alexametrics

Rayakan Lengsernya Soeharto, Lukisan Celeng Djoko Pekik Laku Rp 1 M

23 Mei 2021, 14:07:00 WIB

DUNIA seni rupa Indonesia menjadikan peristiwa reformasi sebagai inspirasi penciptaan karya. Dosa-dosa politikus, kehidupan yang serbarepresif, dan ketidakadilan dalam konteks sosioekonomi adalah tema-tema yang dihadirkan para perupa dalam karyanya.

Seniman yang sudah melewati tiga zaman pemerintahan Indonesia (Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi), Djoko Pekik, merayakan lengsernya Soeharto pada Mei 1998 dengan lukisan Berburu Celeng (1998). Lukisan yang laku dijual Rp 1 miliar itu menggambarkan keramaian khalayak menggotong celeng gemuk. Kegemilangan penangkapan celeng itu dirayakan dengan sejumlah orang yang menari dan merias wajahnya.

”Celeng itu kan apa saja doyan. Membabi buta. Perusak. Celeng itu seperti pemimpin yang penuh dengan angkara murka,” ujar perupa yang bergabung dengan Sanggar Bumi Tarung itu.

Djoko termasuk seniman yang mengalami ketidakadilan di era Orde Baru. Seniman 84 tahun itu dihukum penjara tujuh tahun (1965–1972) tanpa pernah menjalani proses peradilan.

Seniman yang memproduksi karya tentang reformasi adalah Heri Dono. Heri membuat video instalasi Interrogation (1998). Berbagai wajah tampil di televisi dengan berbagai ekspresi. Di depan televisi itu moncong senjata pun ditodongkan.

”Wajah-wajah itu merepresentasikan para aktivis yang diculik pada masa Orde Baru. Mereka sampai sekarang entah di mana rimbanya,” kata Heri saat dihubungi Jawa Pos.

Seniman Agung Kurniawan mengusung citraan mengenai keluarga Cendana dalam lukisannya yang berjudul The Holy Family (1997). Konsep itu disarikan dari tradisi Katolik yang menaungi sosok Yesus, Maria, dan Yoseph dalam sebuah keluarga yang suci. Namun, di Indonesia, Agung melihat The Holy Family adalah keluarga Cendana. Yakni, sebuah keluarga yang berkuasa atas berbagai aspek kehidupan.

”Meskipun saya menggambar secara retoris, orang tahu itu berhubungan dengan keluarga Cendana. The Holy Family adalah situasi keluarga Soeharto yang digambarkan secara sarkas,” jelas Agung.

Kemudian, dalam Very, Very Happy Victims (1996), Agung menampilkan orang-orang yang sedang dihukum dengan cara digantung, kaki di atas dan kepala di bawah. Namun, wajah-wajah orang itu justru tampak gembira.

Seniman asal Belanda yang sejak 1980-an tinggal di Jogja, Mella Jaarsma, ingat betul bagaimana Orde Reformasi membuat warga Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Berangkat dari hal itu, pada 3 Juli 1998 Mella dan warga Belanda di Jogja melakukan gerakan di trotoar Malioboro.

”Kami menggoreng swike untuk dibagikan kepada warga yang melintas,” kata Mella. Swike merupakan menu yang kerap hadir di meja-meja makan keluarga Tionghoa. Bagi warga non-Tionghoa, swike kurang familier.

”Dari gerakan yang dilakukan di Malioboro itu lahirlah dialog. Akhirnya, banyak warga yang bercerita tentang kekerasan kepada kaum Tionghoa di Jogja,” ujar Mella. ”Lalu, mereka saling memahami kepedihan yang dirasakan kaum Tionghoa selama reformasi,” jelasnya.

Kurator dan Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Mikke Susanto mengatakan, saat berkuasa selama 32 tahun, Soeharto memperlakukan seniman dengan ”istimewa”. Persoalan pasar bagaimana karya laku dengan mahal lebih mengemuka ketimbang bagaimana karya menjadi kritik sosial.

”Pertengahan dekade 1990-an, seniman-seniman mulai menyadari harus ada yang didekonstruksi. Seni harusnya menyuarakan kritik,” kata Mikke. Maka, muncullah nama-nama Taring Padi, Agung Kurniawan, Heri Dono, Tisna Sanjaya, dan Djoko Pekik. Dan, Djoko, menurut Mikke, ibarat satu dibanding seribu seniman senior yang kala itu dengan sangat berani menumpahkan ekspresinya ke dalam karya seni.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : rin/gus/c19/c13/dra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads