alexametrics

Sajak Kiki Sulistyo

19 September 2021, 08:56:31 WIB

Ia Mati di Sini

dia mati di sini, di kamar di mana dulu

ia dilahirkan. dadanya terbuka, bunga-bunga

melontarkan paku cahaya ke udara.

tak ada mazmur, kecuali siul tekukur

di rumah tetangga. burung murung itu

seperti hendak mengabarkan, ada yang

telah tuntas, teka-teki silang di halaman

terakhir koran harian.

ia lahir di sini, di kamar di mana hari ini

ia ditinggalkan. matanya mengatup, semua

dusta dan kejahatan bersemayam di dalamnya.

tak ada berita, cuma angka-angka menyusun

rumus matematika. deret yang macet tepat

di pintu jawaban. sedang pertanyaan terus

mengepakkan sayap, berputar-putar bagai

malaikat kerdil di sirene ambulans.

(2021)

Narkarus

kepada pantulannya sendiri ia berkata:

kau cermin yang meremukkan bayanganku.

permukiman masih jauh. rumah-rumah gembala

dengan lampu minyak dan desis ular.

hari belum tinggi, hutan meruapkan harum cemara,

udara basah tak menunjukkan tanda-tanda wabah

semalam, saat bulan menciut, telah ia dengar bisik:

kota-kota akan berjalan di atas kursi roda,

orang mengenakan topeng, dan udara ditangkar

dalam tabung logam.

tapi ia tak percaya.

kepada pantulannya sendiri ia berkata:

kau cermin yang meremukkan bayanganku

lalu ia berjalan ke lain arah, menjauh dari

denah, mendekati suara-suara kera di ketinggian

dirasakannya sayap lilin tumbuh di punggung

sayap yang nanti terjaring jala matahari,

dan membayang di paras orang mati.

(2021)

Tahun Caka

hantu matahari berjinjit, sebelum resap

ke dinding rakit. peperangan berkibar.

telur sejarah retak

di dasar candi.

ada satu pelita menyembunyikan paras rahasia

api meninggi seperti tombak para abdi

apa yang berdiam dalam sekam,

sebentar lagi malam

ke titik samadi, bergulungan kapal kayu

dalam desis laut. bendera kuning kunyit

memucatkan tembok-tembok kota ini.

(2021)

KIKI SULISTYO

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti. Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (2020).

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads