alexametrics

Sayyid Ahmad Baidawi

Oleh ROYYAN JULIAN
7 November 2021, 09:22:06 WIB

Sayyid Ahmad Baidawi

“Gusti, kumakamkan keabadian

yang telah mati di lembah ini.”

Syahadat kami kan tumbuh

menjadi biji-biji yang berikrar

kepada pagi:

’’Kami bersaksi tiada Tuhan

selain Yang Tak Diketahui.”

Gerimis gemetar di bibir kemarau

sementara arwah kekekalan

mencari detak jantung-Mu

di kubur paling kapur.

Tandur, tandur, tandur…

Dan lembu-lembu kami

meminang delapan juta enam ratus

empat puluh ribu denyut waktu

sebelum benih itu tanak

di dada kami yang kian retak.

2021

Bahtera Nabi Nuh: Jeffrey Mellefont

Guruh dan gelombang itu mengapung

di langit-langit museum

dan menghantam lambung bahtera

yang tergantung.

’’Bayang perahu ini adalah relikui keabadian

yang pernah ditepis Gilgamesh di tepi Tigris.’’

Di lima ribu kilometer

ke utara dari museum itu

zuriah sang nakhoda

membangkitkan mayat pohon gofir

yang terbaring di perut Ararat.

’’Mari kita taklukkan dimensi kematian.”

Tetapi yang terjaga adalah dingin nan kekal

ketika anak-cucu mereka

bertilam ombak dan berselubung sakal

di laut yang tak bisa dijinakkan

oleh busur perjanjian.

2021

Tarekat Nabi Khidir

Di hadirat sang mursyid

ia didekap baka yang fana.

’’Keabadian hanya mungkin

ketika dikau tak lagi

disentuh hayat dan maut.’’

Suara itu membujur

dari waktu yang bersirip karat

dan ruang yang menjadi amis.

Tetapi kekal adalah sepatah kata

yang pejal dan tak berperasaan.

’’Dan karena itulah

Tuhan terperangkap

dalam kesepian

yang panjang.”

2021

ROYYAN JULIAN, Penulis dan pembaca buku

Editor : Ilham Safutra




Close Ads