alexametrics

Ode untuk Hari-Hari Biasa

20 Februari 2022, 11:47:53 WIB

Ode untuk Hari-Hari Biasa

Pada mau ke mana hari-hari biasa

buku-buku masih terbuka di meja

dan layar-layar monitor masih menyala

rol-rol sinema tetap memutar adegan

demi adegan

peperangan maupun percintaan

tak ada beda

aku tidak meninggalkan tempatku tidak ke mana-mana

barangkali hanya aku perlu mengusap pinggir keningmu

merasakan kegundahan berumur panjang

di situ

sekalipun dari langit hari-harimu

kurasakan kengerian yang juga sama:

kebosanan jam-jam pergi dan jam-jam pulang,

jam-jam pagi dan jam-jam petang

jadi, biarkan aku meletakkan telapak tanganku

di punggung tanganmu

jadi, mari kurapikan rambutmu yang menyembul ke pipi

kelaikan lagi mesra kepalamu di bahuku, sini!

Pada berdiam di mana hari-hari biasa

ada apa mata yang tertusuk kelam malam

beri aku pagi yang mengantarkanku padamu

pagi yang menjauhkanku dari hari-hari yang begitu

begitu itu,

pada kursi yang itu

pada meja yang itu:

pada buku-buku yang masih terbuka

rol-rol sinema yang masih berputar

layar pada monitor

yang tetap menyala.

Menjauhlah dari Matamu

Aku merindukanmu tapi

selalu ingin menghindarimu

aku tidak mau tertangkap matamu

sedang mengira-ngira suatu rencana

menenggelamkan sinar bulan

melalui celah di pangkal lengan

menanggalkan seluruh engsel pada pintu

dan membiarkan segala yang lama terkunci

menghambur

dari gelap rahasia.

Aku mungkin merindukanmu

tapi tidak kutinggalkan kursiku

entah apa yang menahanku ke sana

menemuimu dan bermimpi asing

tentang melelehnya tata surya

saat aku baru saja kembali dari tidur

aku menemukan bumi jadi segelap ini

aku cari-cari kamu di bawah dipan, di dasar cawan

di belakang lemari baju, pada sangkutan palang pintu

di setiap sudut yang masih menyisakan terang waktu

aku cari-cari kamu di mana-mana dari jagat raya

tapi kau mungkin telah jadi ledakan cahaya.

Gelembung-Gelembung Sabun

Aku tak sedang memandang bumi yang lain

selain yang terhampar di depanku kini

mungkin aku merindukanmu tapi mungkin juga tidak

perasaanku meletup di udara lapang bagai meletup

gelembung-gelembung sabun di lingkar jari anak-anak

aku tak tegah maupun saru datang mimpi-mimpi

sebab aku tak sedang terjangkiti wabah kenangan

perasaanku padamu hanya sisa-sisa hari lalu yang

gampang terhapus seperti pasir kering di licin batu

akan datang masa di mana rintik-gerimis jadi lebat-hujan

menghanyutkan segala yang patut hanyut dari harapan.

Aku tak sedang menengadah pada langit yang lain

selain yang kini tengah mengungkung-menyungkupku

dengan tabir putih gumpalan-gumpalan mega–

pantulan dari buih laut yang mengambang kemari

ke dalam sajak ini

ke dalam mata yang mengajariku untuk percaya

kalau cinta, atau semacamnya, tak lebih dari

ruap-busa!


DEDDY ARSYA, Lahir dan menghabiskan masa kecil di Bayang, pantai barat Sumatera. Bukunya Khotbah si Bisu terpilih sebagai Buku Sastra Terbaik 2019 versi majalah TEMPO.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads