alexametrics

Meneroka Lukisan Karya Tunanetra

21 Juli 2020, 00:01:35 WIB

JawaPos.com – Lukisan bukan hanya diciptakan oleh mereka yang bernetra baik-baik saja. Tunanetra juga mampu menciptakan bentuk visual seturut imajinasi mereka. Tomi Firdaus membuktikannya. Melalui serangkaian riset, Tomi meneroka lukisan karya tunanetra di sebuah sekolah luar biasa di Yogyakarta.

“Saya dibantu teman-teman dalam aktivitas ini,” kata Tomi. Bersama Achmad Fiqih, Raka Hadi, Siam Candra, dan Fasmaqullah, Tomi melakukan risetnya di Madrasah Tsanawiyah Luar Biasa A yang dikelola Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam di Yogyakarta. Ada sekitar 22 murid MTsLB/A Yaketunis yang terlibat dalam riset Tomi.

Tomi dan teman-temannya tidak hanya membagikan pengetahuan tentang melukis kepada para para murid MTsLB/A Yaketunis. Dia juga menelisik bagaimana wujud visual dari mereka setelah mendapat perkenalan bagaimana mewujudkan imajinasi visual masing-masing. Teroka yang Tomi lakukan dapat membantu untuk memahami dengan lebih terang tentang apa di balik sebuah lukisan karya seorang tunanetra.

Dalam prosesnya, Tomi menggunakan tiga langkah rekognisi sensorik kepada murid MTsLB/A Yaketunis yang terlibat dalam riset ini. “Pengenalan konsep bangun ruang ada dalam tahap pertama,” katanya. Dalam tahap ini masing-masing murid dikenalkan pada tiga bentuk berbeda yaitu segitiga, persegi, dan lingkaran dengan cara meraba objek lalu menggambarkannya dengan menggunakan crayon. Tiga bentuk itu didekatkan dengan wujud rupa-rupa visual ruang seperti rumah yang mengandung segitiga dan persegi. Pada tahap ke dua, langkah rekognisi dilanjutkan pada bentuk yang lebih kompleks.

Di bagian ini murid MTsLB/A Yaketunis diminta untuk berpasangan dan duduk berhadapan.  Lalu, para pendamping mengarahkan tangan mereka ke wajah pasangan di depannya secara bergantian. Mereka meraba dengan tangan seperti apakah bentuk hidung, bibir, telinga, dan mata. “Pada rekognisi ke dua ini para pendamping juga bertugas memberi panduan letak tiap unsur wajah saat dituangkan di atas kertas atau kanvas,” katanya.

Panduan tersebut hanya sebatas meletakkan tangan di posisi unsur dalam wajah di atas kertas atau kanvas. Tarikan garis hingga pilihan warna diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing murid MTsLB/A Yaketunis. Rabaan itu kemudian dituangkan ke dalam gambar maupun lukisan. Lalu, tahap terakhir adalah melukis bebas dengan menggunakan jemari sebagai kuas.

Tomi menyebut proses tersebut tidak hanya diikuti oleh mereka yang mengalami kebutaan total sejak lahir. Ada beberapa yang tunanetra dalam kategori pengelihatan terbatas. Tomi menambahkan, para peserta hanya menggunakan tiga warna dasar. “Mengenalkan pengetahuan tentang warna menjadi tantangan yang tak mudah. Itu sebabnya hanya ada tiga warna dasar yang digunakan,” bebernya.

Hasil dari riset yang menjadi tugas akhir Tomi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tersebut menarik untuk diperhatikan. Beberapa murid yang mengalami kebutaan sejak kecil justru menunjukkan jejak visual ekspresif. Tidak ada beban membentuk imaji yang harus sama dengan aslinya. Saling tindih warna dan tarikan garis yang kuat menjadikan karya-karya tersebut unik. “Tentu saya berharap riset dan aktivitas melukis bersama teman-teman tunanetra ini bisa terus berlanjut,” pungkasnya. (tir)

 

Editor : tir



Close Ads