – Perenang putri Jepang Rikako Ikee sukses menjadi atlet terbaik setelah menyabet enam medali emas dan dua perak. Pebasket Filipina Jordan Clarkson dengan antusiasme tinggi bermain bersama timnya setelah sempat frustrasi dilarang terbang ke Jakarta oleh NBA. Jonatan Christie sukses membuat para kaum hawa histeris dengan membuka bajunya usai menjuarai nomor perorangan bulu tangkis.

Tiga kejadian di atas merupakan segelintir bukti bahwa ribuan atlet kelas dunia dari seluruh Asia menganggap Asian Games 2018 merupakan salah satu event paling prestisius dan, mungkin, termegah yang pernah ada di dunia olahraga. Lebih dari itu, mereka semua peduli dengan kesuksesan penyelenggaraan acara ini.
Sempat diragukan sukses karena waktu persiapan yang hanya tiga tahun serta berbagai permasalahan ibukota yang mengakar seperti kemacetan akut dan polusi udara yang cukup parah, anggapan tersebut sirna seketika setelah upacara pembukaan yang dilangsungkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno sukses menghentak. Deretan venue di Jakarta maupun Palembang yang dijanjikan bakal menjadi salah satu yang terbaik di dunia pun bukan omong kosong belaka.
Jargon energy of Asia yang menjadi tema Asian Games 2018 pun bukan cuma sekadar tema setelah sejumlah rekor Asia berhasil dipecahkan di berbagai cabang olahraga yang dipertandingkan. Mereka mengeluarkan semua energi dan kemampuan untuk merealisasikan hal tersebut.
Bagi beberapa atlet, Asian Games 2018 bukan cuma sekadar menjadi tolok ukur diri sebelum berpartisipasi di event selanjutnya. Beberapa dari mereka punya misi sendiri. Bagi pesepak bola Korea Selatan Son Heung Min, gelar juara Asian Games 2018 adalah tiket yang membuatnya ‘terbebas’ dari peraturan wajib militer di negaranya. Bagi ratu squash asal Malaysia Nicol David, medali emas Asian Games kelima yang ia raih kemarin menunjukkan bahwa ia masih bisa eksis meski sudah berusia 35 tahun. Bagi tim beregu putri bulu tangkis Jepang, medali emas yang mereka raih melengkapi gelar juara dari tiga kejuaraan beregu skala besar yang mereka ikuti tahun ini.Tak cuma mereka yang menang, Asian Games 2018 juga punya kesan mendalam bagi mereka yang harus jadi pecundang karena gagal membuktikan diri. Bagi perenang putra I Gede Siman Sudartawa, Asian Games 2018 merupakan major event pertama yang sukses membuatnya tegang setengah mati hingga ia tidak bisa meraih satu keping medalipun. Bagi pebulu tangkis putri Liliyana Natsir, medali perunggu di nomor yang ia raih adalah saksi bisu air matanya yang tak terbendung karena gagal meraih medali emas Asian Games yang belum pernah ia kalungkan hingga penghujung karirnya.Layaknya berbagai panggung besar lain, kesempuranaan bukanlah sebuah keniscayaan. Berbagai keluhan tentunya bermunculan, mulai dari sistem transportasi yang cukup membingungkan, logistik yang kerap mengalami keterlambatan, ribuan relawan yang kadang tak paham dengan pekerjaan, sampai ketidakpuasan atlet dengan hasil pertandingan berujung lontaran tuduhan kecurangan. Suka atau tidak, itulah seni dari sebuah multi-event empat tahunan. Asian Games 2018 sukses menyuguhkan itu semua, dan ditutup dengan indah oleh upacara penutupan pada tanggal 2 September malam kemarin. Dari semua keterbatasan yang ada, Asian Games 2018 berhasil menjadi pesta Asia yang sesungguhnya di tahun ini. Mengutip artikel yang ditulis Nazvi Careem dalam scmp.com ia menuturkan bahwa berkaca dari Asian Games 2018, Indonesia sudah siap menjadi penyelenggara event besar berikutnya.”Terima kasih, Jakarta. Kalian adalah kandidat yang kandidat untuk menjadi tuan rumah Olimpiade,” tulisnya.

Editor : Banu Adikara

Reporter : (kar/JPC)

Asian Games yang akan Tetap di Dalam Jiwa