alexametrics

Sajak Hilmi Faiq

27 Juni 2021, 13:23:49 WIB

Pria Tua Rindu Anaknya

Kau lempar jala ke tengah sungai dengan harapan

masih ada sisa ikan yang bertahan.

Perahumu goyah oleh entakan

lalu pelan-pelan menenang.

Setelah mengikat tali jala, kau seka peluh

dari pipi sampai dagu.

Keringatmu juga mengembun merata

pada kaus swan yang mulai keriting oleh keusilan usia.

Telapak tangan kanan mengelus telapak tangan kiri seirama

seperti dua manusia lelah yang saling menyapa.

Kapal-kapal pada telapak itu begitu keras bekerja,

mengantarkan anakmu pergi jauh ke ujung dunia.

Tapi entah kapan dia kembali.

Hanya lewat video call sesekali dia menyapa

atau balas sapaan lewat grup WA keluarga.

”Aku masih sibuk, Lebaran ini juga belum bisa, pandemi menghadang,”

kata anakmu saat kau tanya kapan dia pulang.

Sebenarnya kau ingin bilang, ”Ayah rindu, Ananda.”

Tapi kau tak tahu cara mengatakannya.

Di tengah sungai begini, kau selalu mengingat buah hati

yang dulu selalu menemani dan kau temani.

Pelan-pelan kau tarik jala.

Tak ada suatu yang menyangkut di sana.

Itu kau tahu belaka.

Hanya orang gila yang setia menebar jala

ke tengah sungai penuh limbah.

Kau tidak sedang mencari ikan,

kau sedang mengulang kenangan,

tatkala anakmu masih ingusan,

dan mudah ditemui kapan-kapan,

tanpa rindu yang kini begitu beban.

Seperti lilin dikepung angin,

kau tahu umur tinggal setipis cincin.

Tak ada yang lebih menyedihkan

dibanding gagal merengkuh anak sendiri

hingga usia pergi berganti kehidupan lain lagi.

Maret 2021

Dari Ruang Karantina

Laika, tolong kasih kabar jika kamu sudah tiba di sana. Coba perhatikan lagi apakah matahari masih sama. Di tempatku, aku sudah lama tidak berbincang dengan matahari. Hangatnya terhalang kabar duka yang kian mendekat. Orang-orang mati tidak lagi dibawa pulang. Mereka dibawa ke timur ke sebuah kota yang konon lebih aman daripada rumah-rumah. Mungkin mereka langsung sampai surga karena di ujung hidupnya merasakan neraka.

Laika, tolong usap lagi pucuk-pucuk doa yang kita semayamkan pada sudut-sudut rumah. Barangkali sudah ada yang berbuah atau bahkan bijinya jatuh dan tumbuh doa-doa baru. Tak perlu susah-susah, Laika, kirimkan saja wanginya. Tuhan pasti menyegerakan segala yang kita semogakan.

Laika, apakah kubangan-kubangan air hujan masih ada yang tersisa. Tolong jaga satu untukku. Yang dua atau tiga, boleh untukmu. Aku sedang membayangkan kakiku berjingkrak di kubangan dirubung hewan-hewan kecil yang aku tak tahu ukurannya, tetapi dapat kurasakan pada setiap inci kulit ari. Makhluk yang pandai mencari tempat sembunyi sehingga belasan bilasan air bersih tak kuasa mengusirnya. Dia akan tetap tinggal di sana membentuk koloni merah di sela jari dan kadang di punggung kaki. Aku rindu menggaruknya, Laika.

Desember 2020

Beda Keyakinan

Tuhan

Pekan lalu hamba berjumpa dia

Kami kenalan dengan berjabat tangan

Dia sungguh makhluk menawan

Tuhan

Kini hamba tak selera makan karena ingat senyumnya

Badan hamba demam membayangkan hangat tangannya

Penciuman hamba hanya mengenal kenangan aromanya

Tuhan

Hamba yakin sedang jatuh cinta

Tapi dokter yakin hamba kena korona

April 2021


HILMI FAIQ

Jurnalis kelahiran Lamongan. Suka menulis sajak dan cerpen. Bukunya, antara lain, Pesan dari Tanah (Kumpulan Cerpen, 2020); Pemburu Anak (Kumpulan Cerpen, 2021); dan Nyaris Puitis (Kumpulan Puisi, segera terbit).

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads