alexametrics

Sajak Tjak S. Parlan

17 Januari 2021, 12:47:51 WIB

Sebuah Film tentang Kendaraan and Life Goes on, Abbas Kiarostami

Apa yang akan diceritakan Kiarostami kepada anakku?

Kota-kota yang runtuh-remuk diamuk lindu,

atau antrean kecemasan yang memanjang di jalanan.

Di antara kemacetan dan bunyi klakson kendaraan,

anakku terjaga semalaman

seperti menemukan mainan kesukaan:

komedi hitam yang kerap tayang tengah malam.

Apa yang akan dikabarkan kantor berita kepada anakku?

Ramalan cuaca seringnya tak jitu.

Bahwa bumi bergetar di mana-mana,

dan bisa kapan saja.

Tetapi di antara yang tak pasti,

anakku kerap bersorak sendiri.

Masa kecilnya bangkit, ketika sebuah mobil

merayap di jalanan berbukit.

Mobil itu datang bersama seorang kawan lama,

kawan kecilnya yang selamat

dari bencana.

(Ampenan, 23 Januari 2020)

Aku Merindukan Bunyi Klakson Kapal Itu

Aku merindukan bunyi klakson kapal itu hari ini,

bunyi yang biasanya menyusup ke kamar kita.

Kitakah yang terlambat mendengar?

Atau cuaca sedang buruk hingga satu-satunya cara

untuk tiba adalah berdoa dengan hati yang memar.

Kita mungkin pernah membayangkan

bagaimana rasanya berdiri sendirian di bibir dermaga

ketika pancaroba.

Aku mungkin pernah menunggu seseorang

yang kukira sedang kuinginkan sepenuhnya,

Namun, kabar badai telah menghapus jadwal perjalanan

dan aku pulang menghapus semua ingatan:

cinta muda yang rentan.

Kini aku bersamamu, tinggal di sebuah kota

yang terlihat begitu gampang bagi kebanyakan orang,

tetapi kerap membagikan kerumitan bagi kita.

Dan kita menerimanya dengan sesekali perih

yang mencoba kita samarkan

dengan ketabahan berkarat

yang tak pernah kita ralat.

Dan kita saling mencintai dengan selingan ancaman

asam lambung yang tak bisa disembunyikan

–yang kerap tak kuasa kita lawan dengan pekerjaan.

Aku merindukan bunyi klakson kapal itu lagi hari ini,

Namun, hingga dini hari tadi,

aku hanya mendengar bunyi yang lain.

Gemuruh dari dalam perutmukah itu?

Atau cuaca yang rentan,

telah menghapus semua jadwal perjalanan.

(Ampenan, 14 Februari 2020)

Harga Sebuah Sepeda

Ketika orang-orang sedang turun ke jalan,

aku telah menjual sepedaku satu-satunya.

Jalan-jalan lumpuh

Rumahku tersembunyi

pada harapan-harapan yang menyakiti.

Ketika orang-orang sedang

turun ke jalan,

aku tak bisa berjalan.

Hanya bisa bertahan di pasar loak,

aku mendengar orang-orang

berteriak-teriak.

Istri dan anak-anakku

memanggil-manggil:

cepat pulang, cepat pulang!

Tapi jalan-jalan telah lumpuh, dan aku

–dengan segala keterbatasan–

dituntut untuk meluangkan waktu.

Demi kepentingan yang lebih besar, katanya.

Adakah yang lebih penting dan lebih besar

dari harga sebuah sepeda?

Cepat pulang, cepat pulang!

Tapi jalan-jalan lumpuh

Orang-orang terus berteriak-teriak.

Aku lumpuh.

(Ampenan, 28 September 2019)

TJAK S. PARLAN

Lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Sebuah Rumah di Bawah Menara (Rua Aksara, 2020) adalah buku kumpulan cerpen terbarunya. Bermukim di Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads