alexametrics

Sajak Dadang Ari Murtono

2 Januari 2022, 11:01:27 WIB

Membuat Tato

Ketika tiba di studio tato

si tukang tato bertanya apa

makna tato yang ingin kubuat.

Dan kukatakan kepadanya

aku hanya ingin membuat tato

karena iseng dan bosan

seperti bertahun-tahun lalu

sewaktu aku membuat tato di Surabaya,

sewaktu aku membuat tato di Mojokerto.

Di Jogja, kata si tukang tato, semua hal bermakna:

Coret-coret tak jelas di atas kanvas, gerak tak beraturan

di panggung teater, kalimat kacau di layar laptop,

bahkan orang berak, bahkan orang merangkak;

karena itu, sampah bisa muncul sebagai seni rupa di ruang pameran,

jalanan menjelma panggung pertunjukan, igauan terbit sebagai puisi,

dan bumbu dapur dipajang dalam biennale.

Di Jogja, semua orang adalah seniman

dan semua hal adalah karya seni.

Semua hal bermakna.

Dan karena itu

ia katakan tak bisa membuat tato untukku

tak peduli berapa banyak aku akan membayarnya.

Seniman hidup dengan makna, katanya

tidak dengan uang.

Lukisan Wajah

Untuk ulang tahunnya, aku memesan lukisan wajah

istriku kepada tetanggaku, seorang pelukis yang sedang

dikejar tagihan kontrak rumah.

Istriku tampak gembira menerima lukisan itu

sebab setelah bertahun-tahun, aku bisa memberinya hadiah

ulang tahun yang bukan sepotong cokelat.

Ia memasang lukisan itu di ruang tamu rumah kontrakan kami

dan kami menghabiskan sore memandanginya.

Dua minggu kemudian, lukisan itu telah menjadi ornamen

yang wajar, yang tak lagi menarik perhatian kami,

dan tak pernah lagi kami pandangi.

Berbulan-bulan kemudian, istriku menemukan banyak sekali kesibukan

dan kerja lembur berulang mengejarnya.

Ia bicara hanya untuk mengeluh pinggang yang linu, tangan

yang pegal, masuk angin, migrain, sakit gigi, dan semacamnya.

Ia tak lagi mengajakku pergi ke kafe seminggu sekali.

Dan ia tak tahu betapa aku kesepian.

Lantas pada suatu hari

setelah aku menenggak sepuluh sachet obat batuk cair

untuk membunuh bosan dan sepi,

aku melihat lukisan itu tersenyum kepadaku,

mendengarnya bicara kepadaku, bercerita hal-hal kecil kepadaku

seperti dulu sekali istriku melakukannya.

Dan sejak itu pula

semua benda dalam rumah bicara kepadaku

piring dan gelas

minyak dan bawang

juga debu dan tai cicak.

Dan setiap kali aku kebingungan hendak menulis

apa

mereka menceritakan kisah-kisah mereka

dan aku hanya perlu mendengarkan,

hanya perlu lebih saksama mendengar.

Pukul Delapan Malam

Pukul delapan malam

dan bulan mati.

Aku menatap langit gelap

dan berpikir

tentang bapakku di Mojokerto

yang sedang menimang cucunya,

ibuku yang masih berdoa setelah salat Isya

untuk kebaikan semua orang kecuali dirinya

ketika aku menatap langit gelap

pukul delapan malam dan bulan mati.

Dan berpikir pula tentang kawan-kawanku

yang sedang menulis novel, yang sedang melukis,

yang sedang berlatih tari,

yang sedang mengerjakan akuntansi,

atau menulis esai sambil minum kopi

ketika aku sedang menatap langit gelap

pada pukul delapan malam dan bulan mati

di Jogja.

Dan berpikir juga

tentang istriku yang belum pulang

mungkin masih menangani seorang pasien

atau sedang bersama entah siapa

di suatu tempat, seseorang yang membuatnya

menolak aku sentuh akhir-akhir ini

ketika aku menatap langit gelap

pada pukul delapan malam dan bulan mati.

Dan berpikir pula tentang seseorang yang mati,

diriku yang mati, diriku yang dulu diingini istriku

pada pukul delapan malam dan bulan mati

ketika aku menatap langit gelap

di Jogja.

DADANG ARI MURTONO, Lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit, antara lain, Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020).

Editor : Ilham Safutra




Close Ads