alexametrics

Wayang, Don Quixote, Satwa, dan Manusia dalam Binatang

5 November 2019, 09:46:36 WIB

JawaPos.com – Museum Dan Tanah Liat di Kasihan, Bantul, Jogjakarta, menyajikan pameran tunggal Goenawan Mohamad. Pameran bertajuk Binatang yang berlangsung hingga 1 Desember 2019 mendatang ini menampilkan 48 karya berupa lukisan, sketsa, dan gambar yang Goenawan Mohamad ciptakan pada kurun 2018-2019. Wahyudin menjadi kurator pameran yang dibuka pada 2 November 2019 lalu tersebut.

’’Saya suka. Apalagi saat kecil dulu saya dekat dengan cerita-cerita binatang,’’ kata Goenawan Mohamad dalam catatan kuratorial Wahyudin. Selain suka, GM, sapaannya, punya alasan lain mengapa pameran ini bertajuk Binatang. GM menyebut dirinya menyimpan penyesalan dari rasa bersalah di masa lalu ketika dengan gegabah menembak masti seekor burung. Baginya, binatang adalah mahkluk yang menakjubkan.

Dalam amatan Wahyudin, melukis potret atau wajah binatang bagi GM bukan sekadar kesenangan estetis belaka melainkan juga ‘penebusan dosa’. ’’Saya kira dua hal itu merupakan semacam panggilan yang membedakan lukisan binatang Goenawan Mohamad dengan lukisan binatang pelukis Indonesia lainnya,’’ terang Wahyudin. Pada Binatang, hanya ada 12 lukisan binatang. Pameran ini memang tidak melulu menampilkan karya yang berangkat dari perwujudan satwa.

Ada tiga tema selain binatang yang tampak dalam Binatang. Ketiganya adalah wayang, Don Quixote, dan manusia. Ada 10 gambar wayang yang di dalam katalog pameran tak semata-mata disajikan sebagai gambar. Pada setiap gambar wayang dilengkapi dengan narasi singkat tentang para tokoh dalam sebuah latar peristiwa. Modus serupa juga tampak pada bagian Don Quixote, tokoh fiksi rekaan Miguel de Cervantes yang banyak menginspirasi GM. Bagian ini menampilkan 33 karya dilengkapi dengan narasi yang pernah dibacakan dalam pertunjukan pentas sastra di Komunitas Salihara.

Pameran Goenawan Mohamad menampilkan 48 karya berupa lukisan, sketsa, dan gambar yang diciptakan pada kurun 2018-2019. (Suci Mayang for JawaPos.com)

Bagian berikutnya menyajikan tujuh karya berisi objek manusia seperti Slamet Gundono, Tony Prabowo, Djoko Pekik, hingga Frida Kahlo. Karya berjudul TP berukuran 50 x 70 cm menampilkan wajah Tony Prabowo, komposer rekan kerja GM, Wahyudin sebut sebagai contoh meyakinkan bahwa seni bukan tiruan dari yang terlihat, melainkan membuat sesuatu menjadi terlihat. ’’Sesuatu itu pada hemat saya adalah aura keakraban yang intens dalam pergaulan Goenawan Mohamad dan Tony Prabowo,’’ terangnya.

Binatang menjadi pameran tunggal ke dua GM tahun ini. Sebelumnya, karya-karya GM pernah hadir dalam pameran tunggal di Galeri Semarang. Sejak tekun dengan kanvas dan kuas, setidaknya sudah ada 300-an karya di atas kertas, 50 lukisan di atas kanvas, dan 200-an karya kolaborasi. Karya-karya tersebut pernah hadir dalam enam pameran tunggal, enam pameran bersama, dan dua pameran duet kolaborasi bersama pelukis Hanafi.

Ketekunan GM dengan seni rupa bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang. Bukan pula suatu usaha untuk menentang perkembangan mutakhir seni rupa hari ini dengan kembali ke corak lama. GM juga memilih menjauh dari bentuk-bentuk senirupa yang bertolak dan menopang dirinya dengan konsep. Seperti yang dia ungkapkan dalam pengantar pameran, intensitasnya dengan seni rupa adalah semacam nostalgia kepada suasana ketika cat, kuas, pena, kanvas hadir menyambut perupa. ’’Saya kembali teringat masa ketika saya menumpang tinggal bersama dan belajar dari perupa Sanggar Bambu di awal 1960-an,’’ katanya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : tir



Close Ads