alexametrics

Sajak Adhimas Prasetyo

14 Maret 2021, 14:01:04 WIB

Empat Catatan bagi Kota yang Murung

1/

Telah berkali-kali kau coba menata kenangan

pada tiap sudut kota ini, meski akhirnya kau

cuma menyusun rapi kehampaan

demi kehampaan yang rapuh.

2/

Dari kota ini kau belajar untuk bisa

membenci apa pun. Kau membenci

akhir pekan, perayaan-perayaan,

dan dirimu yang membenci kota ini.

 

3/

Seperti musik jazz yang asing

jazz yang berbicara sendirian,

bagimu kota ini tak lebih

sekadar latar untuk setiap

percakapan yang melelahkan.

4/

Di kota ini, kau selalu membayangkan

dirimu pada akhir sebuah film murahan:

saat kau mengira gerimis telah jatuh,

namun sebentar kemudian kau sadar,

titik-titik itu cuma nama-nama

yang naik ke langit.

Kau dapati dirimu mencari nama sendiri.

Kau dapati dirimu menerka-nerka,

adakah seseorang yang juga

mencari namamu.

2019


Berkendara Malam Hari

Sambil membayangkan klip video lagu city pop

dari Someday, Tatsuro Yamashita

kota berdenyut lembut, sementara gelap

selalu mencuri-curi celah

untuk bisa merebah pada tiap sudut jalan

juga dadamu.

Dalam perjalanan yang melelahkan ini

tibalah satu ketika,

kau membayangkan dirimu menjadi protagonis

pada bagian akhir

dari sepotong kisah picisan.

Kau mulai mendengar

suaramu terus membaca ulang

segala ingatan pahit

dari lembar-lembar hari yang terlewat.

Telah lima-enam-tujuh

kilometer kau tempuh, dan sebilangan kilometer

terus bertambah.

Sementara gedung-gedung rendah,

barisan lampu jalanan,

juga harapan-harapan yang kekanakan

satu-satu berlarian

meninggalkanmu, tanpa ucapan perpisahan.

Kau tak benar-benar tahu,

siapa yang akhirnya tinggal

dan siapa yang sebenarnya meninggalkan.

Kau cuma tahu, satu hari nanti

seseorang akan menyelamatkanmu

lagi.

2020


Sebilangan Memori pada Pagi yang Sentimental

Masih sepagi ini, kau bangun

sekian menit lebih awal

dari dering pertama jam beker.

Kau begitu membenci dering itu,

sama dengan membenci

nada panggil telepon genggammu.

Kau sendiri tak tahu

sejak kapan kecemasan

mengikatmu begini likat.

Pikiranmu mengapung

sebelum hinggap bertengger

pada satu ingatan pahit

ke ingatan pahit lain.

Sebentar kemudian,

kau tiba-tiba teringat

seberapa fragmen

sajak Emily Dickinson.

Kau pernah berjanji

akan menuntaskan

segala bentuk kesakitan

pada usia sebelum lima lima,

sebelum kau sepenuhnya

bisa menerima

juga berterima kasih.

Masih sepagi ini,

sebelum dering pertama beker

benar berbunyi,

kau sudah merasa sakit

sekali lagi.

2020


ADHIMAS PRASETYO

Menulis dan membuat ilustrasi. Saat ini sedang menempuh pendidikan magister di Universitas Gadjah Mada. Karya-karyanya telah dimuat di media cetak dan daring. Buku puisinya adalah Sepersekian Jaz dan Kota yang Murung (Penerbit Buruan, 2020).

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads