Indonesia 1945

14 Agustus 2022, 11:13:40 WIB

Indonesia 1945

Aku memanggil ingatan, matahari tergambar lalu pergi ke pulau-pulau, menutup seluruh pengaduan. Mereka lepaskan segala identitas, tak ada lagi keluh, hingga semua tak bisa menutup niat. Kepadaku hanya ada pasrah, menunjukkan gigih, bahkan tangan-tangan mereka selalu terkepal untuk menyembunyikan luka.

 

Aku telah menaruh rantai pada pulau-pulau yang dihargai karena berbeda. Telapakku diam di wilayah yang bergerak. Aku mendengar laporan ada beberapa pulau telah menjadi tempat istirahat, orang-orang dewasa pergi dengan cita-cita luhur. Aku menyaksikan di antara mereka terbelenggu, bahkan dibui sampai mati.

 

Sebagian di antara mereka menjelaskan kepadaku mengapa tiang-tiang bendera tak pernah lurus, suka mengejek masa silam hingga mulut mereka mencibir, lalu muncul satu pernyataanku, ’’mereka adalah begundal yang lebih memilih repetisi kemudahan.’’

 

Aku belum terbiasa dengan riuh kuasa yang menjadi penyebab munculnya kotoran, mereka tak peduli pada jalan-jalan terjal dan karenanya ada orang-orang pulau diusir sebagai pesakitan. Pulang-pulang membawa rindu pada sabda yang mereka bangun bahwa aku adalah Indonesia 1945. Aku sedang menawarkan wajah lain, dengan begitu mereka seharusnya tahu tentang pengertian dari jalan lurus.

 

Karanganyar, 2022

Merawat Iktikad

Kakimu berpijak melintasi batas untuk meniti pesan yang disalah mengerti, pun jika tak ada panggilan akrab, tapi kau tak mau jatuh dalam kekelaman jagat, lalu kautinggalkan selisih di pintu belakang, berharap kesialan akan memperbaiki laku.

 

Ketika waktu tidak segera berpihak lalu menambah beban dan luka baru, kau lebih memilih tinggal di ceruk kalam, memilah tempat yang patut kaupelajari, menyadari perihal perjuangan yang dipinggirkan, kauwujudkan dalam pelukan pertiwi dengan memperhatikan risau perihal tanah.

 

Segala jenis senyum kaurawat pada setiap pertemuan bertema kehilangan, mengurainya menjadi lumbung benih, simbol pemulihan atas pengkhianatan yang kelak mewujud tunas ikhtiar hingga menjadi pesan menundukkan kepala dan membuat lubang pengertian.

 

Batu-batu hitam menjadi bahan serapan untuk melepas gelisah dan merawat iktikad, agar sikap tak jatuh dalam derita lebih gelap demi menghidupi keberkahan semesta.

 

Karanganyar, 2022

Sisi Lain Merdeka

ketika negara dijajah pelancong

yang bilang akan memberi roti

beberapa pejuang tidak menyadari

ada satu peluru melubangi cita-cita

 

di waktu-waktu setelahnya

negara gemar membuat aturan

perihal pencarian relawan

untuk menanggung segala tuntutan

 

di cerita lain cucu petani resah

mengapa orang-orang lupa dasar negara

sementara petani sedang mengisi

kemerdekaan dengan tangisan

 

ular-ular tak lagi membelit tikus

ia lebih suka keluar dari gua

berdiam diri di kulit-kulit pemberani

ada yang bilang itu bermakna ganda

akibat munculnya kata merdeka

 

saat petani tak bisa menanam padi

tikus-tikus terus bergerak

sembari menghafal relasi

guna dipakai titik temu

untuk menyelamatkan diri

 

Karanganyar, 2022

YUDITEHA

Pendiri Komunitas Kamar Kata. Buku puisi terbarunya Kamus Kecil untuk Pendosa (2022).

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: