alexametrics

Merawat Lukisan, Menjaga Peradaban

25 Oktober 2020, 18:47:32 WIB

Memelihara karya lukisan bukanlah perkara mudah. Apalagi bila lukisan itu sudah diberi titel masterpiece. Butuh ketelatenan dan cara-cara khusus dalam memelihara atau mengonservasi agar lukisan.

INDONESIA memiliki seniman-seniman lukis bertalenta di setiap masanya. Kita mengenal Raden Saleh lewat karya-karya fenomenalnya. Atau Basuki Abdullah, Henk Ngantung, Affandi, hingga pelukis-pelukis masa kini seperti Roby Dwi Antono dan Naufal Abshar.

Di era sekarang, cukup banyak orang yang mengoleksi lukisan. Sebab, lukisan bisa memiliki banyak fungsi. Sebagai benda seni, bentuk ekspresi, dan fungsi-fungsi lainnya. Atau sekadar menjadi pemanis ruangan.

Lukisan yang tersimpan di tempat khusus seperti Galeri Nasional, Museum Affandi, atau galeri-galeri lainnya memiliki makna yang lebih dari sekadar benda seni. ’’Lukisan ini juga merupakan dokumentasi,’’ terang Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto dalam diskusi daring bertema Tantangan Baru Memelihara Koleksi Lukisan Selasa lalu (6/10).

Dia mencontohkan Raden Saleh yang hidup pada abad ke-19. Saat itu fotografi belum berkembang dengan baik. Maka, hanya pelukis yang bisa mendokumentasikan peristiwa penting dalam sebuah gambar. Sehingga lahirlah karya-karya besar. Salah satunya lukisan berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan itu menggambarkan apa yang terjadi saat Diponegoro ditangkap serdadu Belanda untuk diasingkan.

Dengan nilai sejarah dan keindahan yang begitu tinggi, memperlakukan lukisan juga tidak bisa asal-asalan. Satu tantangannya saat ini, bagaimana menjaga karya-karya tersebut agar tetap dalam kondisi baik meski sudah dimakan usia.

Sebelum masuk pada cara-cara pemeliharaan lukisan, penting untuk diketahui mengapa sebuah lukisan penting untuk dipelihara dengan hati-hati. Yang utama adalah untuk menjaga nilai lukisan itu. Misalnya, nilai kesejarahan atau otentisitas. ’’Lukisan yang sebenarnya itu rusak, kemudian diperbaiki. Tidak boleh dibagus-baguskan,’’ lanjutnya. Sebab, hal itu akan menghilangkan nilai otentisitasnya.

Konservator Galeri Nasional Indonesia Jarot Mahendra menuturkan, umumnya, lukisan sebagai materi budaya pasti memiliki batas usia. Lambat laun ia akan mengalami penurunan atau degradasi kualitas.

Di dalam sebuah lukisan ada beberapa lapisan. Paling dasar adalah kanvas, yang umumnya menggunakan bahan organik. Bahan itu cukup rawan rusak. Meskipun di era sekarang ada juga kanvas dari bahan anorganik yang lebih tahan hama dan rayap.

Di atas kanvas ada campuran cat dasar yang jadi tumpuan untuk gambar lukisan. ’’Ketika melukis di atas kanvas, sebenarnya kita tidak melukis langsung di atas kanvasnya,’’ jelas Jarot. Melainkan di atas cat dasar yang umumnya berupa senyawa karbonat. Di atas cat dasar itu, barulah ada lapisan cat lukis. Itu pun beragam kualitasnya.

Baca juga:

Jarot mencontohkan lukisan karya Raden Saleh di Galeri Nasional Indonesia. ’’Cat yang digunakannya memiliki kualitas yang baik,’’ katanya. Bahkan, sampai saat ini, hanya sedikit degradasi yang terjadi. Seperti retak-retak alami karena faktor usia. Semacam penuaan bila diibaratkan kulit manusia.

Di atas lapisan cat lukis ada lapisan varnish. Itu adalah unsur tambahan dalam lukisan yang berperan penting. Sebab, varnish bisa melindungi lukisan dari paparan lingkungan di sekitarnya. Awalnya, warna varnish akan terlihat transparan. Namun, seiring usia, varnish akan memudar atau menguning.

Bila hendak memperbaiki sebuah lukisan, perhatian utama jatuh pada layer-layer tersebut. Lapisan mana yang misalnya hendak dibersihkan. Karena itu, konservasi atau pemeliharaan lukisan menjadi tidak mudah. ’’Tidak sembarang orang bisa melakukan konservasi suatu lukisan tanpa memiliki ilmu yang kuat,’’ tuturnya.

Apa penyebab sebuah lukisan rusak? Menurut Jarot, penyebabnya bisa bermacam-macam karena kelembapan dan temperatur ruangan tempat menyimpan lukisan.

Penyebab lainnya adalah radiasi. Problem lainnya adalah hama. Contohnya, tikus atau serangga. Karena itu, dalam merawat lukisan, ada hal mendasar yang harus diperhatikan. Misal memastikan koleksi lukisan sudah tercatat dengan benar. Lalu menempatkan koleksi pada tempat yang baik. Antar lukisan harus diberi pembatas. Kelembapan udara, misalnya, bahkan pH-nya, harus stabil. Iwa merekomendasikan dijaga pada suhu 19–21 derajat Celsius.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : byu/c18/dra



Close Ads