alexametrics

Pada Keramik Pur Clay

Oleh WAHYUDIN *)
19 Juli 2020, 09:19:08 WIB

SAYA mengenalnya sejak sekira 15 tahun lalu dengan nama Purnomo. Tapi kemudian ia lebih dikenal sebagai Purnomo Clay. Yang akrab dengannya memanggilnya Pur Clay. Lahir di Jogjakarta, 20 Mei 1982, Pur Clay adalah perupa yang langka di dunia seni rupa kontemporer Indonesia, khususnya di Jogjakarta.

Selama lebih kurang 50 tahun terakhir, setidaknya sejak 1960-an, seni rupa Jogjakarta telah melahirkan ratusan, bahkan ribuan, pelukis dan pematung yang sejumlah di antaranya masyhur, dan memasyhurkan seni rupa Indonesia, di kancah seni rupa dunia.
Tapi sepanjang itu pula seni rupa Jogjakarta seret melahirkan perupa keramik, perupa yang terampil secara teknis, genial dalam gagasan, dan cakap secara artistik berkarya seni rupa dengan media keramik.

Bahkan, setelah Jurusan Kriya Keramik dibuka di ISI Jogjakarta pada 1980-an, seni rupa Jogjakarta baru memiliki, kalau hitungan saya tak meleset, 4 perupa keramik yang terbilang intens berkarya dan berpameran. Mereka adalah Endang Lestari (angkatan 1995), Donna Prawita Arissuta (angkatan 1998), Purnomo Clay (angkatan 2003), dan Dyah Retno Fitriani (angkatan 2005).

Kelangkaan itu bergeming bahkan setelah ditambahkan jumlah perupa keramik yang berkarya di luar Jogjakarta, seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor. Jumlahnya tak lebih dari jumlah jari dua tangan: Nia Gautama (Jakarta), Luthfi Anwar Noor (Jakarta), Albert Yonatan (Bandung), Agung Ivan (Bandung), Antin Sambodo (Bandung), Evy Yonathan (Bandung), Natas Setiabudhi (Bandung), Nurdian Ichsan (Bandung), dan Widayanto (Bogor).

Dalam kelangkaan itu, alih-alih intensitasnya dalam bekarya seni keramik sejak 2008, Purnomo beroleh pengakuan eksistensial di dunia seni rupa kontemporer Jogjakarta sebagai Purnomo “Clay” atau Purnomo Si Keramikus Tanah Liat.

Tapi, terutama setelah pameran tunggalnya kali pertama pada 2009, dia terakui sebagai perupa keramik yang khas dengan karya-karya yang mengestetikasi benda-benda budaya populer dan bermerek. Khususnya dari periode 1990-an, seperti kaset, klise, kamera, walkman, tape recorder, sneaker, dan sepatu boot.

Dalam khazanah seni keramik kontemporer, pokok perupaan itu, terutama sneaker dan sepatu boot, merupakan keunggulan-perbandingan Pur Clay. Dengan kata lain, pokok perupaan itu adalah “cap khusus”-nya di dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Belakangan ini, dia menambahkannya dengan (sedang) membuat objek-objek budaya populer mutakhir berupa kotak Louis Vuitton.

Kotak keramik Louis Vuitton yang belum diselesaikan Purnomo. (Wahyudin)

Dalam mengestetikasi objek atau benda budaya populer itu, Pur Clay bertolak dari konsep apropriasi, rekreasi, restorasi, dan repetisi satu produk (budaya populer) menjadi sejumlah karya (seni rupa kontemporer). Dalam hal itu dia, sebagaimana pengakuannya, terilhami oleh konsep Ai Weiwei (1957), terutama dengan karya-karya tempayan “kuno”-nya.

Tapi, harus dikatakan, pada pemilihan bentuk karya Pur Clay berbeda dengan Ai Weiwei. Seperti terkatakan di atas, Pur Clay mengapropriasi dan merepetisi objek atau benda budaya populer—sedangkan Ai Weiwei mengapropriasi objek dan benda kuno.

Sementara itu, perlu dikatakan pula, Pur Clay memiliki, alih-alih terinspirasi, kecenderungan teknik-artistik yang sama dengan seniman keramik Li Xiaofeng (1965). Terutama dalam teknik jahit, sebagaimana terlihat dalam (presentasi) karya-karya berbentuk klise dan kaset. Perbedaannya, Li Xiaofeng “menjahit” pecahan-pecahan guci lawas (found object) menjadi aneka rupa fesyen kontemporer, sedangkan Pur Clay “menjahit” keramik klise dan kaset (rekreasinya) menjadi aneka bentuk dan figur abstrak dua dimensi.

Dengan persamaan dan perbedaan itu, karya-karya keramik Pur Clay boleh dibilang terpaut dengan praktik artistik seni keramik di dunia seni rupa global-internasional, tapi tetap berciri khas pada pokok perupaan dan presentasinya.

Pada Juli ini seharusnya Pur Clay menggelar duo-ekshibisi bersama keramikus Putu Arya di Galeri Semarang. Tapi pandemi Covid-19 yang menyebar cepat hingga Kota Tua Semarang sejak Maret membuat pameran itu ditunda hingga saat yang memungkinkan nanti. Padahal saat itu dia tengah giat-giatnya berkarya. Salah satu dari delapan karya untuk pameran itu yang sempat dirampungkannya adalah “Abadi”. Karya ini mengeramikkan sajak Goenawan Mohamad “Kwatrin tentang Sebuah Poci” (1973). Tipografinya mengikuti siluet potret penyair kelahiran Batang, Jawa Tengah, 29 Juli 1941, itu di kanvas hitam berukuran 120 x 120 sentimeter.

“Saya suka sajak itu,” kata Pur Clay. “Dengan mengeramikkannya, rasanya seperti memahat ‘ayat suci’ di hati.”
Apa boleh buat, sebelum “ayat suci” itu dipajang di Galeri Semarang, Covid-19 kadung datang menyerang. Tapi itu bukan dalihnya untuk patah arang.

“Proses kreatif saya sejak masih mahasiswa memang penuh aral-melintang. Tapi itu justru menantang saya sebagaimana menantangnya membuat keramik,” kata jebolan PPKP Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Dengan optimisme semacam itu Pur Clay menerima segala tiba dari esok hari atau masa depan sebagai misteri sekaligus harapan yang memampukannya tabah. Siapa yang menduga Covid-19 akan mewabah. Siapa yang mengira induk semangnya tak memperbolehkannya lagi menyewa rumah-studio yang sudah ditinggali bersama istrinya selama hampir sepuluh tahun terakhir.

Rumah-studio berukuran sekira 4 x 12 m2 itu, dengan satu kamar mandi dekat dapur, ruang tengah bermeja kerja dan bertelevisi mungil, dua kamar untuk tidur dan simpan barang, dan satu kamar di luar yang terbengkalai, berada dekat, lebih kurang 10 menit jalan kaki, di selatan rumah saya.

Kebetulan kompleks perumahan saya satu Rukun Tetangga (RT) dengan rumah-studio Pur Clay di Dusun Jeblog, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Itu sebabnya, kalau bukan mengunjunginya, saya kerap melewati rumah-studio Pur Clay, terutama saat hendak jumatan ke masjid dusun.

Keramik di kanvas. (Wahyudin)

Malam hari adalah saat yang paling memungkinkan untuk bertandang ke rumah-studio Pur Clay. Dia adalah tipe “perupa kalong” yang daya ciptanya meruap di malam hari. Tapi, sejak bekerja di studio seniman serbabisa Butet Kartaredjasa tiga tahun belakangan, alih-alih tidur di pagi hingga sore hari, dia beroleh ruang alternatif untuk berjaga dan berkarya.

“Tapi jauh sebelumnya aku sering garap sendiri di rumah,” katanya. “Kecuali bakar ya harus nitip karena aku belum punya tungku sendiri.”

Maka malam hari pun menjelma masa bertamasya ke dunia maya dengan iringan musik untuk menjemput ide atau inspirasi merancang-bangun suatu karya.
“Musik jenis apa?”
“Tergantung hati … (tertawa). Lagi pengen denger musik keras atau musik melow. Tapi ngalir aja sih. Sambil dengerin musik tak translate ke Bahasa Indonesia. Setelah itu tak resapi mana yang cocok. Baru setelah itu mikirin visualnya. Kadang kebalik, visualnya udah ketemu tapi isinya apa belum, tak cari lewat musik. Saya suka The Cranberries.”

Dari proses kreatif seperti itu lahir sejumlah karya, antara lain Get Up Stand Up (2018, keramik bone china, 20 x 25 x 15 sentimeter), Unbreakable (2018, keramik di kanvas, 80 x 79 sentimeter), dan Menyanjung Harapan (2019, keramik di kanvas bundar, 50 sentimeter garis tengah), yang telah terpamerkan di Malang dan Jogjakarta.

Apatah nasib, ketika Jogjakara memberlakukan penjarakan sosial pada April lalu, Pur Clay harus boyongan, pulang kampung ke Pijenan, Wijirejo, Pandak, Bantul. Jaraknya 13,6 kilometer dari Jeblog, atau sekitar 35 menit bermobil. Lumayan jauh … (*)


*) Wahyudin, Kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads