alexametrics

Meneladani Affandi lewat Alam, Ruang, dan Manusia

8 November 2020, 15:49:29 WIB

Ekspresi tentang alam, ruang, dan manusia terangkum lengkap dalam karya-karya seorang legenda seni rupa Indonesia. Nama Affandi adalah jaminan salah satu tipikal keindahan seni rupa Indonesia.

TANGAN lincahnya menghasilkan karya-karya yang dikagumi semua stakeholder seni rupa, baik di Indonesia maupun mancanegara.

Sejak 27 Oktober lalu, karya-karya Affandi dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia (GNI) selama satu bulan. Dalam rangka menyemarakkan Pekan Kebudayaan Nasional (PKN), GNI menyuguhkan karya sang maestro dalam sebuah event pameran imersif bertajuk Alam, Ruang, Manusia.

Pameran kali ini dilaksanakan secara luring. Artinya, pengunjung bisa hadir secara fisik di ruang pamer dan menyaksikan 15 karya Affandi yang terpajang di dinding GNI. Karena masih dalam suasana pandemi, kehadiran pengunjung tetap dibatasi.

Kehadiran pengunjung dibagi dalam enam sesi antara pukul 10.00–17.00. Setiap sesi berdurasi satu jam. ’’Dan hanya boleh diisi dalam ruangan itu (maksimal) 20 orang,’’ terang Kepala GNI Pustanto. Pameran kali ini tidak sekadar menampilkan karya sang maestro dalam bentuk lukisan berpigura. Di awal tur pameran, pengunjung disuguhi sebuah pertunjukan video mapping di ruang pamer utama GNI. Belasan proyektor menyorot seluruh dinding ruangan dan menampilkan visual karya-karya Affandi dalam bentuk gambar bergerak. Alih wahana tersebut membuat lukisan-lukisan Affandi seolah hidup. Misalnya, dalam lukisan berjudul Perahu-Perahu yang dibuat pada 1955. Menggambarkan keindahan alam Pulau Bali dengan aktivitas manusia bersama perahu di dalamnya.

Juga beberapa potret manusia seperti lukisan berjudul Pengemis yang menggambarkan penderitaan dan kerasnya kehidupan.

Ada pula lukisan potret berjudul Ibuku yang memang menggambarkan sosok ibunda Affandi. Juga dua lukisan potret diri Affandi. Selain itu, dipamerkan pula dua buah lukisan berjudul Bunga Matahari I dan Bunga Matahari II. Masing-masing dilukis pada 1974 dan 1975. Dua lukisan yang disebut menunjukkan kekaguman Affandi kepada sosok Vincent van Gogh, pelukis masyhur asal Belanda yang menjadi idolanya.

Tidak bisa dimungkiri, gaya melukis Affandi mendapat pengaruh dari Van Gogh. Meskipun, tentu ada perbedaan khas dari keduanya. Van Gogh memberikan aksentuasi pada unsur bidang, sedangkan Affandi memilih memberikan aksentuasi pada unsur garis.

Pameran itu dikuratori Bayu Genia Krishbie. Dari sekian banyak karya Affandi, dia memilih 15 karya yang paling kuat dalam menggambarkan alam, ruang, dan manusia. Bayu menuturkan, ide itu berawal saat dirinya dan tim dari GNI diperlihatkan video pameran imersif di Lumiere, Prancis, oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid.

Mengapa disebut pameran imersif? Menurut Bayu, pameran itu ingin membuat para penikmat seni lukis mendalami sebuah lukisan. ’’Bagaimana sebuah suguhan dapat membuat pengunjungnya masuk ke dalam dunia lukisan,’’ lanjutnya.

Pertanyaan utama dari pameran kali ini tentu saja mengapa karya Affandi yang ditampilkan. Secara singkat, tentu saja karena Affandi adalah sosok penting dalam dunia seni rupa Indonesia.

Bayu menuturkan, ketika ide pameran imersif itu dimunculkan, dirinya dan tim GNI harus mencari sosok penting untuk ditampilkan. Bukan sekadar pelukis kenamaan, melainkan juga penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia.

Sosok Affandi sudah banyak digambarkan dalam berbagai literatur. Sudah beragam buku yang mengulas tentang sosok kelahiran 1 Mei 1907 itu. Secara filosofis, Bayu melihat tema Pekan Kebudayaan Nasional kali ini adalah Penguatan Tubuh Masyarakat dalam Perspektif Kebudayaan. ’’Affandi saya kira berkarya sampai ujung hidupnya,’’ tuturnya. Kartika Affandi, putri Affandi, pernah bercerita bahwa ayahnya meminta kanvas dan cat dalam kondisi tergolek di RS. Dia membuat sebuah potret meski pada akhirnya tidak terselesaikan.

Saat riset, Bayu dan timnya mengobrak-abrik buku-buku tentang Affandi dan mencari kata kunci yang berkaitan dengan karya-karya sang maestro. Didapatilah tiga kata kunci: alam, ruang, manusia. Alam adalah bagaimana Affandi mengobservasi lanskap alam.

Soal ruang, beberapa kali Affandi membuat karya arsitektural seperti Borobudur dan bangunan lainnya. Dan yang utama, Affandi adalah seorang humanis. ’’Pak Affandi sebenarnya lagi susah. Tapi, ketika dia melihat orang yang lebih susah, dia akan menolong,’’ tambahnya.

Salah satu kekuatan pameran imersif kali ini terdapat pada video animasi yang ditampilkan dengan konsep video mapping. Ada 98 foto lukisan yang dialihwahanakan menjadi video animasi. Menghasilkan sebuah video menakjubkan sepanjang 30 menit. Ditambah 15 karya yang ditampilkan fisiknya secara langsung di GNI. Karya-karya itu mewakili perjalanan Affandi melukis sejak 1940–1970-an.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : byu/c19/dra



Close Ads