alexametrics

Meneroka Batas, Pameran Karya Seniman Difabel di Solo

13 November 2019, 15:22:22 WIB

JawaPos.com – Festival Bebas Batas 2019 dibuka Minggu (10/11) lalu dan akan berakhir pada Jumat (15/11) mendatang di Pendapa ISI Solo. Festival yang ditaja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia serta ISI Surakarta itu menyajikan karya seni rupa para seniman difabel dari seluruh Indonesia yang lolos seleksi kurasi undangan terbuka.

’’Ada 28 orang seniman difabel yang mengikuti pameran ini,’’ kata Kurator Fesival Bebas Batas 2019, Hendra Himawan.

Menurutnya, 28 orang seniman tersebut ada yang lebih dari satu karyanya lolos kurasi. ’’Total ada 40 karya dan 38 karya dari empat rumah sakit jiwa,’’ katanya.

Pameran itu bertajuk Meneroka Batas. Hendra menyebut, pameran dalam festival ini tidak semata-mata mengutamakan sisi artistik karya para seniman difabel. Melainkan juga menimbang dampaknya bagi para apresiator. Melihat karya dalam pameran ini secara otomatis apresiator tidak akan lagi memberikan apresiasi atas dasar iba kepada penciptanya.

Selama ini, karya seniman dengan disabilitas kerap mendapat apresiasi yang kurang adil karena apresiator kerap menempatkan rasa iba terhadap keterbatasan penciptanya sebagai ukuran penilaian. ’’Dalam seni rupa, karya dilihat sebagai karya. Tidak peduli apakah senimannya seorang disabilitas atau tidak,’’ kata Hendra.

Dengan pertimbangan tersebut, sisi estetika dalam wujud artistik karya sangat menentukan lolos tidaknya sebuah karya melewati proses kurasi yang Hendra lakukan di pameran ini. Di saat sama, batas dan keterbatasan dalam konteks seni dan difabel tidak serta-merta membatasi para seniman berkarya dengan bebas.

Menariknya, walau pameran seni rupa menjadi sajian utamanya, Festival Bebas Batas 2019 juga menampilkan sejumlah pertunjukan seni dari para difabel. Ada pembacaan puisi, pentas perkusi, hingga breakdance. Para penampil di atas panggung menunjukkan kemampuannya dengan sungguh-sungguh.

Selain itu, serangkaian lokakarya juga diselenggarakan bagi para peserta pameran yang datang bersama masing-masing pendampingnya. ’’Ada ungkapan kreatif dari tiap karya. Bila digali lebih dalam, tiap karya punya cerita masing-masing,’’ kata Henri Cholis, salah satu pengajar ISI Solo yang menjadi narasumber lokakarya.

Pada kegiatan itu, ada empat jenis materi lokakarya yang dapat diikuti peserta. Yaitu, lokakarya seni grafis, batik, gerabah, dan lukis. Peserta dibebaskan memilih lokakarya mana yang akan diikuti. Mereka kemudian mendapatkan pengetahuan-pengetahuan teknis pada masing-masing tema dengan langsung mempraktikkannya.

’’Bagian yang menampilkan karya dari rumah sakit jiwa sangat menarik,’’ kata Theresa Adidoyo, salah satu pengunjung.

Menurutnya, bentuk-bentuk visual para pasien RSJ dalam pameran ini banyak kuat dan membuktikan keterbatasan oleh sakit jiwa tidak membuat para disabilitas psikososial tak mampu berkarya. Pada bagian RSJ pameran ini menampilkan karya dari RSJ Palembang, RSJ Solo, RSJ Magelang, RSJ Surabaya, dan RSJ Bogor.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : tir



Close Ads