alexametrics

Sajak Ganda Cipta

18 Oktober 2020, 12:21:57 WIB

Kita yang Merumahkan Cemas

duka kita, duka yang penuh gejolak, sophia

lihatlah, orang-orang merumahkan cemas

tapi kata, berhamburan ke mana-mana

korona! korona! aku terpana

korona! korona! dunia merana

dari balkon, pada hari yang lain

kita saksikan seorang lelaki bermain saksofon

tanpa bayar, tapi terasa mahal. lalu jarak jadi bikin sadar

”setiap tatapan kita tak lagi sekadar rindu, sayang,” begitu ujarmu

ini mungkin hari-hari yang tak terlupakan

penuh kesakitan, pengorbanan, dan pengharapan

sophia, jangan lupakan cinta

kata itu telah lama ada

di pangkal senjata, di entakan langkah tari

di ujung bibirmu yang garis

juga di balik pintu-pintu rumah

yang semoga, bisa segera kita buka lagi lebar-lebar

jangan tanya, sampai kapan kesakitan ini menggores jiwa

kunci saja kamar itu, dalam sujud yang paling khusyuk

dan sebelum tidurmu lelap, angkatlah topi

untuk para pejuang di garis depan


 

Hujan dan Gitar

bergegaslah

hujan telah turun

dalam kesederhanaan riak

mainkan gitar itu

yang sore kemarin

kita beli di jalan pemuda

Agh, hujan dan gitar

kebahagian yang diberi dan dibeli

sophia, adakah kau mengerti

tentang perbincangan hari ini?

bila tidak, melagu sajalah kita berdua

tapi jangan bait-bait puisi itu,

terlalu sendu

sebab, mungkin hujan hanya sederap

dan gitar kita, murah tak pula bernama

aku takut hilang sia-sia dalam suaramu

lebih dekatlah kemari

ada yang harus kita bagi

masa depan, barangkali

bergegaslah

hujan telah turun

mainkan gitar itu


 

Di Tepi Hari

dayung yang tenang dalam riak gelombang

langkah yang pasti dalam liku diri

kita larut dalam sisa waktu, sophia

bila aku jadi asing dalam perlangkahan ini

jangan sentak dengan peluru

bukankah kita sering keliru?

jejak mana yang akan sampai muara

mana yang berputar-putar di rimba saja

ini bahuku…

mungkin nanti kau bakal rindu

tapi bukan itu arahmu

ini dadaku…

debarnya tak lagi seperti dulu

gelisah telah tertuju

ini bibirku…

mengeja janji yang dulu

sebelum semua ditiup dalam haru

inilah aku…

di tepi hari. Menunggu


GANDA CIPTA

Alumnus Sastra Indonesia Universitas Andalas. Lahir di Padang, 4 Mei 1984. Selain menulis puisi, Ganda meresensi buku dan menjadi seorang wartawan. Saat ini dia berdomisili di Padang.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads