alexametrics

Tradisi dan Teknologi dalam Satu Frame

22 Oktober 2019, 21:57:29 WIB

JawaPos.com – Perupa asal Magelang Cipto Purnomo menghadirkan tradisi dan teknologi dalam satu frame. Lebih tepatnya satu kanvas. Sebab, yang dia hasilkan adalah enam buah lukisan yang dipamerkan di Hotel Novotel Samator hingga 31 Oktober mendatang.

Menurut dia, tradisi dan teknologi adalah dua hal yang sangat berbeda. Namun, keduanya hidup bersamaan. Pria alumnus Institut Seni Indonesia tersebut menjelaskan bahwa tradisi itu ada sejak dulu. Meski negara berkembang, tradisi akan tetap sama. Bahkan menjadi karakter atau identitas. Berbeda tempat, berbeda pula tradisi yang dianutnya.

Berbeda halnya dengan teknologi yang semakin hari akan semakin berkembang. ”Dan, di setiap tempat, teknologi ini akan sama. Meskipun di beda negara sekalipun,” terangnya kemarin (21/10). Unsur tradisi diwakili candi-candi yang ada di sekitar Borobudur. Untuk unsur teknologi, Cipto menghadirkan alat-alat transportasi hingga robot-robot.

Lukisan dengan aliran surealisme itu dia wujudkan dengan suasana yang imajinatif. Yang tidak ada dalam kehidupan nyata. Misalnya mobil yang bisa terbang sampai candi yang dibangun di atas awan. Sisi artistik lainnya dia hadirkan pada teknologi-teknologi yang berkarat. ”Sebenarnya ini hanya untuk memperkuat karakternya saja,” sambungnya.

Secara pribadi, pria kelahiran Magelang, 18 Agustus 1983, tersebut sangat menyukai barang-barang antik. Kesukaannya itu dia tuangkan ke dalam karya yang memang menggambarkan apa yang ada di sekitarnya dan apa yang ada di imajinasinya. ”Terus, menurut saya juga, yang berkarat ini lebih ada nilai artistiknya daripada yang cling. Ini menurut saya loh tapi,” ujarnya, lantas tertawa.

Dari lukisan-lukisan yang menggabungkan dua hal yang berbeda itu, Cipto sebenarnya membawa pesan yang tak kalah penting. Yakni, meski teknologi kian hari akan kian maju, alangkah baiknya kita tidak meninggalkan jati diri dan karakter. ”Hidup di zaman modern itu kalau tidak mengenal tradisi dengan baik akan terlena dengan teknologi yang semakin berkembang. Padahal, tradisi ini seharusnya menjadi identitas kita masing-masing,” terangnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ama/c17/any



Close Ads