alexametrics

Kaleidoskop 40 Tahun Aktivisme Seni Dolorosa Sinaga

10 Februari 2020, 13:22:10 WIB

JawaPos.com – Hingga 11 Februari 2020 pameran Kaleidoskop 40 Tahun Aktivisme Seni Dolorosa Sinaga masih berlangsung di Gedung B Galeri Nasional Indonesia. Pameran seni tiga dimensi dan instalasi ini merekam perjalanan artistik Dolorosa Sinaga dan aktivisme seni yang dia geluti. Kaleidoskop 40 Tahun Aktivisme Seni Dolorosa Sinaga tidak hanya menyajikan pameran karya. Pada pembukaannya, buku berjudul Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi diluncurkan.

Buku ini terdiri dari lima bagian. Bagian Pertama adalah Pengantar Umum berisi kolaborasi dua artikel yang memandu pembaca dalam menjelajahi rimba visual, tekstual, dan intelektual di buku ini. Bagian Kedua adalah Biografi berisi esai panjang Sony Karsono tentang hidup, seni dan politik Dolorosa Sinaga. Bagian Ketiga adalah Galeri berisi gambar patung-patung representatif Dolorosa Sinaga yang ditata secara tematik dan semi-kronologis.

Bagian Keempat berjudul Ragam Pandangberisi 30 esai yang ditulis dalam 18 tahun terakhir ini tentang Dolorosa Sinaga dan patung-patungnya lalu bagian terakhir adalah Katalog berisi daftar paling lengkap karya patung Dolorosa Sinaga. Selain peluncuran buku dan pameran,serangkaian seminar dan diskusi juga diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia dan Institut Seni Indonesia (Yogyakarta).

Solidaritas II karya Dolorsa Sinaga. (Arya Darmaja for Jawa Pos)

Kaleidoskop 40 Tahun Aktivisme Seni Dolorosa Sinaga menampilkan karya-karya pilihan sepanjang jejak berkesenian Dolorosa Sinaga. Dalam perjalanannya sebagai seniman, intelektual kampus, dan aktivis, figur lelaki amat jarang menjadi objek ciptaan Dolorosa. ’’Gue nggak bisa bikin cowok. Gue mulai bikin lempung untuk jadi cowok, tapi pasti jadinya cewek dan tiba-tiba ada sanggulnya,’’ kata Dolorosa seperti dikutip Lisabona Rahman dalam buku Dolorosa Sinaga: Tubuh, Bentuk, Substansi .

Para lelaki tersebut menempati satu dari tiga ruang pamer di Gedung B Galeri Nasional. Ada lima figur lelaki. Yaitu, Dalai Lama, Soekarno, Multatuli, Wiji Thukul, dan Gus Dur dalam pose yang berbeda-beda. Gus Dur sedang tiduran sembari tertawa lepas, Wiji Thukul membaca sajak, hingga Dalai Lama yang tengah tertidur di kursi. Dua ruang lain di gedung yang sama menampilkan karya-karya Dolo dari berbagai tarikh penciptaan. Ada bagian dari serial Solidaritas (2000), Lawan Kekerasan (1999), We Will Fight (2003), dan lain-lain.

Kaleidoskop 40 Tahun Aktivisme Seni Dolorosa Sinaga memberi kesempatan kepada apresiator untuk dapat mengenal lebih dekat dan lengkap karya-karya Dolorosa Sinaga, sekaligus tahu bagaimana relasi antara pergulatan pemikiran dan aktivisme di sekitar seorang seniman berpengaruh pada proses lahirnya sebuah karya.

 

Editor : tir


Close Ads