alexametrics

Sajak Rudiana Ade Ginanjar

12 Desember 2021, 09:32:34 WIB

Syahdan Sebuah Dusun

1.

Bentang halimun

pada jam-jam lemah,

mulai terkuak satu demi satu.

Berikan rusuk terbaik

dari dia yang melayangkan seekor merpati

ke langit. Di hutan dan pepadang

di kemudian hari terbaca:

zaman dari zaman,

anak-anak waktu dari sungai waktu,

kenangan dan esok,

pemandian suci dan pertunjukkan mimpi,

pengembara pemanggul taklimat

ke musim petik. Orang-orang di semenanjung

menaikkan bahtera ke laut zaman,

membawa sejarah dan silsilah.

Negeri laut dan daratan,

pulau-pulau labuhan.

2.

Dan di tanah rendah, seorang peniup seruling

dengan lengang ladang

membangun senandung gunung.

Tibalah masa kecapi murung

mengulur senar panjang

ke khidmat relung.

Yang menanyakan perihal pagi,

perlahan melucut ladam.

Damai bersahutan di tempat sederhana

di mana lelaki riang menamatkan

jejak juang penyuluh suci.

Lelaki dari kampung abad dua puluh satu.

2019

Para Pemancing di Malam Buta

Para pemancing di malam buta,

bila kelak mereka hidup

dan sungai-sungai berair sepanjang musim:

seakan dua manusia

ditempuhkan nasib dalam kelam.

Mereka berumah di bukit,

di pinggiran kota yang redup,

atau mereka mendapati keluasan alam

adalah atap teduh; mimpi-mimpinya berkeliaran

di bawah permukaan riak hari-hari.

Bak telah ditentukan umur malam

maka tali-temali mencelup diam,

kesabaran ganjil pencari

yang mengentak-entak saat

sekelebat burung terbang menembus pekat.

Aku tidak lagi memiliki waktu

di mana matahari lindap dan bayang hilang,

segala menggantung di bawah rembulan:

tapak-tapak asing ini, perjalanan singkat ini

bersama kecemasan akan fajar

—bahwa sepanjang malam buta berakhir

kail-kail pun terangkat, napas-napas terembus

kantuk-kantuk kian merunduk,

dan tertampung mata kebeningan

dalam keranjang nasibnya.

2018

Suatu Hari Hujan Turun dengan Rumit

Suatu hari hujan turun dengan rumit.

Aku tidak beranjak dari pembaringan,

bahkan hari pun tidak beranjak dari keremangan.

Perang dari negeri jauh

bak melontarkan amuk di ruang ini.

Kita yang memilih berdiam,

di dalam kabin kedamaian,

melupakan potret buram masa depan.

Hujan timbul dalam ramalan udara,

dalam kerosak dedaunan haru

dan ia berangkat dari ketinggian

seakan serangkum turbulensi sebuah pesawat

terjebak di angkasa. Kita yang berumah di tanah,

menghentikan laju detik dari detak hari sejenak.

Terbangun, betapa senja berpijar kabut

sebatang pohon jeruk nipis terpekur syahdu.

2018

RUDIANA ADE GINANJAR, Lahir di Cilacap, 21 Maret 1985. Manuskrip antologi puisi tunggalnya, antara lain, Salam Bumi (2019). Bergabung di Komunitas Sastra ’’Kutub”, Jogjakarta.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: