alexametrics

Sajak Deddy Arsya

21 Februari 2021, 13:15:59 WIB

Mau Panen Padi

Besok aku mau panen padi.

Habis itu mau tanam bawang.

Aku ajak kau datang. Kebun binatang tutup. Gajah-gajah
mati tak makan. Ke sinilah main bersama adik dan sepupu.

Istriku tak punya tanah. Ibuku juga.

Kita menumpang di bumi seluas ini.

Abakmu di rumah. Tak jalan-jalan tak memotret lagi.

Tak ada potret yang bisa

mengabadikan kesedihan.

Tak ada liburan yang dapat

mengubur kenangan.

Hidup tak ada pakansinya.

Kita bebas kalau kita mati.

Abakmu di rumah bikin meja dan kursi.

Menghias dinding dengan pepatah-pepatah

Latin. Miniatur-miniatur laut dan gunung.

Air di kolamnya beriak.

Ikan-ikan mengepak.

Kota-kota dikuncinya dari dalam.

Sudah mau masuk musim hujan.

Langit jadi sering gelap.

Main ponsel melulu ah.

Sekolah tutup dan ibu guru bisa tidur siang.

Mengepak-ngepak daun pisang. Batang jambu biji mau ditebang

dengan kapak gadang. Aku suka memanjat. Besok ke sini datang, kataku!

Aku mau panen padi.

Habis itu kita tanam bawang.

Tapi batang-batang bawang tak bisa dipanjat kecuali kau ulat.

Main sama adik dan sepupu sana!

Abak dan mamamu di depan hakim

berdebat tentang kerusakan ekologi.

Apa mamamu punya sawah? Tanam saja semangka di situ.

Aku dan kamu suka semangka.

Di bumi seluas ini kamu berkebun

di atap-atap rumah.

Tak ada tanah di mana-mana.

Ini matrilini macam apa?

Pohon jambu biji tak tumbuh lagi. Padahal

kita senang menjadi monyet. Seperti nenek

moyang. Berjalan dengan empat tangan.

Aku bosan menjadi beradab.

Aku mau memanjat ke ranting paling ujung.


Cita-Cita setelah Mulai Tua

Anak-anak bermain di halaman.

Hari hujan. Rintik-rintik.

Aku ingin di sini saja sampai tua.

Punya sepetak-dua petak ladang.

Menghangatkan tubuh pada matahari baru terbit; terpana pada

kuning-pekatnya ketika akan tenggelam.

Menulis ini dan itu.

Lalu mati.

Lalu orang-orang akan melupakan aku.

Mungkin akan sekali-kali diingat

dengan tak sengaja.

Anak-anak bermain di halaman.

Hujan tinggal. Titik-titik.


Insomnia Abad Ke-21

Di abad ke-21

jam malam lenyap

tak ada lagi perang atau revolusi

tapi mata tetap tak bisa lelap

kelopak memanjati bolanya

aku mengingat-ingat kamu dalam asap kebakaran hutan

tubuhmu dan rohmu tidak kini berbeda.

”Tidak setiap masa silam mesti dituliskan. Ada yang

harus dibiarkan tetap sebagai kubangan metafora.”

Metafora dari mata yang tidak bisa mengingat

kapan pertama dan terakhir terpejam dan lelap.

”Bagaimana cara mengingat sesuatu yang tidak ingin diingat?”

Simpanse atau kera mengubahnya jadi—

monyet atau gorila menyulapnya merupa—

ah ya, metafora!

Di abad ke-21

jam malam lenyap

tak ada lagi huru-hara atau petisi

tapi mata tetap nyala-terjaga

kelopak mencari-cari selimutnya

aku mengingat-ingat kamu dalam asap kebakaran halte dan plaza

tubuhmu dan rohmu telah kini jadi sama lesap belaka.


DEDDY ARSYA:

Buku puisinya yang mutakhir berjudul Khotbah si Bisu (2019). Buku itu terpilih sebagai Buku Puisi Pilihan Majalah Tempo.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads