alexametrics

Ilham Perang Resolusi Jihad

(Manakib Hari Santri)
8 November 2020, 13:01:38 WIB

Setelah proklamasi 17 Agustus 1945 itu, kita bangsa Indonesia

Memang mulai bisa bernapas lega

Meski tugas mengisi kemerdekaan luas tak terbatas

Sedangkan penjajah Belanda tidak rela bumi Indonesia jadi tanah merdeka

Bumi Indonesia harus tetap berada dalam cengkeraman Belanda si angkara murka

Rakyat Indonesia tak boleh menikmati kebebasan

Sungai panjang yang mengalir ke laut, gunung-gunung yang membiru, serta daun-daun pepohonan harus menyanyi sanjungan kepada penjajah

Karena Belanda masih ingin mencengkeramkan kuku-kukunya kepada Indonesia

Niat busuk Belanda terus direkayasa

Dan Surabaya kota kita tercinta jadi sasaran utama

Maka, dengan membonceng tentara Sekutu

Belanda datang ke Indonesia, ke Surabaya

Mereka mulai menembakkan senjata, menakut-nakuti penduduk Surabaya

Sebagai preman kolonial yang bengis dan tak tahu aturan

Dan Surabaya mulai dicekam kekhawatiran

Rakyat jelata belum tahu mereka harus berbuat apa

Tapi semangat merdeka masih terus menyala

Rakyat Indonesia tidak rela Indonesia kembali dijajah

Indonesia sudah merdeka dan harus tetap merdeka

Saat itulah tampil seorang kiai sepuh, Kiai Hasyim Asy’ari namanya

yang melihat umat dengan kacamata rahmat

merasakan dengan jiwa yang dalam, terasa berat baginya penderitaan umat

Lalu beliau mengumpulkan para kiai dan ulama se-Jawa dan Madura

untuk menyelesaikan masalah umat, masalah bangsa dan masalah NKRI yang baru saja merdeka

Dari kejernihan jiwa beliau yang takarub kepada Allah

yang didukung oleh akal sehat kolektif serta hasil istikharah para ulama

maka pada tanggal 22 Oktober 1945

tercetuslah fatwa Resolusi Jihad

– Bahwa setiap muslim wajib berjuang membela tanah air Indonesia

– Mereka yang gugur di medan perang melawan penjajah adalah Kusuma Bangsa, mati syahid di jalan Allah

Fatwa yang cerdas dan penuh tanggung jawab itu beredar ke seluruh tanah Jawa

Fatwa itu dicatat sebagai mustika jiwa oleh seorang pemuda Surabaya

bernama Bung Tomo, pemuda cerdas berumur 25 tahun, muda dan cerdas

Kemudian anak-anak santri untuk sementara menutup dan menyimpan kitabnya

Para petani lalu meninggalkan sawahnya dan mengasah parangnya

Yang lain menyiapkan bambu runcing sebagai senjata

Tentara menyiapkan senjata walau apa adanya

Untuk menyambut kedatangan musuh dengan iman kepada Allah

dan keberanian yang sempurna

Amboi, jangan lupakan peristiwa itu

10 November 1945 tanggalnya

Tentara Sekutu dan Belanda datang lagi dengan niat memorakporandakan Surabaya

serta hendak menghancurleburkan semangat kemerdekaan

Bung Tomo teriak Allahu Akbar

Teriakan takbir Bung Tomo mengangkasa di langit Surabaya

Arek-arek Suroboyo, para santri, tentara, pedagang kecil, buruh, serta para pemberani

terjun ke medan perang membela kebenaran dengan keberanian yang total

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Surabaya menjadi lautan api

Allahu Akbar

Surabaya banjir darah

Jasad para pahlawan yang ditembus senjata masih bergelimpangan di jalan-jalan raya

Luka-lukanya yang merah mekar laksana bunga mawar

bersanding dengan keikhlasan jiwa mereka yang putih laksana melati

Mawar dan melati

mawar merah

melati putih

mawar melati

merah putih

merah putih

Bendera tanah airku

Allahu Akbar

Merah dan putih

Allahu Akbar

Bendera tanah airku

Dengan Allahu Akbar, peluru musuh dan tank-tank raksasa musuh dianggap kecil

Bom-bom yang berdentuman menjadi kecil

Mitraliur yang melesat ganas jadi kecil

Bahkan maut pun dianggap kecil, semua dianggap kecil

Hanya Allah Yang Mahabesar

Allahu Akbar

Allahu Akbar

Jadilah 10 November menjadi Hari Pahlawan

KH Hasyim Asy’ari menjadi pahlawan

KH Wahab Hasbullah menjadi pahlawan

Bung Tomo yang meneriakkan takbir itu jadi pahlawan

Dan semua yang gugur membela bangsa dan tanah air adalah pahlawan

Nama mereka harum dalam kenangan

Dan harumnya sampai ke perkampungan surga

Maka kemudian dicetuskanlah fatwa Resolusi Jihad

Tanggal 22 Oktober itu ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional

Allahu Akbar!


D. ZAWAWI IMRON

Lahir di Desa Batang-Batang, Kabupaten Sumenep. Pada 2012 dia menerima penghargaan ”The S.E.A Write Award”

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads