alexametrics

Sajak Nur Wahida Idris

10 Oktober 2021, 10:21:59 WIB

Lampahing

tunggu! ia sedang mengasah pisau

karena puisi sudah mengavling dirinya!

itu cambuk dan mawar dari kekasih

di usia 27 bagi 9 tahun perjumpaan

menuntun kuda-kuda bagi pertemuan,

tali kekang, cabang jalan, dan lintasan

hari-hari merumput di Bedahulu

hari-hari dalam sentak tali kekang di Kesambi

tak ada yang lampau dalam sajak

ia hijau berembun dalam puisi

genta di ketukan jari-jari semadimu

di lampit kardus biang kertas-kertas koran

tempat dengung dan gelisah kita rebah

matikan lampu-lampu, kecuali lambungnya! katamu

di lambung itu, pisau-puisi sedang bekerja

menyesap setiap debu pacuan dan naungan

kuda-kuda liar yang meringkik dalam sajak-sajakmu

diammu, ringkik kuda merah-putihku

penggali yang tabah bagi riang kecipak timba

menimpa denyar mata air

meningkahi selisih angin dan debu

simpanan percik api

tendangan sudut kala dan patra anak-anakmu

beginikah rasa mencintai?

bagi kertas-kertas yang belum bekerja belum bermakna

terimalah, dengan puisi ini kutebus jari-jarimu

dari tali anganan sajak dan rinduku, Umbuku

Umbu Landu Paranggi

Juni 2021

Rumah Bedahulu XV/28

di ujung Jalan Bedahulu XV

menjadi bagian dari 9 tahun ditemukan puisi

di jam-jam kelakar di waktu-waktu serius pada nasib

sebuah rumah,

dengan derit pagar besi berkarat pada setiap yang datang dan pergi

adakah yang lebih gelisah dari penghuninya yang nyeri ditinggalkan

mendenging pada sajak dan gerung mobil tua Pak Mangku

satu-satunya tetangga di samping rumah

jika boleh kemanjaan pada sajak diberkahi

siapa yang akan menyambut pelukanmu

rumah telah runtuh

jalan yang dulu berujung tepi sungai

tempat yang selalu menderma tenaga sunyinya

tempat berdiang sajak-sajak merentak

serimbun buah-buah jambu yang jatuh di halaman

kini diramaikan orang lalu-lalang

hening diandaikan

keriuhan nyata dan sepat!

Juni 2021

Bangsal 05

kalian pikir aku bahagia

bercakap-cakap dengan kalian

apa yang layak disibukkan dalam pikiran

apa yang diangankan menetap kekal di inti hati

malangnya kata-kata dalam percakapan sia-sia

malangnya kertas-kertas yang mencatat

kata-kata cecapan dari rasa buatan

berapa pohon tumbang untuk 15 menit berdiri

menanti tepuk tangan di arena yang rusuh pada makna

jika saja ia bukan bernama rahasia

tentu riang-rianglah panggung ini

dengan kibasan baju dan entakan sepatu

dalam pertemuan dan perpisahan yang dibincangkan

tujuan tidaklah penting

bagi sorak-sorai penggembira yang menolak persaksian

dunia tidak peduli dengan riuh keriangan

dunia hanya mau keheningan menjadi musuh bersama

tawa dan sedih hanyalah jual-beli

bagaimana bisa kuabaikan sunyi yang mendesir di setiap gerak

bintang yang ingin dikenali dalam kegelapan

kuasa bagi pertemuan

menjadi rahasia setiap perpisahan

kata tidaklah penting bagi rupa-rupa jenis huruf

kalimat tidaklah perlu bagi kemolekan kata

dan makna berbahaya

jika ia melibatkan diri dalam percakapan ini!

Maret, 2021

NUR WAHIDA IDRIS

Lahir di Loloan Timur, Negara, 28 April 1976. Menyelesaikan studi di Jurusan Kriya/Tekstil Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Buku puisi tunggalnya, Mata Air Akar Pohon (2008). Ia juga mengelola Lembaga Akar Indonesia dan Komunitas Rumahlebah Yogyakarta.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads