alap-alap as pelor

13 November 2022, 11:14:28 WIB

candi dan batu prasasti itu menertawakan kalian

 

’’kami datang merayah belantara wonosalam

dan berhimpun dalam komando pasukan hayam wuruk

dan sebulan kemudian, di bawah langit cemerlang,

kami rayakan pergantian tahun dengan sorak kemenangan

di segitiga trawas, kutorejo, dan pacet’’

 

kau sangka tuah nama itu, tapi kau keliru, kau akan tahu kau keliru

 

’’12 februari 1949, tuah berubah tulah

separo dari tiga batalyon kami berakhir sebagai bangkai

dalam upaya mengarungi kali porong

dan peleton berisi 30 anak muda brangasan ini

mesti mengumpet di perbukitan selatan”

 

sesungguhnya kau mati sebagai sisa majapahit

dan dibangkitkan sebagai kukila kecil,

kukila yang ada, benar-benar ada

(dan bukan desas-desus belaka)

 

’’alap-alap, kami sekeropok alap-alap,

kami terbang lajak di ketinggian, dan menyahuti mangsa,

maka begitulah kami sergap pemilik pabrik gula, dua tentara

brigade mobil belanda, dan satu jeep milik saudagar china,

dan karena kami alap-alap, kami sanggup melating hingga sidoarjo,

ke tempat di mana tiga batalyon dalam komando hayam wuruk

gagal menembus”

 

dan alap-alap itu, as pelor,

adalah yang memaksa orang-orang eropa

untuk menyungguhkan kedaulatan republik di kota kecil itu

setelah perundingan yang tidak menguntungkan,

 

alap-alap itu, bukan sesuatu yang berasal dari

remah-remah kebesaran majapahit

kucing hitam

3 februari 1949, dini hari mengeras dan memanjang di kediristraat, dentum ledakan yang menggigil,

lalu gedoran pintu, lalu orang-orang yang menyaru kucing –300 jumlahnya– memerintahkan para

penghuni keluar

 

mereka datang dari lorong-lorong gelap pasar kliwon

 

seorang china bertanya ada apa, tapi tak ada waktu menjawab, fajar digegaskan semburat merah

yang bukan berasal dari terbitnya mentari, melainkan nyala api, juga kemarahan

***

ia belum pernah ke jakarta, atau jogjakarta, ia belum pernah bertemu soekarno, hatta,

soedirman, atau nasution

dan sore itu, sebelum dini hari nanti ia menyulut tumpukan kayu di belakang de zon,

seseorang bertanya, ’’kenapa kau ingin melakukan ini?’’

ia tidak tahu, ia tidak tahu,

ia bahkan tidak tahu apakah ia memang ingin

***

’’empat tahun, ahmad,’’ efendi berkata, ’’empat tahun setelah proklamasi, dan apakah kita

merasakan kemerdekaan itu?’’

 

’’jangan memberi pertanyaan sulit’’

 

’’di mojokerto, semua seperti sama belaka”

’’kita dipimpin orang sendiri, kini, bukan orang-orang eropa, kaum penjajah itu’’

 

’’penjajah bisa berwujud apa saja”

’’jangan menggembosi perjuangan, efendi, jangan’’

 

’’aku hanya mencari alasan untuk menguatkan diri sendiri”

’’kita hanya perlu menunjukkan bahwa republik ini masih ada dan belanda semestinya enyah

selamanya’’

***

pukul 06.00, kucing-kucing tak ada lagi, dan di reruntuhan de zon, moro seneng, juga toko emas

berlian, para pedagang china berkerumun dan menggerutu, ’’kenapa harus toko-toko kita? kenapa

harus? bukankah kita juga pribumi?’’

 

mereka tak tahu, tak jauh dari mereka, seorang pencatat tengah menulis narasi klise: perjuangan

selalu membutuhkan pengorbanan

***

tujuh hari setelahnya, orang-orang berkulit putih datang ke balong cok

’’kami mencari gerombolan kucing hitam’’

 

dan penduduk menunjuk seekor kucing kampung yang kurus dan korengan, dan para penanya

membalas dengan serentetan tembakan

 

ketika hari berakhir, lima belas orang, termasuk ahmad dan efendi, digelandang ke surabaya,

sedang di balong cok, dua penyaru kucing terkapar dengan dada berlubang

 

di jogjakarta, soekarno-hatta sedang mandi air hangat yang nyaman

pak ketupat

 

untuk status facebook-nya yang terakhir, tia menulis: sebab tak ada

pak ketupat di sini

 

ia pandangi linimasa lama sekali, rentetan unggahan tautan, foto-foto editan,

kalimat-kalimat pembenaran

 

seperti ada yang memanggil-manggilnya, dari lorong

masa lampau yang jauh, yang ia temukan dari sebuah

buku harian

 

ia ingin sejulang panggung di tengah alun-alun

dan seseorang yang membaca catatan dengan lantang

 

ia bayangkan tahun-tahun awal setelah proklamasi

dan ribuan pengungsi dari surabaya membanjiri mojokerto:

anak-anak, perempuan, laki-laki jompo

 

’’dan sejumlah pemuda pengecut,’’ ia mengeluh

 

seharusnya mereka ditembak, seperti lazimnya

pengkhianat hari itu, namun mereka selicin

belut, dan lidah mereka bercabang, dan mereka

acap berkata: kami tidak kabur dari palagan, kami

menyampaikan kabar pada para pengungsi

 

sesungguhnya, mereka membawa kabar dusta,

menambah atau mengurangi, seperti lazimnya

desas-desus

 

tapi di mojokerto, berdiri di atas panggung tinggi

di tengah alun-alun, pak ketupat menjelma nabi

yang meluruskan segala berita bias dengan

selembar kertas dari jawatan penerangan

 

tia menutup facebook-nya

’’sebab tak ada pak ketupat di sini’’

DADANG ARI MURTONO

Lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), Cara Kerja Ingatan (novel, 2020), Sapi dan Hantu (kumpulan puisi, 2022), serta Cerita dari Brang Wetan (kumpulan cerpen, 2022). Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai Buku Puisi Terbaik Indonesia 2019. Sapi dan Hantu mendapat juara III Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2021.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads