alexametrics

Sajak Rio F. Rachman

16 Mei 2021, 14:05:34 WIB

Kampung Halaman

Tanah berkisah tentang kampung halaman

soal gambut serabut dan kabut

yang menyelimuti musim kemarau

Di masa lalu yang tak akan kembali

sampai kapan pun meski

darah dan air mata menjemputnya

sungai cokelat dan buaya-buaya muara

kini mulai berenang ke permukiman

banjir kiriman kebun sawit serta

gedung-gedung tinggi sarang walet

putaran zaman gerogoti pangkuan alam

Hujan menolak hangat dengan

dingin angin monsun yang menusuk

para penjahat politik dan ekonomi bergerombol

makan malam di meja mahal

lambung mereka besar sehingga

tak pernah merasa kenyang

Dari waktu ke waktu

pencoleng tak pernah berubah

pendukungnya dungu lagi buta

semena-mena memuja-muja

padahal tak dibayar

Orang-orang terbelah karena

membenci mereka yang di seberang

bukan karena yakin kebenaran

Sebuah Perdebatan

Seorang anak mengaku muak dengan

aneka perdebatan remeh-temeh

tentang jenggot, cingkrang, cadar,

topi paman berwarna merah

hingga ucapan selamat hari raya

Dia lalu membakar sebuah selebaran yang

membahas itu sedemikian detail

dan bertanya pada ayahnya yang lugu,

”apakah orang-orang sesampah itu

sampai tak lagi melihat perilaku?”

Ayah itu tak menjawab kecuali dengan senyum

dibelainya wajah sang anak sambil melihat gerobak

yang dibawanya ke sana kemari

bertahun-tahun belakangan ini

dilihatnya cakrawala cerah

berhias bulan dan gemintang

batinnya bergumam,

”jembatan mana yang akan jadi atap malam ini,”

Makam di Perbatasan

Bukit-bukit elok dengan ranum rumput musim penghujan

di bawahnya sejumlah aliran deras sungai

meluap memutus jalan

di kota yang sempit itu,

toko-toko milik cukong ibu kota

bertumbuhan menguasai pasar

petani tetap mencangkul lahan

dengan punggung mengkilap tergosok keringat

nelayan diombang-ambingkan peraturan, bukan gelombang

para dukun dan tukang tipu dikutuk dustanya sendiri

hingga hidup bergelimang kegelisahan

Ada sebuah pemakaman terkenal

di salah satu bukit perbatasan

dulu, banyak pencuri yang menggali kuburan di sana

konon, jasad kaum hartawan ditanam

beserta sejumput kekayaan mereka

yang kemudian digasak begundal-begundal gelap mata

”Dari pada mubazir dipendam di bumi,

mending kubuat makan sama anak istri,”

dalih salah satu ketua rampok

Faktanya, apa yang didapatkan dipakai

buat mabuk, berzina, dan dihambur-hamburkan

tak tahu rimbanya

Para pemuda labil berhasrat jadi pemimpin

sayang, seperti orang tua mereka,

banyak anak kemarin sore yang juga rakus

dapat ini mau itu, sudah begini ingin begitu

Mereka yang selama ini dipapar langsung sinar mentari,

dilindas langsung roda kehidupan, hanya dianggap pion

Ah, mereka pun sejatinya tak peduli


RIO F. RACHMAN

Alumnus Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya. Menulis kumpulan puisi Balada Pencatat Kitab (2016), kumpulan cerita pendek Merantau (2017), dan kumpulan puisi Dari Tepi Mentaya sampai Bukit-Bukit di Soekarno-Hatta (2020). Dosen di Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads