alexametrics

Tak Melulu Tawarkan Refleksi Artistik

18 Juli 2020, 00:26:56 WIB

JawaPos.comARTJOG: Reselience tidak melulu menawarkan refleksi artistik para seniman atas kondisi mutakhir seni di Indonesia pada masa pandemi Covid-19. Festival ini juga ingin memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh ekosistem seni rupa di Indonesia. ’’Inspirasi utama untuk tema resiliensi atau ketahanan ini adalah berbagai kerja artistik maupun sosial yang dilakukan oleh para seniman di Indonesia selama masa pandemi,’’ jelas Agung Hujatnikajennong, Kurator Reselience.

Jennong menyebut di tengah pandemi, banyak seniman bergerak ulang-alik antara bekerja di rumah atau studio masing-masing, namun juga tetap terlibat secara sosial dengan masyarakat luas. Selain membantu sesama seniman, mereka juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemsayarakatan. Aktivitas mereka menunjukkan cara pandang yang tidak memisahkan secara tegas antara praktik kesenian dengan kehidupan sehari-hari. ’’Ini hanyalah bukti kecil bagaimana praktik artistik yang berkembang dalam ekosistem seni rupa kita pada dasarnya tumbuh dari kultur komunal yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia,’’ katanya.

Bambang Toko yang juga menjadi Kurator Reselience menambahkan, ARTJOG adalah festival yang lahir, tumbuh dan berkembang secara organik. ’’ARTJOG lahir dari inisiatif dan upaya para seniman sendiri. Oleh karena itu, pameran tahun ini utamanya ingin menunjukkan pula solidaritas dan kebersamaan para seniman, terutama pada masa krisis,’’ katanya. Berbeda dengan ARTJOG edisi-edisi sebelumnya, Reselience lebih berfoukus pada seniman Indonesia.  Ignatia Nilu yang juga bertugas sebagai Kurator ARTJOG menyebut hal itu terkait dengan hambatan teknis dampak pandemi di mana pengiriman karya dan transportasi seniman-seniman internasional ke Yogyakarta menjadi lebih sulit.

Pada awal Februari 2020, ARTJOG telah merencanakan penyelenggaraan dengan tema Time (to) Wonder yang mestinya berlangsung Juli-Agustus 2020 di Yogyakarya. Namun, seturut merebaknya wabah yang tidak kondusif, rencana itu harus ditunda. Pada 23 April 2020 lalu penyelenggaraan edisi Time (to) Wonder resmi diundur tahun depan.

Yang menarik, selama masa pembatasan sosial, ternyata aktivitas kesenian tidak sepenuhnya mandeg. Para seniman tetap berkarya, memanfaatkan masa pembatasan sosial untuk kembali berfokus dengan kerja studio mereka. Pemanfaatan teknologi digital dioptimalkan, menghasilkan pemikiran dan karya- karya baru. Hal tersebut semakin menegaskan karakter para pekerja seni Indonesia yang lentur, gigih dan kreatif. Bagi para seniman, situasi krisis ini justru menguji mereka untuk bisa menyumbangkan sesuatu yang lebih berarti bagi dunia.

Penyederhaan dan penyesuaian dalam penyusunan program-program ARTJOG dilakukan pada edisi Reselience ini. Untuk sementara, program penghargaan untuk seniman muda dan ARTJOG Daily Performance tidak dilaksanakan. Pameran seni rupa masih tetap menjadi menu utama dari festival yang digelar setiap tahun. Manajer Program ARTJOG, Gading Paksi menyebut situasi pandemi menjadi tantangan baru bagi penyelenggaraan Reselience. ’’Proses pemajangan karya seni menghadapi tantangan baru dan berbeda. Selain memajang karya di ruang pamer, kami juga berupaya untuk menghasilkan konten audio visual yang berkualitas sehingga ARTJOG tetap bisa dinikmati dari rumah,’’ katanya.

Publik dapat mengakses pameran ARTJOG secara daring melalui website. Saat pemerintah mengizinkan dan kondisi memungkinkan, pameran akan dapat diakses langsung di lokasi dengan memberlakukan sistem sesuai dengan prosedur dan protokol kesehatan dari pemerintah. Reselience dilengkapi dengan Lelang Amal dan ARTCARE. Program ini dihadirkan dengan tujuan menggalang bantuan finansial untuk para seniman Indonesia dan masyarakat luas yang terdampak pandemi. Penggalangan dana tersebut akan dikelola oleh Yayasan Hita Pranajiwa Mandaya.

Sementara, program-program edukasi seperti Exhibition Tour dan Meet the Artist akan tetap dilangsungkan secara daring. Program reguler baru yang akan menjadi kejutan tahun ini adalah Murakabi Movement, sebagai kelanjutan dari proyek Warung Murakabi yang ditampilkan pada ARTJOG tahun lalu. Di tengah situasi yang tidak menentu, Reselience hadir sebagai proyek yang menguji kembali kegigihan, daya tahan, daya juang, kontribusi dan solidaritas di antara para praktisi kesenian. Misi ini mencerminkan sifat-sifat dasar sebuah festival sebagai ruang sosial, di mana berbagai sajian dan kegiatan di dalamnya hanyalah perantara untuk terjalinnnya hubungan harminis antarmanusia dan kelangsungan masa depan yang lebih baik. (tir)

 

Editor : tir



Close Ads