alexametrics
Kita Indonesia

KHP Kridhamardawa Keraton Jogjakarta Viralkan Flash Mob Tarian Jawa

Bangkitkan Lagi Rasa Cinta Budaya
17 Agustus 2019, 09:01:27 WIB

BUDAYA Jawa harus menerima kenyataan bahwa mereka sudah menjadi asing dalam masyarakat mereka sendiri. Di kelompok usia muda atau katakanlah generasi milenial, justru K-pop, electronic dance music (EDM), dan manga yang lebih diakrabi.

Hati Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro miris begitu disodori fakta demikian njomplang-nya animo penonton untuk menyaksikan panggung seni tradisional dan modern. Prambanan Jazz festival yang notabene acara berbayar, kata suami putri keempat Sultan Hamengkubawana X tersebut, bisa tembus 30 ribu penonton.

Sementara itu, pementasan tari gratis dari empat keraton eks Mataram Islam (Kasultanan Jogjakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Kadipaten Mangkunegaran) yang bertajuk Catur Sagatra cuma tembus 2.000 penonton.

’’Padahal, promosi kami sudah gila-gilaan, termasuk pakai flash mob itu. Angka 2.000 tersebut sudah luar biasa mengingat Catur Sagatra sebelumnya paling banyak hanya ditonton 500 orang,’’ ucap KPH Notonegoro Rabu lalu (7/8) saat diwawancarai di Tepas Kasatriyan Keraton Jogjakarta.

Jika ditarik mundur setahun sebelum flash mob diadakan, KPH Notonegoro memang punya harapan bahwa keraton bakal kembali menjadi sentrum kebudayaan Jawa. Dan, Catur Sagatra 2019 yang berlangsung 14 Juli lalu di Keraton Jogjakarta dijadikan momentumnya.

Flash mob yang dilakukan para mataya (penari) KHP Kridhamardawa Keraton Jogjakarta di Malioboro pada 18 Juni lalu adalah pintu masuknya. Selain mengajak masyarakat kembali mencintai seni budaya nenek moyang, mataya flash mob itu menjadi bagian promosi Catur Sagatra 2019.

Dalam gelar budaya tersebut, Keraton Jogjakarta dan KHP Kridhamardawa mendapatkan jatah mementaskan fragmen Subali Lena dalam epos Ramayana. Nah, karena tak mungkin menampilkan secara utuh lakon itu, yang kira-kira menghabiskan 45 menit kalau dipentaskan, performa yang dipertontonkan di Malioboro cuma nukilan gerak Subali Lena. Yakni, gerak dasar kapi (monyet).

Meski cuma gerak dasar kapi yang dihadirkan ke publik, ternyata video berdurasi 5 menit 28 detik ala mataya flash mob tersebut viral. Dalam kanal YouTube Kraton Jogjakarta per kemarin (13/8), video flash mob itu sudah ditonton 386.569 orang dan mendapatkan 1.491 komentar.

Tarian flash mob ala para mataya (penari) KHP Kridhamardawa Keraton Jogjakarta tersebut kemudian ditampilkan di beberapa pusat keramaian Kota Gudeg. Di mal, Malioboro, bahkan sampai ke Bundaran HI Jakarta.

Subali Lena ini memiliki ragam gerak kapi atau monyet. Materi gerakan dasarnya meliputi sabetan, muryaning busana, dan jogedan. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

’’Virus’’ flash mob dengan gerakan tarian Jawa itu cepat menyebar Berbagai komunitas dan instansi pemerintah dari daerah luar kota seperti Jakarta, Bojonegoro, Madiun, Ponorogo, dan Mojokerto sampai meminta KHP Kridhamardawa memberikan pelatihan ke tempat mereka.

’’Belum semua permintaan agar mataya KHP Kridhamardawa mengajar di berbagai daerah bisa kami turuti. Kami akan senang kalau mereka bisa mengirim wakil ke Keraton Jogjakarta dan kemudian akan kami ajari untuk beberapa waktu,’’ kata KPH Notonegoro.

Sutradara mataya flash mob Sri Wigihardo, menuturkan pada awalnya dirinya tak menyangka joget para kapi KHP Kridhamardawa itu akan mendapatkan apresiasi tinggi. Penonton yang hadir sampai ikut menari bersama.

’’Dari situ, kami menjadi optimistis bahwa sesungguhnya masyarakat kita ini masih memiliki rasa cinta besar kepada tradisi aslinya. Cuma, mungkin karena kurang terekspos, makanya seni budaya kita tenggelam dan kalah dikenal,’’ tutur Hardo, sapaan Sri Wigihardo.

Setelah penampilan di Malioboro, mataya flash mob sempat tampil di car free day (CFD) Jakarta serta tiga titik lain di Jogjakarta. Ibarat sebuah ’’serangan balik’’ kepada budaya-budaya dari luar Indonesia, mataya flash mob itu merupakan titik mulanya.

Jadi Suka karena Terbiasa

Mohan Kalandara alias Momo menjadi mataya paling muda ketika tampil pada flash mob 18 Juni lalu di Malioboro. Berusia 13 tahun pada September mendatang, Momo terlihat luwes dan pede ketika njoged kapi.

’’Sebelum tampil di Malioboro, saya dipanggil Kanjeng Noto (KPH Notonegoro, Red) dan dikasih tahu bahwa sayalah yang jadi penari pertamanya. Ya sudah, saya siap,” kata siswa kelas VII SMP Stella Duce 2 Jogja itu.

Potret Momo sebagai generasi milenial yang menggeluti seni tari tradisional memang tidak banyak ditemui saat ini. Momo mengatakan, kebanyakan kawan-kawannya setelah sekolah beraktivitas di bidang olahraga atau musik modern. Lebih buanyak lagi yang memilih asyik nge-game dengan gawainya.

KAKAK ADIK PENARI: Mohan Kalandara (dua dari kanan) dan Jivan Aruna (kanan) bersama orang tua mereka. (Guslan Gumilang/Jawa Pos)

Momo tertarik pada seni tari tradisional karena kebiasaan orang tuanya, Lantip Kuswaladaya dan Jeannie Park, menari di Keraton Jogjakarta. Setiap Minggu, di Pendapa Kasatriyan, KHP Kridhamardawa membuka kesempatan penari dari berbagai daerah di Jogja untuk menari di sana.

Sang bapak, Lantip Kuswala Daya, mengatakan bahwa Momo sebetulnya juga punya bakat bermain sepak bola. Putranya itu bahkan pernah bergabung dengan salah satu franchise akademi sepak bola asal Eropa di Jogja tersebut. ’’Tendangan kaki kiri Momo ini luar biasa. Setiap akhir pekan, dia ikut turnamen di wilayah-wilayah sekitar Jogja,” ucap Lantip. ’’Namun, masalahnya saya setiap Minggu juga punya kewajiban ngajar tari,” tambah pria yang juga bergabung dengan KHP Kridhamardawa sejak dekade 1980-an itu.

Setelah berkonsultasi dengan sang istri, Lantip menanyakan minat terbesar Momo. Menari atau sepak bola. Sejak usia 10 tahun, Momo sebetulnya bergabung dengan Sanggar Tari Wiraga Apuletan.

Sang ibu, Jeannie, mengatakan tak pernah memaksakan soal pilihan sang anak. Namun, karena setiap Minggu Momo dan kakaknya, Jivan Aruna, diajak ke Keraton Jogjakarta, mereka pun jatuh cinta pada jenis kesenian tersebut.

Trivia!

  • Lakon Subali Lena yang merupakan cukilan epos Ramayana ini bercerita tentang petualangan Subali-Sugriwa dalam menaklukkan musuh berat para dewa, yakni Maesasura-Lembusura. Yang dilanjutkan perselisihan dua saudara tersebut sampai kematian Subali.
  • Pementasan Subali Lena di Keraton Jogjakarta bulan lalu membutuhkan 60 penari dengan total durasi penampilan sekitar 45 menit.
  • Subali Lena ini memiliki ragam gerak kapi atau monyet. Materi gerakan dasarnya meliputi sabetan, muryaning busana, dan jogedan.
  • Penghageng KHP Kridhamardawa, yakni KPH Notonegoro, pernah terlibat flash mob sekitar 2013 saat tinggal di New York, Amerika Serikat.
  • Tak seperti tarian sakral Keraton Jogjakarta, yakni bedhaya dan srimpi, saat menarikan Subali Lena, para mataya tak perlu melakukan ritual tertentu.
  • Saat mataya flash mob di Malioboro bulan lalu untuk membantu sosialisasi pementasan Subali Lena ini, KHP Kridhamardawa membagikan kartu serial bergambar berbagai jenis kapi dan penjelasannya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : Diar Candra/c22/c7/jan

Close Ads