alexametrics

Menyembelih Ayam

24 Januari 2021, 13:25:25 WIB

Menyembelih Ayam

Ia kaki langit yang jingga dan matahari yang tak pernah menyangkal warna senja. Ia jarum jam tegak lurus dengan enam, saat fajar telah menyingsing di dunia arwah dan kelam tengah memenuhi beranda. Ia degup jantung yang lelah sebab tiada mungkin benih dendam habis dituai.

Ia batu-batu doa yang tegang menanti daging kurban. Ia daun sirih dan pinang kering dalam kadam ingin tepercik hidup yang padam. Ia lilin merah tiga batang yang di pucuknya api menari riang. Ia runcing mata pisau mengilat di mata-mata yang risau. Ia cawan berisi air tabah menampung napas yang tumpah.

Ia mantra yang komat-kamit di mulut penjagal. Ia doa seru penghuni dunia atas dan dunia bawah. Ia puja puji bagi segala leluhur yang namanya tertera di nisan kubur. Ia cerita haru biru di hari lalu yang bakal dihapus di hari baru.

Ia ketukan tiga kali di kepala kurban. Ia sayatan pelan di jenjang leher. Ia regang sayap yang enggan terkembang. Ia nyawa yang terhempas tempias dari raga berbulu ini. Ia tubuh yang koyak di sana seperti ayam yang kusembelih di sini.

Lasiana, 2020

Saat Aku Menggonggong

Aku anjing kurap

Maka suaraku itu

Tak mau kau serap

Kuingat waktu berputar

Hidup ganas dirampas

Nahas nasibku lupa terbuang

Bagai tangan peri

Diriku kau papah

Obati sepi perih lukaku

Tapi tiba dewasa

Dengan anyaman mati

Kau ikat aku erat

Matamu tak awas

Pun hidungmu tiada

Cium pesing bau waswas

Pada diriku hina

Bayang dapat kuterka

Tipis mayang kuhidu lekas

Pernah teriakku kuat

Saat rampok mendekat

Namun alpa simpulku lepas

Yang hilang membekas

Yang membekas terhempas

Melarikan koin sekotak mas

Kini malaikat jahanam

Malam menaruh sabit

Di lekuk lehermu jekut

Matamu dikecoh cahaya

Wangi menipu hidungmu

Bagiku maut senyata tulang

Melebarkan api Cerberus

Terus kuhalau tebasnya

Dari lipatan-lipatan uratmu

Kupekik seujung jantung

Kuperas seluruh lambung

Parau suara sampai ujung

Kau sangka kurindu

Cemburu pada pelukan

Seperti pertama kita sua

Atau mimpimu raib

Saat lengking ingatku

Ajaib sampai ke telingamu

Maka batu menghantamku

Sebelum tanganmu mengelus

Halus punggung kucing itu

Lasiana, 2020

Kucing Hitam

Ke balik rimbun bebuluku

Matahari tenggelam

Para serdadu dengan

Bedil terkulai kembali

Ke barak

Perjuangan belum selesai

Esok harus ada yang mati

Di pijar mataku

Iblis menyalakan lampu

Melangkahi bebangkai itu

Untuk bangkit kembali

Berperang

Lasiana, 2020

SADDAM H.P.

Lahir di Kupang, NTT, 21 Mei 1991. Dia aktif di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Buku puisi perdananya berjudul Komuni (2019). Dia adalah salah satu emerging writers di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2014. Cerpen dan puisinya tergabung dalam antologi Dari Timur 2 (2018) dan Dari Timur 3 (2019), kumpulan tulisan pilihan MIWF.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads