alexametrics

Tantangan Seni Pertunjukan Berprotokol Covid-19

30 Juli 2020, 23:09:58 WIB

JawaPos.com – Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) untuk penyelenggaraan kegiatan wisata, ekonomi kreatif, seni dan budaya di masa transisi. SKB itu menjadi rujukan penyelenggaraan kegiatan dengan menyesuaikan situasi di tiap daerah dan bidang.

Di bidang teater, Asosisasi Seniman Teater Indonesia membagi informasi seputar panduan kerja dengan protokol kesehatan untuk para pekerja seni pertunjukan seperti teater. ’’Kami merujuk pada SKB dan menyesuaikan dengan alur kerja yang sering dilakukan dalam sebuah produksi karya,’’ kata Almanzo Konoralma, salah satu anggota Asosisasi Seniman Teater Indonesia. Menurutnya, panduan itu disebarkan dalam bentuk digital melalui media sosial.

Panduan itu berisi gambar dan grafis informasi yang jelas. Dari kamar tata rias hingga ruang permainan masing-masing bidang produksi dijelaskan seperti apa protokol Covid-19 dapat diterapkan. Di ruang tata rias, para pemain sebisa mungkin merias diri sendiri sesuai peran dengan piranti rias masing-masing. Bila tak memungkinan, ruang rias wajib menggunakan peralatan dan bahan merias yang tak dipakai bersama.

Di atas panggung, melibatkan penonton untuk naik ke atas pentas harus dihindari. Lalu, semua properti dan piranti pertunjukan juga harus disemprot disinfektan. Selain itu, semua pemain dan awak produksi yang terlibat juga mesti telah mengikuti tes rapid sebelum bekerja. Protokol lain yang harus diikuti adalah penjarakan sosial. Di belakang panggung atau kamera, semua pemain dan awak produksi wajib mengenakan masker dan menjaga jarak.

Penjarakan dalam sebuah produksi teater di masa transisi ini sama sekali bukan hal mudah. Bayangkan bila naskah menghendaki dua karakter duduk berduaan dalam suasana roman yang intim namun ada jarak di antara mereka. ’’Atau bagaimana jika ada adegan pernikahan dengan banyak tamu namun protokol penjarakan harus berlaku? Tidak mudah,’’ kata Almanzo.

Mengantisipasi kemungkinan seperti itu, penyesuaian naskah sebelum dikerjakan dapat menjadi alternatif solusi. Hal serupa juga bisa diterapkan oleh seorang koreografer yang menyiapkan karyanya untuk disajikan di masa transisi ini. Bagi Manzo, ketatnya protokol Covid-19 menjadi tantangan bagi para seniman pertunjukan untuk bisa tetap berkarya.

Protokol Covid-19 yang harus masih diterapkan dalam produksi seni pertunjukan memang tak mudah. Melakukan penyesuaian naskah, melibatkan jumlah pemain dan awak produksi sesedikit mungkin, dan dikerjakan dari ruang privat dengan orientasi pentas daring lantas muncul sebagai bentuk respons para pelaku teater. Salah satu kelompok teater yang menerapkan siasat ini adalah Kalateatra di Malang. Sejak Covid-19 melanda, mereka fokus dengan nomor-nomor ringkas yang melibatkan pemain tak lebih dari dua orang.

’’Pengerjaannya juga tidak semudah yang dibayangkan,’’ kata Anwari dari Kalateatra. Menurutnya, penerapan protokol Covid-19 tidak bisa dihindari. Di sisi lain, teknis pelaksaannya di lapangan sangat bergantung kedisiplinan masing-masing orang yang terlibat. (tir)

 

 

 

 

 

 

 

Editor : tir



Close Ads