alexametrics

Depresi dalam Koreografi Luluk Ari

27 Juni 2020, 15:45:39 WIB

JawaPos.com – Pandemi senyatanya berujung pada situasi-situasi yang dekat dengan depresi. Ada kelesuan yang menggamit kegelisahan di tengah keadaan tak menentu seiring terjangan wabah. Bagi koreografer dan penari seperti Luluk Ari Prasetyo, kenyataan semacam itu tak lantas berujung pada keputusasaan. Sebaliknya, realitas pandemi menjadi sumber baginya untuk mencipta karya.

Bertajuk Depressed, karya terbaru Luluk tersebut dia bagikan melalui akun Instagram miliknya. ’’Karya ini adalah syarat untuk memenuhi panggilan terbuka bagi seniman tari terdampak pandemi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,’’ katanya. Berdurasi lima menit, Depressed menunjukkan perbendaharaan gerak tubuh yang gelisah terkurung kenyataan pandemi.

Luluk menyebut Depressed secara organik muncul dari kenyataan-kenyataan yang dia rasakan selama Covid-19 mewabah dan berdampak bagi dirinya. ’’Banyak kesempatan dan peluang yang hilang akibat wabah Korona,’’ katanya. Luluk mestinya berangkat ke Taipei pada Agustus mendatang. Namun, keadaan yang tak menentu belakangan ini menyulitkannya untuk tetap bisa hadir di sana.

Depressed dibuka dengan adegan dalam sebuah gudang yang  belum rampung. Pada lantai tanah gudang sempit itu terserak batang-batang padi kering. Tepat di samping jendela tanpa daun, sebuah balai-balai bambu beserta kursi reyot di sudut gudang itu menjadi bagian dari arena pertunjukan Depressed. Pelan-pelan Luluk yang bertelanjang dada dan celana panjang sebelah meliukkan tubuhnya. Kadang cepat, menghentak, diam, lalu lesu bersandar pada dinding sebelum bergerak lagi.

Dengan durasi singkat, Depressed menunjukkan rangkaian gerak tubuh sarat kegelisahan dalam situasi yang jauh dari baik-baik saja. Karya ini tampak menimbang tata cahaya dan suara dengan baik. Bias sinar dari jendela tanpa daun yang menimpa asap tipis dari beberapa batang padi terbakar beriring musik karya Hiroaki Yokoyama menajamkan visualisasi gagasan Depressed. Karya ini juga memperhitungkan peran penting sinematografi untuk presentasi daring. Dalam soal ini, Luluk didukung oleh Agus Supertramp yang bertugas merancang pengambilan gambar hingga penyuntingannya.

’’Saya menemukan tantangan yang menarik saat mengalihwahanakan panggung pertunjukan ke arena daring saat menggarap Depressed,’’ katanya. Penggunaan ruang yang tak harus kaku seturut konvensi ruang pertunjukan, kemungkinan melebarkan irisan antara koreografi dan sinematografi, hingga potensi menemukan keintiman virtual menggantikan keakrabah khas ruang pementasan adalah beberapa tantangan baru bagi Luluk setelah melahirkan Depressed. Menurutnya, bukan tak mungkin karya ini bisa berkembang lebih jauh lagi. (tir)

 

 

Editor : tir

Saksikan video menarik berikut ini: