alexametrics

Selamat Jalan, Ajip Rosidi

30 Juli 2020, 02:48:25 WIB

JawaPos.com – Belum genap sebulan, dunia literasi Indonesia kembali berduka. Ajip Rosidi meninggal pada 29 Juli 2020 di Magelang. Ajip adalah penulis lintas zaman. Setidaknya ada 326 karya yang pernah mendiang lahirkan sejak mulai muncul di banyak media pada 1952. Mendiang adalah penulis besar yang menghasilkan beragam karya literasi.

Ajip Rosidi mulai menulis sejak belia. Tulisannya dimuat media saat berusia 14 tahun. Lahir di Majalengka pada 31 Januari 1938, mendiang tumbuh sebagai penulis serba bisa. Puisi, cerita pendek, novel hingga reportase dan kritik almarhum kerjakan. Di luar itu, menerjemahkan karya sastra ke dalam bahasa Sunda adalah aktivitas almarhum yang juga telah dikerjakan sejak muda. Mendiang juga pernah menerjemahkan karya sastrawan Jepang peraih nobel sastra 1968, Yasunari Kawabata.

Sebagai wartawan, almarhum berkawan dengan banyak orang yang telah pergi mendahuluinya. Buku Mengenang Hidup Orang Lain Sejumlah Obituari yang berisi kumpulan tulisan almarhum setidaknya menunjukkan luasnya jejaring mendiang. Ada 50 obituari dalam buku itu. Tak hanya nama-nama penting di sastra Indonesia, namun juga seni rupa, teater, hingga aktivis partai politik. Ada Pramoedya Ananta Toer yang dikenalnya sejak 1947, mualaf Rendra, hingga Sobron Aidit adalah beberapa nama besar dalam kumpulan obituari itu.

Sebagai sastrawan, komitmen mendiang terhadap sastra di Indonesia sungguh besar. Anugerah Sastra Rancage yang diselenggarakan tiap tahun sejak 1989 yang mendiang inisasi menjadi forum penting untuk mengetahui dinamika karya sastra daerah di Indonesia. Mulanya anugerah itu hanya diberikan untuk kategori karya sastra Sunda. Kini, Rancage juga diberikan untuk karya sastra Jawa, Bali, dan Lampung. Penghargaan ini diberikan kepada buku terbaik dan individu yang dinilai berjasa dalam pengembangan sastra daerah.

Sebagai seniman, Ajip adalah sosok yang mumpuni. Pada 1972-1981, almarhum dipercaya menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta. Di masa-masa ini Taman Ismail Marzuki mencapai masa keemasan yang melahirkan banyak seniman besar. Putu Wijaya, Sardono W. Kusumo, dan Nano Riantiarno adalah beberapa nama yang baru mulai muncul di TIM pada periode tersebut. Kehidupan seni di Cikini masa itu sangat dinamis. Pada masa ini Ajip produktif menciptakan karya sastra yang menginspirasi banyak orang.

Seniman Butet Kartaredjasa menjadi salah satu orang yang mengakui karya Ajip Rosidi ikut mempengaruhi prosesnya menekuni seni. ”Terima kasih telah menyebabkan saya mencintai seni sastra melalui bacaan buku-buku terbitan Pustaka Jaya tahun 1970-an,” tulis Butet di akun Facebook miliknya beberapa saat setelah kabar meninggalnya almarhum tersebar.

Ajip meninggal di RSUD Tidar Magelang dalam usia 82 tahun. Almarhum sebelumnya menjalani perawatan selama sepekan terkahir akibat terjatuh di rumah anaknya di Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Dalam keterangan salah satu anak kandungnya, Nundang Rundagi, Ajip harus menjalani operasi karena perdarahan di otak setelah terjatuh. (tir)

 

 

Editor : tir



Close Ads