Kanjuruhan

4 Desember 2022, 08:16:28 WIB

Kanjuruhan

 

Apa yang bisa kita pahami

dari malam yang runtuh dan patah

mungkin esoknya benih pecah

dan lusa tunas mengintip

di pagi terbit

 

Seolah bisa kita duga

bahwa rasa sakit akan menyebar

maka sejak itu, di pucuk-pucuk tiang

duka terus berkibar

tiap kali peluit melengking panjang

sebelum pertandingan

 

Dan setiap yang berhenti dari lewat

memandang hening ke arah yang hancur itu

akan bergumam: ’’yang lebur telah ditinggikan

yang remang telah disucikan”

 

Lalu dari arah lain, bersijingkat angin

berulang datang, di awal petang

menyamarkan paras cemas

dengan harum kembang-kembang

 

Mengingatkan paras para orang tua

saat melepas lari anak-anaknya

dengan peluh tak henti mengitari tanah lapang

 

Ampenan, Oktober 2022

Di Atas Kapal Mutiara Timur 1

 

1/

Menuju ke timur

hamparan laut, burung laut

dan pagi yang cerlang

kibaran bendera di pucuk tiang

di atas buritan

serupa kibaran kain jarit ibu

di sana tersimpan; warna darah dan air ketuban

saat rembes memberi rasa mulas, cemas

dan nyeri yang membelah

sebelum tangis pertamaku pecah

 

2/

Melewati malam

laut serupa gurun luas hitam

menggentarkan jantung para kafilah

dari delapan arah

selepas ransum malam

kuambil tisu dari dalam tasku

kuusap sisa makanan di sudut mulut

dan kotoran di mata kiri anakku

mata yang sejernih air sungai

di belakang rumah buyutnya itu

menampung gelombang pertanyaan

: teduh, kukuh, meninggi, melandai

menyegarkan peluh, menyabarkan perangai

 

3/

Memandang dari laut

langit seperti lengkung kerudung

membentang memberi naung

doa-doa menempuh haribaan

dan segala puji, derita dan kesedihan

laut yang menyeberangkan

 

Ampenan, Juni–Oktober 2022

Agustus

 

Agustus tiba memekarkan

kuncup oval kemuning

ketika pagi mengantar

sisa bediding

 

Di dalam kamar, seseorang menyeret langkah

menyentuh sakelar

memadamkan lampu luar

lantas bergumam lirih: ’’cuaca begini, seperti anak

yang tengah rewel atau letih”

 

Ia teringat anaknya yang gemar dibacakan buku

tiap hendak tidur

sambil menguap sang anak bertanya

’’apakah penyair juga mencatat hal-hal yang tak ia dengar?”

 

Sebelum sempat ia menjawab, sang anak miring

ke kiri, terlelap

 

Tentu, itu dua puluh tahun lalu

kini dengan sabit kecil di tangan kirinya

dibukanya pintu samping

dingin seketika menyergap

 

Dimasukinya sepetak pekarangan

sambil jongkok ia bersihkan dengan tangan

dan sabitnya: rumput teki, lateng, meniran, bandotan

ia singkirkan pula daun-daun kering

yang semalam dilepas angin

di atas segundukan tanah yang memendam

induk dan dua anak kucing

yang mati setelah lima hari muntah dan diare

 

Setengah depa darinya, di ujung gundukan itu

sebatang kemuning tegar rimbun

menjatuhkan wangi bertahun-tahun

 

Ampenan, Agustus–Oktober 2022

LAILATUL KIPTIYAH

Lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur. Bermukim di Ampenan, Mataram, NTB. Buku puisinya yang telah terbit, Perginya Seekor Burung (Halindo-Akarpohon, 2020), masuk lima buku puisi pilihan Anugerah Hari Puisi Indonesia 2020.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads