alexametrics

Cerita Pralaya dalam Gerak Tubuh Delapan Babak

4 Desember 2019, 17:48:10 WIB

JawaPos.com – Layar yang menjadi backdrop panggung di Gedung Kesenian Cak Durasim pada Senin malam (2/12) menampilkan tulisan yang berganti delapan kali. Tiap-tiap tulisan menyebutkan babak yang akan disuguhkan 10 penari dari Bali dan Kanada dalam teater tari Pralaya. Mereka berusaha menceritakan kisah pralaya yang menjadi bagian dari Mahabharata melalui gerak tubuh yang diiringi alunan gamelan Bali.

Prolog pralaya membuka penampilan para penari dari Geoks Singapadu, Bali; dan Lata Sampradaya, Kanada. I Wayan Dibia yang mengenakan pakaian tradisional Bali menari dengan Lata Pada yang mengenakan pakaian tradisional India. Keduanya juga menjadi konseptor dan koreografer dalam pertunjukan malam itu. Mereka memadukan gerakan tari bharatanatyam dari India dengan tari pendhet, kecak, dan cendrawasih dari Bali.

Berturut-turut kemudian babak Pemujaan kepada Dewa Ganesha, Penulisan Kisah Mahabharata, dan Drama Kehidupan disajikan. Delapan penari mengenakan kostum merah, lalu berganti cokelat. Mereka menyajikan gerakan-gerakan indah. Bahkan, cerita permainan dadu dan peperangan antara Pandhawa dan Kurawa bisa disajikan dengan gerakan penuh makna dalam dua babak, Permainan Dadu dan Perang Bharatayuda. Gerakan dengan intensitas tinggi itu lantas melembut pada dua babak terakhir, Usai Perang dan Pesan untuk Direnungkan. Selama 65 menit, mata penonton terus mengarah ke panggung seakan tak mau melewatkan adegan sedikit pun. Setelah para penari memberikan salam penutup, tepuk tangan panjang reflek dilakukan penonton. Tepuk tangan belum selesai, bahkan ketika Dibia dan Lata Pada muncul ke tengah panggung.

Dibia merupakan akademisi berdarah Bali. Sementara itu, Lata Pada berasal dari Kanada, namun berdarah India. Mereka kemudian menjelaskan pertunjukan tersebut. Menurut mereka, teater tari itu adalah hasil diskusi selama enam bulan pada 2016. Mereka memutuskan menggabungkan dua kebudayaan dalam pertunjukan tersebut.

’’Hal itu menunjukkan persatuan. Sebab, perbedaan kami banyak, namun juga banyak persamaan jika diperhatikan,’’ tutur Dibia. Dia menjelaskan bahwa salah satu persamaannya adalah memiliki sastra Mahabharata. Menurut dia, kisah Mahabharata masih relevan hingga saat ini. Itulah alasan konsep tari dipilih dari cerita tersebut. ’’Kami ingin menjelaskan bahwa perdebatan tentang perbedaan dan prasangka buruk sudah pasti mengakibatkan kehancuran, sama seperti kondisi saat ini,’’ ungkap dosen Seni Tari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : nas/c20/any


Close Ads