alexametrics

Sajak Isbedy Stiawan Z.S.

7 Februari 2021, 12:32:13 WIB

Dalam Genggaman

bahkan di tangan Isa

burung mati kembali

bersiul; kaudengar

tausiahnya?

setiap yang mati

tak selalu mati

di tanganmu

ia hidup

dalam hati

dalam genggaman

burung itu kembali

mengepak di luar sana

–luasnya bumi–

menggaris nama-nama

menulis tak terbaca

di tangan Almasih

bahkan burung tak bernyawa

hidup oleh genggaman kasih

dalam genggaman-Nya

ditumbuhkan lagi sayap

bercahaya-cahaya

kilatnya

akan jadi getar

:

mengetuk pintu

2019–2020

Tak Ada Kabar Pagi Ini

tak ada kabar pagi ini

selain cerita kematian

kemarin dan kemarin lagi

:

enam burung lepas terbang

menuju langit, dan kelak

akan kembali menjadi ababil

di paruhnya batu-batu api

menghunjami bumi

:

seorang guru berjalan dari

sepi ke sunyi. menuju tempat

tersunyi. sebagai tanah liat

pulang pada cahaya taman

:

dan aku belum pula beranjak

dari kursi depan jendela rumah

daun-daun di halaman basah

seusai junub fajar tadi

”ini Desember musim hujan,

kekasih…”

tapi, orang-orang telah siap

mengguyur tubuhku seluruh

sungai-sungai dingin menungguku

untuk mengalirkan ke kualamu

KA, 11 Desember 2020

Ibu

ibu,

aku meminjam sayapmu pada malam itu

saat kau tahajud di kamar warna remang

aku harap dengan malam dan fajarmu

setiap langkah kuayun akan selalu menujumu;

surga yang terlihat sejak di telapakmu

kelak akan membawaku ke rumah Adam

ibu,

jika aku tak lagi menemuimu untuk rebah

mencium pangkuanmu, sudah kuhafal

surat-surat yang kaubacakan setiap aku

hendak tidur –kau dongengkan tentang

kebaikan maupun muruah yang mesti

dijaga habis-habisan, sebab, katamu ibu,

di bumi tak kuasa menjaga apalagi di surga

kini ibu,

izinkan aku mendahuluimu ke surga

aku sudah meminjam sayapmu

sudah kubaca surat-suratmu

aku, anak lanangmu

yang pergi di pagi buta itu

dan tak sempat mengembalikan

sayapmu, lupa meletakkan

kembali suratmu

anak lanangmu

yang mati di jalan lengang

kala malam yang beruban

2020


ISBEDY STIAWAN Z.S.

Lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan sampai kini masih menetap di kota kelahirannya. Ia menulis puisi, cerpen, dan esai, juga karya jurnalistik. Buku puisinya Kini Aku Sudah Jadi Batu! masuk 5 besar Badan Pengembangan Bahasa Kemendikbud (2020) dan Tausiyah Ibu masuk 25 nomine Sayembara Buku Puisi 2020 Yayasan Hari Puisi Indonesia.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads