alexametrics

Kewarasan dan Waras Wiris Tutut Wirastuti

27 Juni 2020, 21:26:44 WIB

JawaPos.com – Wirastuti Susilaningtyas menjadi salah satu koreografer sekaligus penari yang tak mau abai dengan situasi di sekitarnya. Pademi yang mendera sejak beberapa bulan terakhir memantik perenungannya tentang ketangguhan merawat kewarasan. Hasilnya adalah sebuah karya berjudul Waras Wiris. Cuplikan karya berdurasi tak lebih dari lima menit tersebut dapat dilihat melalui akun Instagramnya.

’’Waras Wiris dalam bahasa Jawa berarti sehat tak kurang apa pun. Karya ini merupakan refleksi atas situasi pandemi yang kini tengah terjadi,’’ kata Tutut, sapaannya. Salah satu koreografer di balik kemeriahan pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 ini menyebut karya ini dia ciptakan dengan menimbang situasi kini yang mustahil bisa dipresentasikan di ruang pertunjukan. Di saat sama, keterbatasan itu sejalan dengan ide dasar Waras Wiris tentang kekuatan lahir batin manusia yang mestinya selalu terjaga di mana saja dan dalam situasi apa pun.

’’Kita tahu virus Covid-19 sangat ampuh menjangkiti mereka yang daya tahan tubuhnya lemah. Tubuh yang waras, sehat, dengan sendirinya punya ketangguhan kuat melawannya,’’ kata Tutut. Tubuh yang sehat tersebut senyatanya memerlukan jiwa kuat untuk menahan diri dengan menjaga jarak, berpikir positif, dan berdiam di rumah saja. Jiwa galau yang tak tahan berdiam di rumah secara langsung menjadikan tubuh menjadi rentan oleh serangan tak terlihat Covid-19.

Ide tentang upaya menjaga kewarasan lahir batin di tengah pandemi itu lantas dia terjemahkan dalam koreografi yang penuh tenaga. Waras Wiris dia presentasikan di garasi rumah mungilnya di kawasan timur kota Solo. Waras Wiris dibangun dengan dramaturgi yang kuat. Sengaja mengambil waktu pagi buta sesaat sebelum matahari muncul, Waras Wiris menunjukkan kegalauan yang tak mudah kala harus menjaga kewarasan lahir batin di masa pandemi.

Tidak perlu kernyit dahi untuk menemukan relasi antara ide dan presentasi Waras Wiris. Diam di balik pagar menatap gelap, lalu tergelepar membentur kenyataan kerasnya lantai garasi hingga bergulung-gulung menabrak dinding pembatas rumah tetangga, dan kemudian meraung sebelum diam menyambut matahari yang merekah secara terang menunjukkan bagaimana upaya menjaga kewarasan di tengah pandemi bukanlah hal mudah walau harus dilakukan.

Waras Wiris tidak disajikan dengan penggunaan tata cahaya yang berlebih. Eksplorasi gerak dan vokal di antara sorot lampu yang teduh dalam Waras Wiris menjadikan karya ini terasa liris saat berakhir bersama kemunculan semburat matahari pagi dari balik awan. Dalam karya ini Tutut dibantu oleh Teweoe sebagai penata musik dan Noves Hendiansa sebagai videografer. (tir)

 

Editor : tir



Close Ads