alexametrics

Sajak Umur 60 Tahun

26 Juni 2022, 12:04:12 WIB

Sajak Umur 60 Tahun

Bianto telah pergi. Usman telah pergi. Juga Agus, Rustam, dan beberapa

teman lain juga telah pergi. Kini, mungkin tinggal Tomo. Tomo yang

seperti aku bergigi ompong. Tak bisa makan kacang atau rawon balungan.

Tomo yang gemar bersilat bahasa: ’’Hidup hanya mampir melunasi kreditan.’’

 

Dan sore itu, aku dan Tomo ada di warung lama. Yang dijaga seseorang

yang kami panggil Dino. Seseorang yang percaya jika dulu makhluk luar

angkasa pernah turun ke bumi. Mengajari para manusia cara menaikkan

layang-layang. Makhluk luar angkasa yang kulitnya berwarna kehijauan.

Yang setelah selesai mengajari pun balik ke tempat asalnya. Ke sebutir

bintang yang jauh di ketinggian. Dan para manusia yang ditinggal pun

kerap melihat keluasan langit. Seperti melihat sesuatu yang mungkin

akan turun. Akh, kami pun ngakak, pas Dino berkisah pada bagian ini.

 

Sebab, kami tahu, Dino mulai ngibul. Dan kami juga tahu, ada rasa ganjil

di kibulan itu. Tapi kami tetap saja menyukainya dan terus menyukainya.

 

(Gresik, 2022)

Sepertinya

 

Aku ingin turun ke telaga itu. Tapi telaga telah kering. Menjadi lubang yang

ditumbuhi hamparan semak liar. Ada kulit ular basah di pojoknya. Kata orang,

itu kulit ular yang masih baru. Mungkin baru empat atau lima jam yang lalu.

Kulit ular pun aku korek dengan kayu. Warna sesisiknya hitam campur merah.

Mengingatkan warna langit saat magrib. Saat beburung sudah pulang ke sarang.

Dan saat, aku merasa, waktu seperti telur yang retak dan mengeluarkan apa saja

yang dikandungnya. Apa saja yang membuat dunia semakin sesak. Dan semakin

 

membuat setiap perenung tergila-gila pada isi surga yang beragam. Pada setiap

hal yang bebas untuk dimiliki. Sebebas ketika kali pertama sang bayi merah

perlahan merayap ke arah dada si ibu. Terus menyusu dengan kegairahan yang

tak akan pernah terjabarkan. Seperti ketakjabaran setiap penikmat teh di musim

semi yang katanya: ’’Beginilah, ketika teh diseduh, dituang, diangkatlah cangkir

tembikar untuk segera direguk pelan-pelan, masuk ke dalam jantung nyawa yang

tak berdasar.’’ Hmm, aku pun melihat ada yang membakar sampah di kejauhan.

 

(Gresik, 2022)

Alat Pemotong Rumput

: buat Hendro Siswanggono

 

Jantungku ditumbuhi rerumput. Yang merimbun liar

tak terduga. Maka beri aku alat pemotong rumput.

Agar dapat aku potong. Agar jelas mana setapak.

Mana juga yang mesti ditanami mawar atau keladi.

Mana juga mesti dipasangi anjang-anjang. Tempat

janda bolong menjalar mencari ketinggian. Dan

di ujung sana, tentu menegak papan lebar. Tempat

anak-anak memasang foto. Foto gunung dan

perumahan kayu. Kolam dan teratai biru.

 

Juga foto diri mereka dengan sepeda mungil sehabis

dicuci. Foto diri mereka yang tertawa. Sambil

tetangannya melambai. Seakan ingin menjadi para peri

yang berumah di botol-botol antik. Para peri yang

bening. Para peri yang pernah mengusung si putra

mahkota ke langit ketiga. Hanya karena ingin meneguk

sumber hujan. Dan membolak-balik seenaknya.

’’Di sini mesti hujan. Di sana bolehlah jika gerimis,”

begitu tukas si putra mahkota.

 

Lalu pakde matahari yang sedikit galak. Pakde matahari

yang berwarna kuning terang. Melayang di atas mereka.

Seakan ingin melihat, betapa bahagia apa yang sedang

terjadi. Dan alat pemotong rumput pun bekerja. Pisaunya

tajam. Suaranya lembut. Dan sejam ke depan, rerumput

merimbun telah rapi. Segalanya jadi indah tiada sangka.

Sampai setiap yang melihat menukas: Sungguh, kami

pernah melihat kerapian dan keindahan rerumput

di jantung seperti ini.

 

Seperti ketika setiap yang ingin menyapa hanya menjawil.

Sedang, si pengintip sibuk mengutak-atik lubang kunci.

 

(Gresik, 2021)

MARDI LUHUNG

Lahir di Gresik. Lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Pada 2010 dia mendapatkan anugerah KLA dalam bidang puisi. Kumpulan cerpen pertamanya: Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011). Dan, buku puisi terakhirnya: Cumcum Pergi ke Akhirat (2017). Sementara itu, buku cerpen keduanya yang segera terbit adalah Jembatan Tak Kembali.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: