alexametrics

Soekarno Bapakku

7 Maret 2021, 11:43:27 WIB

Soekarno Bapakku

Soekarno bapakku,

bangunlah kau dari istirahat panjangmu

perhatikanlah tanah airmu

yang sekarang menjadi tanah airku

tanah air yang pernah engkau menderita,

karena engkau telah memperjuangkan kemerdekaannya

Soekarno bapakku,

engkau memang telah lama wafat

tapi detak detik jantungmu terus melantunkan irama

dan meyakinkan kami

bahwa perjuanganmu tidak sia-sia

Engkau memang manusia

tapi jiwamu laksana malaikat

memancarkan cahaya keemasan,

api nan tak kunjung padam

akan terus berkobar dalam nurani sang garuda

berapa generasi telah lewat

patah tumbuh hilang berganti

sejak zaman Empu Tantular dengan

Sutasomanya sakti dan penuh hikmah kearifan

bahwa dalam warna-warni kita tetap tunggal

dengan keindahan dan cita mulia

Soekarno,

meskipun tantangan dan cobaan datang bertubi- tubi

bumi Tuhan Indonesia dan beribu-ribu pulau

tetap bertahan dengan kehijauannya

bintang-bintang tetap tekun dengan gemerlapannya,

padi-padi menguning melambaikan selamat datang

pada setiap musim apa pun,

semua musim disambut dengan gairah,

walaupun di desa, di bukit, di batas-batas pulau

terhapuslah suara tangisan kesedihan membaur

jadi satu dengan zikir mereka yang panjang dan tidak berujung

Soekarno,

saya tidak mengerti kapan ini berakhir

begitulah pertanyaan demi pertanyaan seterusnya

jawabannya berada dalam jiwa

dalam watak kesetiaan kepada Indonesia

yang lahir dari rahim bumi pertiwi

Soekarno bapakku,

kami terima titipanmu bumi Indonesia

tanah air terindah yang diperjuang dengan darah

dan tak terhitung dengan tetesan air mata

di bawah sumpah untuk berjuang

dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa

Soekarno,

Indonesia adalah kehormatanku, kehormatan kami,

dan kehormatan seluruh bangsa Indonesia

Indonesia Adalah Saraswati

Indonesia adalah saraswati

menunggang angsa menyeberangi laut teduh

di bawah bulan purnama ”bulat perak”

angsa-angsa kecil ikut berbaris di belakangnya

dari jauh bulu-bulu mereka berkilau-kilau putih salju

bayangannya menuding ke bumi

menggaris tegak lurus, menuliskan cinta yang agung,

mengabarkan keperkasaan Indonesia

Indonesia adalah saraswati

tempat ibu menanak ilmu,

membentang dari Sabang sampai Merauke

Indonesia adalah sarawati,

tempat padi tumbuh subur dan berbulir penuh

tempat sungai mengalir deras berair sebening kaca

tempat anak-anak bertanam dan menjaring

akar-akar budaya

lantas menetaskannya dalam tempayan-tempayan

kebermaknaan

di tepian pesisir

anak-anak bersorak-sorai menyambut kedatangan ayah

meluapkan kegembiraan setelah semalam

membasuh muka ”basah air laut”

diterkam ombak, memeluk erat setiap angin sakal

berkali-kali menyeberangi ombak

Saraswati berparas tak berpeluh tersenyum tak berkerut

berbedak sari melati tipis memancarkan Indonesia

berpantun kedamaian abadi

bersumpah palapa

sumpah Gajah Mada: akan melepaskan puasa

jika telah menundukkan seluruh Nusantara,

di bawah kekuasaan Majapahit

”Jika telah mengalahkan Gurun, Seran, Tanjung Pura,

Haru Butuni, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan

Tumasik”

amboi…

sungguh perkawinan saraswati telah melahirkan

anugerah Indonesia baru,

segerombolan elang terbang rendah dari utara

Saraswati berdiri tegak di atas bulan

sesekali menundukkan kepala sambil melambaikan tangan

untuk ribuan elang

Saraswati, aku tak punya sayap untuk terbang mengejarmu

tapi senyummu menebar wangi madu

Nusantara teduh walau jauh di awan lepas

kau payungi kami dengan bayangan rerimbun dedaunan

tak ada hati yang kosong

tak ada jarak yang terbentang walau kita jauh

itulah Indonesia yang sebenarnya

Indonesia yang tanpa darah dan air mata

Indonesia yang mengibarkan Merah Putih di dadanya

Indonesia yang beribu bernama pertiwi

Musim Gugur di Negeri Matahari

Inilah musim gugur

di negeri matahari

suami tak lagi bertaji

istri-istri jadi pewaris dinasti

adalah boneka kampiun

berbaris berebut memanjat tinggi

menari-nari di ujung cemara

menggerus demokrasi yang terluka

karena suami-suami mereka

masih sembunyikan pisau di meja

kekuasaan

inilah musim gugur di negeri matahari

mereka berbaring di langit

bersama jelata

di saat mesin politik sedang diaduk

hanya sekadar menggugurkan

kelamin ketemu kelamin

adalah onani kekuasaan yang

menyeramkan

mencemaskan bagi kemiskinan semakin

menderita


M. ROHANUDIN, direktur utama LPP RRI. Lahir di Sumenep, Madura. Alumnus Universitas Wijaya Putra Surabaya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra




Close Ads