alexametrics

Ajip Rosidi, Roman, dan Pondok Pesantren

31 Juli 2020, 16:16:22 WIB

JawaPos.com – Sampai akhir hayatnya, sastrawan Ajip Rosidi masih berkeinginan mendirikan pondok pesantren yang akan dia beri nama Nassar. Dia juga sedang mengerjakan sebuah roman.

Sayang, takdir berkehendak lain. Pada Rabu (29/7) sekitar pukul 22.00 suami aktris Nany Wijaya itu mengembuskan napas terakhir di usia 82 tahun.

Oei Hong Djien, pencinta seni, saat ditemui di sela-sela pemakaman kemarin (30/7) mengatakan kagum kepada sosok pengarang puisi Bayangan tersebut. Misalnya tentang keinginan membangun pondok pesantren.

Dia mendengar keinginan tersebut terakhir saat menjenguk pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage itu pada 3 Juli lalu. ’’Dalam hati saya, apa bisa kondisinya begini. Tapi, melihat semangat begitu, saya pun optimistis,’’ jelasnya.

BERDUKA: Nany Wijaya, istri Ajib Rosidi, di sisi makam sang suami kemarin. (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Selain dikenal dengan puisi dan esainya mengenai sastra, Ajip cukup dikenal di kalangan pelukis. ’’Beliau teman baik Popo Iskandar. Saya bisa dapat karya Popo Iskandar yang tidak lazim. Pernah dihadiahi lukisannya Salim,’’ tuturnya.

Putri bungsunya, Titis Nitiswari, juga bercerita tentang karangan terakhir yang belum sempat dia selesaikan. Saat itu kondisi kesehatannya sudah menurun. ’’Titis saya punya ide mau bikin roman, judulnya Menjadi Indonesia,’’ kata Titis yang menirukan perkataan sang bapak.

Waktu itu Ajip sudah tidak mampu mengetik sendiri. Titis-lah yang membantu mengetik untuk karya romannya itu. Titis pula yang membawakan beberapa majalah sebagai bahan riset untuk roman tersebut.

’’Kami membawa beberapa buku untuk dicek sama Bapak. Mau neruskan udah keburu jatuh yang kedua,’’ jelasnya.

BERPULANG: Keluarga besar dan warga mengiri pemakaman Ajib Rosidi di Dusun Pabelan 1, Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, kemarin (30/7). (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Di usia yang tak lagi muda, Ajip masih memiliki gelora yang tinggi mengabaikan tubuhnya yang tak mampu lagi menopang semangat. Serangan jantung dia anggap enteng. Saat terjatuh untuk kali kedua, terjadi pendarahan di otaknya. Selang beberapa lama baru terdeteksi sampai akhirnya obat tak mampu menyelamatkan nyawanya.

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : asa/c7/ttg



Close Ads